Membaca Skenario Penutupan Selat Hormuz, Apa Untung Ruginya buat Iran?
Senin, 23 Juni 2025 - 12:44 WIB
loading...
Analis mengungkapkan, beberapa alasan yang bisa membuat Iran menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur pengiriman vital sebagai balasan atas serangan AS. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Iran sejauh ini belum menjadikan Selat Hormuz sebagai alat untuk menghukum Barat dalam perangnya melawan Israel. Meski begitu parlemen Iran telah memilih untuk menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur pengiriman vital sebagai balasan atas serangan Presiden AS Donald Trump.
Pemungutan suara parlemen Iran yang dilaporkan oleh Reuters, disebutkan sifatnya tidak mengikat karena keputusan akhir berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Lantas seberapa besar peluang Iran untuk menutup jalur penting perdagangan minyak dunia tersebut.
Seorang anggota parlemen Iran, Ali Yazdikhah seperti dikutip oleh agensi berita Mehr, mengatakan, "Jika Amerika Serikat secara resmi dan operasional memasuki perang ... menjadi hak sah Iran untuk menekan AS dan negara-negara Barat dalam perdagangan minyak mereka."
Baca Juga: 4 Pertaruhan Eropa jika Selat Hormuz Diblokir Imbas AS Ikut Gempur Iran
Sementara itu akademisi yang mempelajari energi dan risiko maritim di Washington Institute for Near East Policy yakni Noam Raydan memberikan catatan, bahwa minyak Iran juga mengalir cukup besar melewati jalur Hormuz, jadi "tidak ada alasan bagi Teheran saat ini untuk memblokir Selat kecuali jika benar-benar ingin mencederai diri mereka sendiri."
Namun menurutnya semua itu bisa berubah, dengan catatan bahwa infrastruktur minyak Iran mengalami kerusakan parah. "Iran akan menutup Selat Hormuz begitu mereka tidak dapat mengekspor-ini adalah jawaban sederhana saya," kata Raydan.
Skenario penutupan Selat Hormuz diyakini masih jauh untuk saat ini, ketika Israel tampaknya memusatkan sebagian besar serangannya jauh dari fasilitas bahan bakar minyak. Meski tidak terlepas dari dampak perang, namun gangguan minyak di Iran disebut sangat minim.
Sementara itu sempat muncul ketakutan, setelah satu serangan Israel menyasar kilang minyak di Teheran. Sebagai balasan Iran mempunyai opsi selain menutup selat, yakni dengan melayangkan serangan hingga penyitaan terhadap beberapa kapal komersial.
Para ahli mencatat bahwa Iran memiliki berbagai cara lain untuk mengganggu ekonomi dunia jika situasi militernya semakin terdesak.
Direktur program kebijakan luar negeri di Brookings Institution, Suzanne Maloney menerangkan, Iran bisa melakukan serangan teror skala kecil dan serangan siber di samping ancaman terhadap Selat Hormuz. Tetapi dia mencatat, bahwa semua opsi itu "semuanya melibatkan trade-off yang berisiko, terutama prospek memicu intervensi militer AS, yang ingin dihindari Teheran."
Raydan dari Washington Institute mengutarakan, kemungkinan lebih besar yang harus diperhatikan yakni "Iran dikenal karena pernah menyita kapal-kapal komersial di wilayah tersebut sebagai balasan atas tindakan AS ... jadi saya katakan penyitaan kapal adalah sesuatu yang perlu diperhatikan, dan Iran memiliki pengalaman dalam hal itu."
Serangan terhadap pelayaran juga dibahas dalam analisis terbaru Capital Economics yang menguraikan efek dari empat skenario potensial dalam beberapa minggu mendatang, mulai dari konflik singkat hingga perubahan rezim.
Ketidakpastian ekonomi yang paling besar kemungkinan bisa datang dari skenario 'konflik berkepanjangan tanpa jalan keluar,' yang menurut kelompok tersebut, dapat mencakup serangan reguler dalam beberapa bulan ke depan terhadap sektor pelayaran dan transit energi dari Iran dan proksinya.
Baca Juga: AS Desak China Bujuk Iran Tak Menutup Selat Hormuz
Jika skenario tersebut benar-benar terjadi, analis memperkirakan "mungkin akan membuat harga minyak lebih tinggi dalam rentang USD130-USD150 per barel, meningkatkan inflasi di negara-negara maju sebesar 2-2,5%-pts pada akhir 2025 dan akan menjadi ancaman terbesar di pasar.
