Eropa Diperingatkan, Sanksi Keras ke Rusia Bakal Jadi Senjata Makan Tuan
Senin, 30 Juni 2025 - 17:37 WIB
loading...
Kremlin memperingatkan, bahwa semakin keras sanksi yang dijatuhkan Eropa terhadap Rusia, maka semakin menyakitkan dampaknya bagi ekonomi Eropa. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Kremlin memperingatkan, bahwa semakin keras sanksi yang dijatuhkan Eropa terhadap Rusia, maka semakin menyakitkan dampaknya bagi ekonomi Eropa . Rusia diklaim telah menjadi resisten terhadap sanksi- sanksi Eropa yang dinilai "ilegal' tersebut.
Perang Rusia vs Ukraina pada tahun 2022 memicu gelombang sanksi Barat dan menjadikan Moskow sebagai ekonomi besar yang paling banyak dikenakan sanksi di dunia. Sanksi Barat diharapkan dapat memakasa Presiden Vladimir Putin untuk mencapai perdamaian dengan Ukraina.
Meskipun ekonomi Rusia menyusut pada tahun 2022, namun pada tahun 2023 dan 2024 berhasil bangkit dengan laju yang lebih cepat dibandingkan Uni Eropa (UE). Sebelumnya pada awal Juni kemarin, Komisi Eropa mengusulkan putaran baru sanksi terhadap Rusia, dengan menargetkan pendapatan energi Moskow, perbankan, hingga industri militer.
Baca Juga: Tangguhnya Ekonomi Rusia, Tetap Tak Goyah Dihantam Sanksi Barat
Namun upaya Eropa tidak mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat (AS) yang sejauh ini menolak untuk memperketat sanksi terhadap Moskow. Ketika ditanya tentang pernyataan para pemimpin Eropa, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron bahwa memperketat sanksi akan memaksa Rusia untuk bernegosiasi mengakhiri perang, Kremlin hanya mengatakan bahwa hanya logika dan argumen yang dapat memaksa Rusia untuk bernegosiasi.
"Semakin serius paket sanksi yang, saya ulangi, kami anggap ilegal, semakin serius pula dampaknya seperti peluru yang mengenai bahu. Ini adalah pedang bermata dua," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov seperti dilansir Reuters.
Peskov mengatakan, bahwa dia tidak meragukan Uni Eropa akan memberlakukan sanksi lebih lanjut, akan tetapi Rusia telah membangun "ketahanan" terhadap sanksi semacam itu. Baca Juga: Gantikan AS, Survei Mengungkap Rusia Menemukan Musuh Terbesar Baru
Presiden Vladimir Putin mengatakan, bahwa sanksi tambahan Uni Eropa terhadap Rusia hanya akan menyakiti Eropa lebih banyak. Ia juga menunjukkan bahwa ekonomi Rusia tumbuh sebesar 4,3% pada tahun 2024 dibandingkan pertumbuhan zona euro sebesar 0,9%.
Perang Rusia vs Ukraina pada tahun 2022 memicu gelombang sanksi Barat dan menjadikan Moskow sebagai ekonomi besar yang paling banyak dikenakan sanksi di dunia. Sanksi Barat diharapkan dapat memakasa Presiden Vladimir Putin untuk mencapai perdamaian dengan Ukraina.
Meskipun ekonomi Rusia menyusut pada tahun 2022, namun pada tahun 2023 dan 2024 berhasil bangkit dengan laju yang lebih cepat dibandingkan Uni Eropa (UE). Sebelumnya pada awal Juni kemarin, Komisi Eropa mengusulkan putaran baru sanksi terhadap Rusia, dengan menargetkan pendapatan energi Moskow, perbankan, hingga industri militer.
Baca Juga: Tangguhnya Ekonomi Rusia, Tetap Tak Goyah Dihantam Sanksi Barat
Namun upaya Eropa tidak mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat (AS) yang sejauh ini menolak untuk memperketat sanksi terhadap Moskow. Ketika ditanya tentang pernyataan para pemimpin Eropa, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron bahwa memperketat sanksi akan memaksa Rusia untuk bernegosiasi mengakhiri perang, Kremlin hanya mengatakan bahwa hanya logika dan argumen yang dapat memaksa Rusia untuk bernegosiasi.
"Semakin serius paket sanksi yang, saya ulangi, kami anggap ilegal, semakin serius pula dampaknya seperti peluru yang mengenai bahu. Ini adalah pedang bermata dua," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov seperti dilansir Reuters.
Peskov mengatakan, bahwa dia tidak meragukan Uni Eropa akan memberlakukan sanksi lebih lanjut, akan tetapi Rusia telah membangun "ketahanan" terhadap sanksi semacam itu. Baca Juga: Gantikan AS, Survei Mengungkap Rusia Menemukan Musuh Terbesar Baru
Presiden Vladimir Putin mengatakan, bahwa sanksi tambahan Uni Eropa terhadap Rusia hanya akan menyakiti Eropa lebih banyak. Ia juga menunjukkan bahwa ekonomi Rusia tumbuh sebesar 4,3% pada tahun 2024 dibandingkan pertumbuhan zona euro sebesar 0,9%.
(akr)
Lihat Juga :