Rp708 Juta per Jam, Inilah Biaya Operasional Jet Tempur F-35 Israel Sekali Terbang
Minggu, 15 Juni 2025 - 13:01 WIB
loading...
Dengan kemampuan siluman yang canggih, jet tempu F-35I Israel yang dipakai menyerang Iran adalah salah satu alat paling kuat dalam persenjataan pertahanan udara Israel. Foto/Dok reuters
A
A
A
JAKARTA - Israel meluncurkan serangan terhadap program nuklir Iran dengan armada jet tempur siluman F-35I di garis depan. Varian dari pesawat tempur Joint Strike Fighter Lightning II buatan AS (Amerika Serikat) yang diproduksi oleh Lockheed Martin itu dikenal sebagai "Adir," yang berarti "Yang perkasa" dalam bahasa Ibrani.
Dengan kemampuan siluman yang canggih dan sistem elektronik yang disesuaikan, F-35I adalah salah satu alat paling kuat dalam persenjataan pertahanan udara Israel. Baca Juga: Iran Telah Tembak Jatuh 3 Jet Tempur Siluman F-35 Israel, 2 Pilot Zionis Ditangkap
Selain serangan Israel terhadap Iran, pesawat tempur Israel juga berhasil menjatuhkan sebuah rudal yang ditembakkan oleh kelompok yang didukung Iran di Yaman pada tahun 2023. Selain itu jet tempur siluman F-35I mencegat ratusan drone, rudal, dan roket yang ditembakkan oleh Iran dalam serangan balasan pada tahun 2024, menurut Angkatan Pertahanan Israel.
Pesawat tempur siluman F-35 Lightning II, yang diproduksi oleh Lockheed Martin, adalah beberapa pesawat militer paling canggih di dunia. F-35 mempunyai desain yang mampu membantu pesawat ini menghindari deteksi radar.
![Rp708 Juta per Jam, Inilah Biaya Operasional Jet Tempur F-35 Israel Sekali Terbang]()
Israel harus merogoh kocek USD44.000 per jam atau setara Rp708 juta (dengan kurs Rp16.092 per USD) sebagai biaya operasional untuk membuat pesawat tempur siluman F-35 sekali terbang, berdasarkan data laporan National Interest pada bulan Januari.
Jet Tempur F-35 memiliki kemampuan siluman dan pemrosesan informasi canggih dan dapat mencapai kecepatan supersonik Mach 1.6, atau 548.8 meter per detik.
CEO Lockheed Martin, Marillyn A. Hewson pada tahun 2018 mengatakan, bahwa pesawat-pesawat tersebut "dapat terbang yang kami sebut sebagai 'mode binatang,' membawa hingga 18.000 pound amunisi internal dan eksternal, dalam kombinasi yang dapat mencakup senjata 5.000 pound."
Pada tahun 2016, Israel menjadi negara pertama selain AS yang memperoleh jet tempur F-35. Israel adalah negara pertama yang memilih model tersebut melalui proses Penjualan Militer Asing AS dan membeli 50 pesawat, menurut Lockheed Martin.
Israel telah melakukan modifikasi signifikan pada pesawat tempur tersebut. Diketahui Israel memproduksi sayap dan sistem perang elektroniknya sendiri untuk F-35I. Selain itu Israel juga mengembangkan versi sendiri dari helm berteknologi tinggi yang menampilkan kecepatan udara pesawat, ketinggian, informasi penargetan, dan statistik penting lainnya langsung di visor pilot.
Angkatan Udara Israel menamai varian F-35I-nya dengan sebutan "Adir," yang berarti "Yang Perkasa" dalam bahasa Ibrani. Angkatan Udara Israel juga menambahkan bintang David bersudut enam ke dalam desain, sebuah simbol Yahudi yang juga muncul di bendera Israel.
Pada tahun 2018, Israel menjadi negara pertama yang menggunakan F-35I dalam pertempuran, kata kepala angkatan udaranya. "Kami menerbangkan F-35 di seluruh Timur Tengah dan telah menyerang dua kali di dua garis depan yang berbeda," kata mantan Kepala Angkatan Udara Israel, Mayor Jenderal Amikam Norkin, dalam sebuah pidato di sebuah pertemuan pemimpin angkatan udara asing, seperti dilaporkan Reuters.
Pada Juli 2023, Israel menambah 25 pesawat Adir dalam armada udara mereka dengan kesepakatan senilai USD3 miliar (Rp48,2 triliun). Kesepakatan tersebut didanai melalui bantuan militer yang diterima Israel dari AS, seperti dilansir Reuters.
Pada bulan November 2023, jet tempur F-35I Adir Israel menjatuhkan sebuah rudal yang ditembakkan oleh kelompok yang didukung Iran di Yaman, menurut IDF.
Sementara itu Iran tampaknya menargetkan pangkalan udara Nevatim, yang menampung armada jet F-35I milik Israel, selama serangan pada April 2024, lalu.
Pada serangan terbaru Juni 2025, Angkatan Udara Israel meluncurkan lebih dari 200 pesawat tempur, termasuk pesawat F-35I, dalam serangan yang menargetkan program nuklir Iran.
Seorang juru bicara IDF mengatakan, bahwa pesawat tempur Israel menyerang lebih dari 100 lokasi di seluruh Iran untuk mencegahnya mengembangkan senjata nuklir, termasuk target militer dan situs pengayaan uranium terbesar di Natanz.
Baca Juga: Pecah Perang Iran vs Israel, Harga Minyak Mentah Bisa Tembus USD90 per Barel
IDF mengungkapkan, bahwa program nuklir Iran mengalami "percepatan secara signifikan" dalam beberapa bulan terakhir dan menyebutnya sebagai "bukti jelas bahwa rezim Iran sedang membangun senjata nuklir."
