Kabar Baik Datang dari Perang Dagang AS dan China, Begini Hasil Pertemuan London

Rabu, 11 Juni 2025 - 15:50 WIB
loading...
Kabar Baik Datang dari...
Amerika Serikat atau AS dan China menyepakati secara prinsip tentang kerangka kerja untuk mengurangi ketegangan perang dagang antara dua ekonomi terbesar di dunia. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Amerika Serikat atau AS dan China menyepakati secara prinsip tentang kerangka kerja untuk mengurangi ketegangan perang dagang antara dua ekonomi terbesar di dunia. Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick mengatakan, kesepakatan tersebut seharusnya menghasilkan penyelesaian terhadap pembatasan pada mineral langka tanah jarang dan magnet.

Kedua belah pihak mengatakan, mereka saat ini akan membawa rencana tersebut kepada presiden mereka yakni Donald Trump dan Xi Jinping untuk disetujui. Pengumuman tersebut muncul setelah dua hari negosiasi di London antara pejabat tinggi dari Beijing dan Washington.

Ekspor mineral tanah jarang dari China yang memainkan peran penting dalam sektor teknologi modern, menjadi agenda utama dalam pertemuan tersebut. Bulan lalu, Washington dan Beijing sepakat untuk menjalankan gencatan senjata sementara terkait tarif perdagangan.

Baca Juga: China Tutup Keran Ekspor Mineral Langka, AS Panik Cari Pasokan Alternatif

Akan tetapi belakangan, masing-masing negara menuduh satu sama lain melanggar kesepakatan. Amerika Serikat telah mengatakan, bahwa China lambat dalam melepas ekspor logam tanah jarang dan magnet yang sangat penting untuk memproduksi segalanya mulai dari smartphone sampai kendaraan listrik.

Sementara itu Washington telah membatasi akses China terhadap barang-barang AS seperti semikonduktor dan teknologi terkait lainnya yang terhubung dengan kecerdasan buatan (AI). "Kami telah mencapai kerangka untuk melaksanakan konsensus Jenewa," kata Lutnick kepada wartawan seperti dilansir BBC.

"Setelah para presiden menyetujuinya, kami kemudian akan berusaha untuk melaksanakannya," tambahnya.

Putaran negosiasi baru ini mengikuti percakapan telepon antara Donald Trump dan pemimpin China Xi Jinping minggu lalu yang disebut Presiden AS sebagai "dialog yang sangat baik."

"Kedua belah pihak, pada prinsipnya, telah mencapai kerangka untuk melaksanakan konsensus yang dicapai oleh kedua kepala negara selama percakapan via telepon pada 5 Juni dan konsensus yang dicapai pada pertemuan di Jenewa," kata Wakil Menteri Perdagangan China, Li Chenggang.

Ketika Trump mengumumkan tarif impor tinggi untuk sejumlah negara pada awal tahun ini, China adalah yang paling terpukul. Beijing merespons dengan tarif yang lebih tinggi pada impor AS, dan ini memicu perang taring antara keduanya dengan puncaknya di level 145%.

Pada bulan Mei, pembicaraan yang diadakan di Swiss menghasilkan gencatan senjata sementara yang disebut Trump sebagai "reset total". Ia menurunkan, tarif AS pada produk-produk Cina menjadi 30%, sementara Beijing mengurangi tarif pada impor AS menjadi 10% dan berjanji untuk mengangkat hambatan pada ekspor mineral kritis.

Ia memberikan kedua belah pihak tenggat waktu selama 90 hari untuk mencoba mencapai kesepakatan perdagangan. Namun, AS dan China sejak itu mengklaim adanya pelanggaran terhadap janji non-tarif. Perwakilan Perdagangan AS, Jamieson Greer mengatakan, bahwa China telah gagal mencabut pembatasan pada ekspor magnet tanah jarang.

Sedangkan Beijing mengatakan, AS melanggar perjanjian tersebut usai tetap menghentikan penjualan perangkat lunak desain chip komputer kepada perusahaan-perusahaan China. Ditambah memperingatkan agar tidak menggunakan chip yang dibuat oleh raksasa teknologi China Huawei dan membatalkan visa untuk pelajar China.

Baca Juga: AS-China Kembali Berunding, Akankah Perang Dagang Berakhir di London?

Menjelang pembicaraan minggu ini, Kementerian Perdagangan China mengatakan pada hari Sabtu bahwa mereka telah menyetujui beberapa aplikasi untuk lisensi ekspor tanah jarang, meskipun tidak memberikan rincian negara mana saja yang terlibat. Trump mengatakan pada hari Jumat bahwa Xi telah setuju untuk memulai kembali perdagangan logam tanah jarang.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Genderang Perang Dagang,...
Genderang Perang Dagang, Trump Ancam Tarif 100% yang Berani Pajaki Google, Meta, dan Apple!
China Desak BRICS Berani...
China Desak BRICS Berani Melawan Barat: Akses Mineral Strategis Bakal Dikunci
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
Gegara Ledakan AI, Industri...
Gegara Ledakan AI, Industri Cip Rp27.000 Triliun Jadi Medan Perang AS-China
Daftar Negara dengan...
Daftar Negara dengan Cadangan Mineral Tanah Jarang Terbesar Dunia, Ada Tetangga Indonesia
China Komitmen Borong...
China Komitmen Borong Produk Pertanian AS Senilai Rp301 Triliun hingga 2028
Bea Cukai Pangkal Pinang...
Bea Cukai Pangkal Pinang Sebut 15 Kontainer PMM Telah Memenuhi Syarat
China Terus Perkuat...
China Terus Perkuat Militer, AS Ajak Sekutu Melawan Beijing
China Blakblakan Targetkan...
China Blakblakan Targetkan Sekutu Utama AS di Asia, Begini Caranya
Rekomendasi
Mendorong Kebijakan...
Mendorong Kebijakan Energi Berkelanjutan Demi Lingkungan dan Kesejahteraan
Apa Itu Playing Victim?...
Apa Itu Playing Victim? Dokter Ungkap Dampaknya pada Hubungan dan Kesehatan Mental
Hong Kong Hadirkan Festival...
Hong Kong Hadirkan Festival Pixar hingga Duel Klub Eropa Musim Panas
Berita Terkini
Citi Indonesia Perkuat...
Citi Indonesia Perkuat Jaringan Global Dorong Pertumbuhan Bisnis
Telkom Akses Dorong...
Telkom Akses Dorong Pemerataan Talenta Digital di Daerah 3T Melalui Program Fiber Academy
MNC Sekuritas Dorong...
MNC Sekuritas Dorong Investor Mulai Investasi Reksa Dana lewat Promo Bonus Unit Penyertaan 100%
Langkah Nyata Pegadaian...
Langkah Nyata Pegadaian dan Universitas Andalas Bangun Masyarakat Tangguh Bencana
Perluas Akses Investasi...
Perluas Akses Investasi bagi Masyarakat, MNC Sekuritas Resmikan Kantor Cabang Bekasi Galaxy
Bakti BCA Kembali Buka...
Bakti BCA Kembali Buka Teacher Tech Championship 2026
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved