Harga Minyak Naik Hampir 3% Dihantam Konflik Israel-Iran, Bagaimana Respons AS?
Jum'at, 20 Juni 2025 - 16:17 WIB
loading...
A
A
A
"Konsensus (di pasar) semakin terbentuk bahwa kita akan melihat keterlibatan AS dengan cara tertentu," kata Johnston.
Iran adalah produsen ketiga terbesar di antara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Dunia atau OPEC, dengan memproduksi sekitar 3,3 juta barel minyak mentah per hari. Sekitar 18 juta hingga 21 juta barel per hari bergerak melalui Selat Hormuz di sepanjang pantai selatan Iran, dan ada kekhawatiran luas bahwa perang ini dapat mengganggu aliran perdagangan.
Risiko gangguan energi besar-besaran akan meningkat jika Iran merasa terancam secara eksistensial, dan masuknya AS ke dalam konflik dapat memicu serangan langsung terhadap tanker dan infrastruktur energi, kata analis RBC Capital Helima Croft.
Sebelumnya, JP Morgan mengatakan skenario ekstrem, di mana konflik meluas ke wilayah sekitarnya dan termasuk penutupan Selat Hormuz, dapat menyebabkan harga minyak melonjak menjadi USD120 hingga USD130 per barel.
Goldman Sachs juga menerangkan, bahwa premi risiko geopolitik sekitar USD10 per barel ada benarnya, mengingat pasokan Iran yang lebih rendah dan risiko gangguan yang lebih luas dapat mendorong minyak mentah Brent di atas USD90.
"Meskipun ketegangan di Timur Tengah mungkin mereda dalam beberapa hari ke depan, harga minyak kemungkinan tidak akan kembali ke kisaran rendah USD60 yang sempat dicapai sebulan lalu," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group.
Iran adalah produsen ketiga terbesar di antara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Dunia atau OPEC, dengan memproduksi sekitar 3,3 juta barel minyak mentah per hari. Sekitar 18 juta hingga 21 juta barel per hari bergerak melalui Selat Hormuz di sepanjang pantai selatan Iran, dan ada kekhawatiran luas bahwa perang ini dapat mengganggu aliran perdagangan.
Risiko gangguan energi besar-besaran akan meningkat jika Iran merasa terancam secara eksistensial, dan masuknya AS ke dalam konflik dapat memicu serangan langsung terhadap tanker dan infrastruktur energi, kata analis RBC Capital Helima Croft.
Sebelumnya, JP Morgan mengatakan skenario ekstrem, di mana konflik meluas ke wilayah sekitarnya dan termasuk penutupan Selat Hormuz, dapat menyebabkan harga minyak melonjak menjadi USD120 hingga USD130 per barel.
Goldman Sachs juga menerangkan, bahwa premi risiko geopolitik sekitar USD10 per barel ada benarnya, mengingat pasokan Iran yang lebih rendah dan risiko gangguan yang lebih luas dapat mendorong minyak mentah Brent di atas USD90.
"Meskipun ketegangan di Timur Tengah mungkin mereda dalam beberapa hari ke depan, harga minyak kemungkinan tidak akan kembali ke kisaran rendah USD60 yang sempat dicapai sebulan lalu," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group.
Lihat Juga :