Apa yang Terjadi Jika Mata Uang BRICS Berlaku, Mengapa India Khawatir?

Rabu, 18 Juni 2025 - 09:23 WIB
loading...
A A A
Brasil mengambil langkah serupa dengan India. Di bawah kepemimpinan Presiden Lula da Silva, Brasil lebih memilih memperkuat mekanisme pembayaran lintas negara menggunakan mata uang lokal ketimbang membentuk mata uang bersama. Brasil menegaskan, upaya ini bukan untuk menantang dominasi dolar AS, melainkan untuk menekan biaya transaksi dan meningkatkan efisiensi perdagangan antaranggota.

China, di sisi lain, terus memperkuat pengaruhnya di BRICS melalui investasi besar-besaran di negara-negara anggota, khususnya lewat inisiatif Sabuk dan Jalan. China juga memanfaatkan peluang ekspansi BRICS untuk memperluas pasar ekspor dan memperkuat posisi yuan sebagai mata uang internasional. Jika mata uang BRICS terealisasi, China diperkirakan akan menjadi aktor dominan dalam penentuan kebijakan ekonomi kawasan.

Kekhawatiran India semakin besar karena perdagangan antara India dan China selama ini tidak seimbang. Perselisihan perbatasan dan ketidaksepakatan dalam pertukaran barang memperburuk posisi tawar India di hadapan China. India khawatir, keberhasilan mata uang BRICS hanya akan memperbesar dominasi China di kawasan Asia Tenggara dan menekan kepentingan India.

Pemerintah India di bawah Perdana Menteri Narendra Modi secara tegas ingin membendung pengaruh China di sektor keuangan dan tidak ingin Beijing melampaui batas kekuasaannya. India lebih memilih memperkuat hubungan dengan perusahaan dan institusi keuangan Barat sebagai penyeimbang kekuatan di kawasan.

Penolakan India terhadap dedolarisasi dan mata uang BRICS juga dipengaruhi oleh hubungan eratnya dengan Amerika Serikat. Selain memiliki cadangan devisa dalam dolar yang besar, India juga sangat bergantung pada kerja sama ekonomi dengan AS di sektor teknologi, energi, dan pertahanan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pasar Cemas Tarif Baru...
Pasar Cemas Tarif Baru AS, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.963
Bitcoin Kembali ke Level...
Bitcoin Kembali ke Level USD65.500, Didukung Regulasi AS dan Arus ETF
Indonesia Digetok Tarif...
Indonesia Digetok Tarif Baru Trump 10%, Purbaya: Baik Buat Kita
60 Negara Kena Getok...
60 Negara Kena Getok Tarif Kerja Paksa AS 10-12,5%, Dedengkot BRICS Bakal Balik Melawan
Trump Berlakukan Tarif...
Trump Berlakukan Tarif Impor Baru secara Global, Indonesia Kena 10%
Kuasai 25% Kekayaan...
Kuasai 25% Kekayaan Miliarder AS: 144 Imigran Terkaya Pecahkan Rekor Rp39.261 Triliun
Dituding Dukung Militer...
Dituding Dukung Militer AS, Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain
Mesir Desak AS Percepat...
Mesir Desak AS Percepat Pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
PBB Murka Masjid Al-Aqsa...
PBB Murka Masjid Al-Aqsa Diserbu Menteri Israel dan 4.000 Massa Yahudi
Rekomendasi
Kisah Paredes Dicuekin...
Kisah Paredes Dicuekin Messi Sampai 3 Bulan Gara-gara Liga Champions
Elon Musk Minta Tak...
Elon Musk Minta Tak Perlu Takut dengan AI, Nikmati Saja
Suami Istri Pemilik...
Suami Istri Pemilik Hanania Travel Ditetapkan Jadi Tersangka Penipuan Jemaah Umrah
Berita Terkini
Pertamina Foundation...
Pertamina Foundation Tanamkan Peduli Lingkungan Usia Dini
Panda Bond Indonesia...
Panda Bond Indonesia Raih Rating AAA, Purbaya: Ada yang Bilang Saya Bohong
Indonesia Perlu Arah...
Indonesia Perlu Arah Kebijakan Baru Jadi Pusat Hilirisasi Sawit Dunia
Tingkatkan Nilai Jual...
Tingkatkan Nilai Jual TBS, 133 Pekebun Muara Enim Ikuti Pelatihan Panen Sawit
Tembus Blokade Laut...
Tembus Blokade Laut Merah, Tanker Raksasa China Bawa Pulang 4 Juta Barel Minyak Arab Saudi
Proses Pemeliharaan...
Proses Pemeliharaan dan Pengisian Galon Bermerek Dipastikan Penuhi Standar Industri
Infografis
5 Negara Muslim yang...
5 Negara Muslim yang Bakal Terseret jika Perang Dunia III Terjadi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved