Era Kejayaan BRICS dan Dedolarisasi, Lebih 90 Negara Tinggalkan Dolar AS

Jum'at, 13 Juni 2025 - 22:23 WIB
loading...
A A A
Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyatakan, "Dolar digunakan sebagai senjata. Kami benar-benar melihat hal ini. Saya pikir ini adalah kesalahan besar bagi mereka yang melakukan hal ini."

Baca Juga: India Mendesak Pakta Digital BRICS, Bunyikan Lonceng Peringatan Hegemoni AS

Negara-negara yang meninggalkan dolar AS kini dapat melakukan bisnis melalui mekanisme yuan yang menggantikan dolar, sementara infrastruktur alternatif mata uang BRICS terus berkembang di berbagai wilayah.

Negara-negara BRICS hanya mewakili sebagian dari koalisi yang lebih luas. Persemakmuran Negara-Negara Merdeka meliputi Armenia, Azerbaijan, Belarus, Kazakhstan, Kirgistan, Moldova, Rusia, Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Ukraina atau semua negara bekas Uni Soviet yang telah meninggalkan dolar AS dari transaksi mereka.

Negara-negara Afrika seperti Kenya, Ethiopia, dan Nigeria secara aktif mencari kedaulatan moneter melalui berbagai aliansi setelah Tanzania secara resmi melarang dolar AS. Negara-negara yang meninggalkan dolar AS kini menjangkau berbagai benua, dengan anggota blok ASEAN yang mempromosikan kerangka kerja penyelesaian mata uang lokal.

Lebih dari 50 negara secara aktif menggunakan yuan, rupee, dan rubel untuk perdagangan minyak dan pertahanan melalui kemitraan BRICS. Partisipasi Arab Saudi menunjukkan bagaimana negara-negara BRICS yang melakukan dedolarisasi mengubah pasar energi, dengan kerajaan ini menerima yuan untuk penjualan minyak.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Sepekan ke Depan, Rupiah...
Sepekan ke Depan, Rupiah Masih Akan Dibayangi Tekanan
Pasokan Minyak Global...
Pasokan Minyak Global Semakin Ketat, India dan China Berebut Diskon dari Rusia
Pasar Cemas Tarif Baru...
Pasar Cemas Tarif Baru AS, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.963
EskaIasi Laut Merah...
EskaIasi Laut Merah Tekan Rupiah, Dolar AS Ditutup ke Rp17.936 Sore Ini
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
Italia Boncos, Bayar...
Italia Boncos, Bayar Rp500 Juta per Hari Cuma Buat Parkir Superyacht Sitaan Milik Miliarder Rusia
3 Alasan Kuwait dan...
3 Alasan Kuwait dan Bahrain Melancarkan Serangan Udara ke Iran, Lelah dan Capek Jadi Target
Siapa dan Apa yang Mempengaruhi...
Siapa dan Apa yang Mempengaruhi Trump untuk Menghentikan Perang Iran?
2 Hari Tanpa Serangan...
2 Hari Tanpa Serangan AS, Iran: Strategi Kami Adalah Pembalasan
Rekomendasi
Kemenham Kecam Tewasnya...
Kemenham Kecam Tewasnya Terduga Pencuri Ayam di Bali: Dorong Anak Korban Dapat Perlindungan Negara
MUI Tegaskan Dukung...
MUI Tegaskan Dukung Kemerdekaan Palestina: Kita Menolak Terhadap Genosida dan Islamophobia
Tragis! Di Bali, Pria...
Tragis! Di Bali, Pria Tewas Dikeroyok Hanya Gara-gara Dituduh Curi Ayam
Berita Terkini
Musk Peringatkan Bahaya...
Musk Peringatkan Bahaya Utang AS, Pajak Miliarder Tak Akan Cukup Hapus Defisit
Bidik Calon Kreditur,...
Bidik Calon Kreditur, CLIK Propensity Score Bantu Bank Ambil Keputusan Akurat
Babinsa Awasi Pajak...
Babinsa Awasi Pajak Bisa Picu Persepsi Negatif, DPR: Jangan Sampai Dianggap Mata-mata
Redam Perang Dagang...
Redam Perang Dagang dengan AS, China Usul Pangkas Tarif Rp535 triliun
Tarif 3 Jalan Tol Berpotensi...
Tarif 3 Jalan Tol Berpotensi Naik Tahun Ini, Semuanya di Pulau Jawa
PLN EPI Bidik Pasar...
PLN EPI Bidik Pasar Hidrogen Hijau untuk Industri dan Penerbangan
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved