Petronas Bakal PHK 5.000 Karyawan, Guncangan Besar Industri Migas
Minggu, 08 Juni 2025 - 16:07 WIB
loading...
Petronas mengumumkan akan melakukan PHK terhadap sekitar 10% dari total karyawan. FOTO/Malaysian Reserves
A
A
A
JAKARTA - Perusahaan minyak dan gas nasional Malaysia, Petroliam Nasional Berhad (Petronas), mengumumkan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 10% dari total karyawannya sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran. Langkah ini berarti sekitar 5.000 pegawai akan terdampak, mengingat Petronas saat ini mempekerjakan hampir 50.000 orang.
Keputusan ini disampaikan langsung oleh CEO Petronas, Tengku Muhammad Taufik, dalam konferensi pers, baru-baru ini. Ia menegaskan bahwa restrukturisasi ini merupakan bagian dari strategi "rightsizing" untuk memastikan keberlanjutan dan daya saing perusahaan di tengah dinamika industri energi global yang semakin menantang.
"Ini adalah bagian dari restrukturisasi organisasi yang perlu dilakukan agar perusahaan tetap adaptif dan berdaya tahan dalam menghadapi dinamika pasar energi global yang terus berubah," ujar Tengku Taufik dikutip dari CNA, Minggu (8/5).
Baca Juga: Gelombang PHK Massal di Indonesia Belum Usai, TikTok Shop Bakal Pecat 2.500 Karyawan
Sebagian besar karyawan yang terdampak PHK merupakan pegawai kontrak. Hal ini dikonfirmasi oleh Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang juga menjabat Menteri Keuangan. "Ini sebagian besar melibatkan posisi kontrak," kata Anwar, menanggapi kebijakan efisiensi yang diambil Petronas.
Selain PHK, Petronas juga mengumumkan pembekuan perekrutan karyawan baru hingga akhir 2026, kecuali untuk posisi-posisi krusial yang akan dievaluasi secara khusus. Proses pemberitahuan kepada karyawan terdampak akan dilakukan secara bertahap hingga akhir tahun ini.
Restrukturisasi ini dilakukan di tengah tekanan keuangan yang dihadapi Petronas akibat penurunan harga minyak global. Laba bersih perusahaan tercatat turun lebih dari 30% pada 2024, setelah sebelumnya juga mengalami penurunan sebesar 21% pada tahun sebelumnya. Kondisi ini memaksa Petronas untuk meninjau ulang seluruh operasinya, termasuk aset, proses bisnis, dan sumber daya manusia.
Di tengah kabar PHK massal, Petronas juga dikabarkan sedang mempertimbangkan penjualan aset bisnisnya di Kanada, yang sebelumnya dikenal sebagai Progress Energy Resources Corp. Namun, Tengku Muhammad Taufik membantah bahwa Petronas akan sepenuhnya keluar dari pasar Kanada.
"Kanada adalah bagian penting dari ambisi kami untuk mempertahankan posisi strategis di sektor gas alam cair LNG global," tegasnya.
Baca Juga: Industri Rokok Terjepit Regulasi, Jutaan Pekerja Terancam PHK
Transformasi strategis yang diambil Petronas ini diharapkan dapat menempatkan perusahaan pada posisi yang lebih baik untuk bersaing dan bertahan di tengah perubahan lanskap industri migas dunia. Meski demikian, langkah efisiensi ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi ribuan pegawai yang terdampak dan menjadi sinyal tantangan besar di sektor energi global.
Langkah Petronas ini juga mencerminkan tekanan yang dihadapi banyak perusahaan migas dunia, yang kini harus beradaptasi dengan harga minyak yang fluktuatif, transisi energi, dan tuntutan efisiensi operasional.
Keputusan ini disampaikan langsung oleh CEO Petronas, Tengku Muhammad Taufik, dalam konferensi pers, baru-baru ini. Ia menegaskan bahwa restrukturisasi ini merupakan bagian dari strategi "rightsizing" untuk memastikan keberlanjutan dan daya saing perusahaan di tengah dinamika industri energi global yang semakin menantang.
"Ini adalah bagian dari restrukturisasi organisasi yang perlu dilakukan agar perusahaan tetap adaptif dan berdaya tahan dalam menghadapi dinamika pasar energi global yang terus berubah," ujar Tengku Taufik dikutip dari CNA, Minggu (8/5).
Baca Juga: Gelombang PHK Massal di Indonesia Belum Usai, TikTok Shop Bakal Pecat 2.500 Karyawan
Sebagian besar karyawan yang terdampak PHK merupakan pegawai kontrak. Hal ini dikonfirmasi oleh Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang juga menjabat Menteri Keuangan. "Ini sebagian besar melibatkan posisi kontrak," kata Anwar, menanggapi kebijakan efisiensi yang diambil Petronas.
Selain PHK, Petronas juga mengumumkan pembekuan perekrutan karyawan baru hingga akhir 2026, kecuali untuk posisi-posisi krusial yang akan dievaluasi secara khusus. Proses pemberitahuan kepada karyawan terdampak akan dilakukan secara bertahap hingga akhir tahun ini.
Restrukturisasi ini dilakukan di tengah tekanan keuangan yang dihadapi Petronas akibat penurunan harga minyak global. Laba bersih perusahaan tercatat turun lebih dari 30% pada 2024, setelah sebelumnya juga mengalami penurunan sebesar 21% pada tahun sebelumnya. Kondisi ini memaksa Petronas untuk meninjau ulang seluruh operasinya, termasuk aset, proses bisnis, dan sumber daya manusia.
Di tengah kabar PHK massal, Petronas juga dikabarkan sedang mempertimbangkan penjualan aset bisnisnya di Kanada, yang sebelumnya dikenal sebagai Progress Energy Resources Corp. Namun, Tengku Muhammad Taufik membantah bahwa Petronas akan sepenuhnya keluar dari pasar Kanada.
"Kanada adalah bagian penting dari ambisi kami untuk mempertahankan posisi strategis di sektor gas alam cair LNG global," tegasnya.
Baca Juga: Industri Rokok Terjepit Regulasi, Jutaan Pekerja Terancam PHK
Transformasi strategis yang diambil Petronas ini diharapkan dapat menempatkan perusahaan pada posisi yang lebih baik untuk bersaing dan bertahan di tengah perubahan lanskap industri migas dunia. Meski demikian, langkah efisiensi ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi ribuan pegawai yang terdampak dan menjadi sinyal tantangan besar di sektor energi global.
Langkah Petronas ini juga mencerminkan tekanan yang dihadapi banyak perusahaan migas dunia, yang kini harus beradaptasi dengan harga minyak yang fluktuatif, transisi energi, dan tuntutan efisiensi operasional.
(nng)
Lihat Juga :