Kabar Baik Datang dari Perang Dagang AS dan China, Begini Hasil Pertemuan London
Rabu, 11 Juni 2025 - 15:50 WIB
loading...
A
A
A
"Setelah para presiden menyetujuinya, kami kemudian akan berusaha untuk melaksanakannya," tambahnya.
Putaran negosiasi baru ini mengikuti percakapan telepon antara Donald Trump dan pemimpin China Xi Jinping minggu lalu yang disebut Presiden AS sebagai "dialog yang sangat baik."
"Kedua belah pihak, pada prinsipnya, telah mencapai kerangka untuk melaksanakan konsensus yang dicapai oleh kedua kepala negara selama percakapan via telepon pada 5 Juni dan konsensus yang dicapai pada pertemuan di Jenewa," kata Wakil Menteri Perdagangan China, Li Chenggang.
Ketika Trump mengumumkan tarif impor tinggi untuk sejumlah negara pada awal tahun ini, China adalah yang paling terpukul. Beijing merespons dengan tarif yang lebih tinggi pada impor AS, dan ini memicu perang taring antara keduanya dengan puncaknya di level 145%.
Pada bulan Mei, pembicaraan yang diadakan di Swiss menghasilkan gencatan senjata sementara yang disebut Trump sebagai "reset total". Ia menurunkan, tarif AS pada produk-produk Cina menjadi 30%, sementara Beijing mengurangi tarif pada impor AS menjadi 10% dan berjanji untuk mengangkat hambatan pada ekspor mineral kritis.
Ia memberikan kedua belah pihak tenggat waktu selama 90 hari untuk mencoba mencapai kesepakatan perdagangan. Namun, AS dan China sejak itu mengklaim adanya pelanggaran terhadap janji non-tarif. Perwakilan Perdagangan AS, Jamieson Greer mengatakan, bahwa China telah gagal mencabut pembatasan pada ekspor magnet tanah jarang.
Putaran negosiasi baru ini mengikuti percakapan telepon antara Donald Trump dan pemimpin China Xi Jinping minggu lalu yang disebut Presiden AS sebagai "dialog yang sangat baik."
"Kedua belah pihak, pada prinsipnya, telah mencapai kerangka untuk melaksanakan konsensus yang dicapai oleh kedua kepala negara selama percakapan via telepon pada 5 Juni dan konsensus yang dicapai pada pertemuan di Jenewa," kata Wakil Menteri Perdagangan China, Li Chenggang.
Ketika Trump mengumumkan tarif impor tinggi untuk sejumlah negara pada awal tahun ini, China adalah yang paling terpukul. Beijing merespons dengan tarif yang lebih tinggi pada impor AS, dan ini memicu perang taring antara keduanya dengan puncaknya di level 145%.
Pada bulan Mei, pembicaraan yang diadakan di Swiss menghasilkan gencatan senjata sementara yang disebut Trump sebagai "reset total". Ia menurunkan, tarif AS pada produk-produk Cina menjadi 30%, sementara Beijing mengurangi tarif pada impor AS menjadi 10% dan berjanji untuk mengangkat hambatan pada ekspor mineral kritis.
Ia memberikan kedua belah pihak tenggat waktu selama 90 hari untuk mencoba mencapai kesepakatan perdagangan. Namun, AS dan China sejak itu mengklaim adanya pelanggaran terhadap janji non-tarif. Perwakilan Perdagangan AS, Jamieson Greer mengatakan, bahwa China telah gagal mencabut pembatasan pada ekspor magnet tanah jarang.
Lihat Juga :