Tetapi yang terpenting, tambah para ekonom, adalah bahwa "kita mungkin tidak mengetahui akhir permainan untuk beberapa waktu."
Pemungutan suara parlemen Iran yang dilaporkan oleh Reuters, disebutkan sifatnya tidak mengikat karena keputusan akhir berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Lantas seberapa besar peluang Iran untuk menutup jalur penting perdagangan minyak dunia tersebut.
Seorang anggota parlemen Iran, Ali Yazdikhah seperti dikutip oleh agensi berita Mehr, mengatakan, "Jika Amerika Serikat secara resmi dan operasional memasuki perang ... menjadi hak sah Iran untuk menekan AS dan negara-negara Barat dalam perdagangan minyak mereka."
Baca Juga: 4 Pertaruhan Eropa jika Selat Hormuz Diblokir Imbas AS Ikut Gempur Iran
Sementara itu akademisi yang mempelajari energi dan risiko maritim di Washington Institute for Near East Policy yakni Noam Raydan memberikan catatan, bahwa minyak Iran juga mengalir cukup besar melewati jalur Hormuz, jadi "tidak ada alasan bagi Teheran saat ini untuk memblokir Selat kecuali jika benar-benar ingin mencederai diri mereka sendiri."
Namun menurutnya semua itu bisa berubah, dengan catatan bahwa infrastruktur minyak Iran mengalami kerusakan parah. "Iran akan menutup Selat Hormuz begitu mereka tidak dapat mengekspor-ini adalah jawaban sederhana saya," kata Raydan.
Skenario penutupan Selat Hormuz diyakini masih jauh untuk saat ini, ketika Israel tampaknya memusatkan sebagian besar serangannya jauh dari fasilitas bahan bakar minyak. Meski tidak terlepas dari dampak perang, namun gangguan minyak di Iran disebut sangat minim.
Sementara itu sempat muncul ketakutan, setelah satu serangan Israel menyasar kilang minyak di Teheran. Sebagai balasan Iran mempunyai opsi selain menutup selat, yakni dengan melayangkan serangan hingga penyitaan terhadap beberapa kapal komersial.
Para ahli mencatat bahwa Iran memiliki berbagai cara lain untuk mengganggu ekonomi dunia jika situasi militernya semakin terdesak.
Direktur program kebijakan luar negeri di Brookings Institution, Suzanne Maloney menerangkan, Iran bisa melakukan serangan teror skala kecil dan serangan siber di samping ancaman terhadap Selat Hormuz. Tetapi dia mencatat, bahwa semua opsi itu "semuanya melibatkan trade-off yang berisiko, terutama prospek memicu intervensi militer AS, yang ingin dihindari Teheran."
Raydan dari Washington Institute mengutarakan, kemungkinan lebih besar yang harus diperhatikan yakni "Iran dikenal karena pernah menyita kapal-kapal komersial di wilayah tersebut sebagai balasan atas tindakan AS ... jadi saya katakan penyitaan kapal adalah sesuatu yang perlu diperhatikan, dan Iran memiliki pengalaman dalam hal itu."
Serangan terhadap pelayaran juga dibahas dalam analisis terbaru Capital Economics yang menguraikan efek dari empat skenario potensial dalam beberapa minggu mendatang, mulai dari konflik singkat hingga perubahan rezim.
Ketidakpastian ekonomi yang paling besar kemungkinan bisa datang dari skenario 'konflik berkepanjangan tanpa jalan keluar,' yang menurut kelompok tersebut, dapat mencakup serangan reguler dalam beberapa bulan ke depan terhadap sektor pelayaran dan transit energi dari Iran dan proksinya.
Baca Juga: AS Desak China Bujuk Iran Tak Menutup Selat Hormuz
Jika skenario tersebut benar-benar terjadi, analis memperkirakan "mungkin akan membuat harga minyak lebih tinggi dalam rentang USD130-USD150 per barel, meningkatkan inflasi di negara-negara maju sebesar 2-2,5%-pts pada akhir 2025 dan akan menjadi ancaman terbesar di pasar.
Tetapi yang terpenting, tambah para ekonom, adalah bahwa "kita mungkin tidak mengetahui akhir permainan untuk beberapa waktu."
(akr)
Lihat Juga :