Sedangkan Iran tetap berpegang teguh bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil. "Ini adalah operasi kritis untuk mencegah ancaman eksistensial dari musuh yang berniat menghancurkan kita," kata Letnan Jenderal Eyal Zamir, Kepala Staf Umum IDF, dalam sebuah pernyataan.
Dengan kemampuan siluman yang canggih dan sistem elektronik yang disesuaikan, F-35I adalah salah satu alat paling kuat dalam persenjataan pertahanan udara Israel. Baca Juga: Iran Telah Tembak Jatuh 3 Jet Tempur Siluman F-35 Israel, 2 Pilot Zionis Ditangkap
Selain serangan Israel terhadap Iran, pesawat tempur Israel juga berhasil menjatuhkan sebuah rudal yang ditembakkan oleh kelompok yang didukung Iran di Yaman pada tahun 2023. Selain itu jet tempur siluman F-35I mencegat ratusan drone, rudal, dan roket yang ditembakkan oleh Iran dalam serangan balasan pada tahun 2024, menurut Angkatan Pertahanan Israel.
Pesawat tempur siluman F-35 Lightning II, yang diproduksi oleh Lockheed Martin, adalah beberapa pesawat militer paling canggih di dunia. F-35 mempunyai desain yang mampu membantu pesawat ini menghindari deteksi radar.

Israel harus merogoh kocek USD44.000 per jam atau setara Rp708 juta (dengan kurs Rp16.092 per USD) sebagai biaya operasional untuk membuat pesawat tempur siluman F-35 sekali terbang, berdasarkan data laporan National Interest pada bulan Januari.
Jet Tempur F-35 memiliki kemampuan siluman dan pemrosesan informasi canggih dan dapat mencapai kecepatan supersonik Mach 1.6, atau 548.8 meter per detik.
CEO Lockheed Martin, Marillyn A. Hewson pada tahun 2018 mengatakan, bahwa pesawat-pesawat tersebut "dapat terbang yang kami sebut sebagai 'mode binatang,' membawa hingga 18.000 pound amunisi internal dan eksternal, dalam kombinasi yang dapat mencakup senjata 5.000 pound."
Pada tahun 2016, Israel menjadi negara pertama selain AS yang memperoleh jet tempur F-35. Israel adalah negara pertama yang memilih model tersebut melalui proses Penjualan Militer Asing AS dan membeli 50 pesawat, menurut Lockheed Martin.
Israel telah melakukan modifikasi signifikan pada pesawat tempur tersebut. Diketahui Israel memproduksi sayap dan sistem perang elektroniknya sendiri untuk F-35I. Selain itu Israel juga mengembangkan versi sendiri dari helm berteknologi tinggi yang menampilkan kecepatan udara pesawat, ketinggian, informasi penargetan, dan statistik penting lainnya langsung di visor pilot.
Angkatan Udara Israel menamai varian F-35I-nya dengan sebutan "Adir," yang berarti "Yang Perkasa" dalam bahasa Ibrani. Angkatan Udara Israel juga menambahkan bintang David bersudut enam ke dalam desain, sebuah simbol Yahudi yang juga muncul di bendera Israel.
Pada tahun 2018, Israel menjadi negara pertama yang menggunakan F-35I dalam pertempuran, kata kepala angkatan udaranya. "Kami menerbangkan F-35 di seluruh Timur Tengah dan telah menyerang dua kali di dua garis depan yang berbeda," kata mantan Kepala Angkatan Udara Israel, Mayor Jenderal Amikam Norkin, dalam sebuah pidato di sebuah pertemuan pemimpin angkatan udara asing, seperti dilaporkan Reuters.
Pada Juli 2023, Israel menambah 25 pesawat Adir dalam armada udara mereka dengan kesepakatan senilai USD3 miliar (Rp48,2 triliun). Kesepakatan tersebut didanai melalui bantuan militer yang diterima Israel dari AS, seperti dilansir Reuters.
Pada bulan November 2023, jet tempur F-35I Adir Israel menjatuhkan sebuah rudal yang ditembakkan oleh kelompok yang didukung Iran di Yaman, menurut IDF.
Sementara itu Iran tampaknya menargetkan pangkalan udara Nevatim, yang menampung armada jet F-35I milik Israel, selama serangan pada April 2024, lalu.
Pada serangan terbaru Juni 2025, Angkatan Udara Israel meluncurkan lebih dari 200 pesawat tempur, termasuk pesawat F-35I, dalam serangan yang menargetkan program nuklir Iran.
Seorang juru bicara IDF mengatakan, bahwa pesawat tempur Israel menyerang lebih dari 100 lokasi di seluruh Iran untuk mencegahnya mengembangkan senjata nuklir, termasuk target militer dan situs pengayaan uranium terbesar di Natanz.
Baca Juga: Pecah Perang Iran vs Israel, Harga Minyak Mentah Bisa Tembus USD90 per Barel
IDF mengungkapkan, bahwa program nuklir Iran mengalami "percepatan secara signifikan" dalam beberapa bulan terakhir dan menyebutnya sebagai "bukti jelas bahwa rezim Iran sedang membangun senjata nuklir."
Sedangkan Iran tetap berpegang teguh bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil. "Ini adalah operasi kritis untuk mencegah ancaman eksistensial dari musuh yang berniat menghancurkan kita," kata Letnan Jenderal Eyal Zamir, Kepala Staf Umum IDF, dalam sebuah pernyataan.
(akr)
Lihat Juga :