AS Laporkan Iran Bersiap Blokade Selat Hormuz, Awas Harga Minyak Meletup
Rabu, 02 Juli 2025 - 18:03 WIB
loading...
Kabar Iran bakal blokade Selat Hormuz kembali mencuat, setelah pejabat AS menunjukkan bahwa Teheran mungkin serius tentang menutup salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Kabar Iran bakal blokade Selat Hormuz kembali mencuat, setelah pejabat AS (Amerika Serikat) menunjukkan bahwa Teheran mungkin serius tentang menutup salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Terdeteksi oleh intelijen AS, bahwa militer Iran memasukkan ranjau laut ke dalam kapal-kapal di Teluk Persia pada bulan lalu.
Aksi itu meningkatkan kekhawatiran di Washington bahwa Teheran bersiap untuk memblokade Selat Hormuz menyusul serangan Israel di wilayah Iran, menurut dua pejabat AS. Persiapan yang sebelumnya tidak dilaporkan ini, diungkap oleh intelijen AS terjadi setelah Israel meluncurkan serangan rudal awalnya terhadap Iran pada 13 Juni.
Para pejabat anonim ini meminta tidak disebutkan namanya, karena membahas masalah intelijen yang sensitif. Pemuatan ranjau menunjukkan bahwa Teheran mungkin serius tentang menutup salah satu jalur pengiriman tersibuk di dunia, sebuah langkah yang akan memperburuk konflik yang sudah meningkat dan secara serius menghambat perdagangan global.
Baca Juga: Siaga Tinggi, CEO Shell Wanti-wanti Dampak Pemblokiran Selat Hormuz
Sekitar seperlimanya pengiriman minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz dan suatu penyumbatan kemungkinan akan meningkatkan harga energi dunia. Harga acuan minyak global yang sempat melonjak sejak serangan AS ke fasilitas nuklir Iran, kini berangsur menyusut kembali.
Anggota OPEC, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui selat ini, terutama ke Asia. Sedangakn Qatar, salah satu pengekspor gas alam cair terbesar di dunia, mengirim hampir semua LNG-nya melalui selat ini.
Sedangkan Iran juga mengekspor sebagian besar minyak mentahnya melalui jalur ini, yang secara teori membatasi hasrat Teheran untuk menutup selat. Namun, Teheran tetap mengalokasikan sumber daya yang signifikan untuk memastikan bahwa mereka bisa melakukannya jika dianggap perlu.
Di sisi lain pada tahun 2019, Iran menurut perkiraan Badan Intelijen Pertahanan AS pada saat itu memiliki lebih dari 5.000 ranjau laut, yang dapat dikerahkan dengan cepat lewat bantuan perahu kecil berkecepatan tinggi,
Angkatan Laut AS Kelima, yang berbasis di Bahrain, bertugas melindungi perdagangan di wilayah tersebut. Angkatan Laut AS biasanya menjaga empat kapal penanggulangan ranjau, atau kapal MCM, di Bahrain, meskipun kapal-kapal tersebut sedang digantikan oleh jenis kapal lain yang disebut kapal tempur litoral, atau LCS, yang juga memiliki kemampuan anti-ranjau.
Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah dan kemungkinan penutupan Selat Hormuz dapat mendorong harga minyak mentah hingga USD300 per barel. Lonjakan harga minyak mentah diperingatkan oleh Menteri Luar Negeri Irak, Fuad Hussein seiring pecahnya perang Iran vs Israel.
Menurut Hussein, harga minyak dunia dapat melonjak antara USD200 hingga USD300 per barel "jika operasi militer terjadi, yang secara signifikan akan meningkatkan tingkat inflasi di negara-negara Eropa dan mempersulit ekspor minyak bagi negara-negara penghasil seperti Irak."
Penutupan Selat Hormuz, sebagai sebuah jalur transportasi utama, bisa "mengakibatkan hilangnya sekitar lima juta barel per hari dari pasokan minyak Teluk dan Irak di pasar global," ucap menteri luar negeri Irak itu.
Baca Juga: Akankah Iran Menutup Selat Hormuz? Ini 3 Dampak Mengerikan bagi Dunia
Selat Hormuz menjadi jalur maritim paling krusial di mana sekitar 20% pasokan minyak dunia mengalir melewatinya. Pada akhir pekan kemarin, anggota parlemen Iran dan komandan Korps Penjaga Revolusi Islam Esmail Kousari menyatakan, bahwa Teheran sedang mempertimbangkan untuk menutup selat tersebut bagi pengiriman.
Aksi itu meningkatkan kekhawatiran di Washington bahwa Teheran bersiap untuk memblokade Selat Hormuz menyusul serangan Israel di wilayah Iran, menurut dua pejabat AS. Persiapan yang sebelumnya tidak dilaporkan ini, diungkap oleh intelijen AS terjadi setelah Israel meluncurkan serangan rudal awalnya terhadap Iran pada 13 Juni.
Para pejabat anonim ini meminta tidak disebutkan namanya, karena membahas masalah intelijen yang sensitif. Pemuatan ranjau menunjukkan bahwa Teheran mungkin serius tentang menutup salah satu jalur pengiriman tersibuk di dunia, sebuah langkah yang akan memperburuk konflik yang sudah meningkat dan secara serius menghambat perdagangan global.
Baca Juga: Siaga Tinggi, CEO Shell Wanti-wanti Dampak Pemblokiran Selat Hormuz
Sekitar seperlimanya pengiriman minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz dan suatu penyumbatan kemungkinan akan meningkatkan harga energi dunia. Harga acuan minyak global yang sempat melonjak sejak serangan AS ke fasilitas nuklir Iran, kini berangsur menyusut kembali.
Jalur Utama Selat Hormuz
Selat Hormuz terletak di antara Oman dan Iran dan menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman di selatan dan Laut Arab di seberangnya. Jarak lebar selat hanya 21 mil (atau setara 34 km) di titik paling kanan, dengan jalur pengiriman hanya 2 mil lebar di kedua arah.Anggota OPEC, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui selat ini, terutama ke Asia. Sedangakn Qatar, salah satu pengekspor gas alam cair terbesar di dunia, mengirim hampir semua LNG-nya melalui selat ini.
Sedangkan Iran juga mengekspor sebagian besar minyak mentahnya melalui jalur ini, yang secara teori membatasi hasrat Teheran untuk menutup selat. Namun, Teheran tetap mengalokasikan sumber daya yang signifikan untuk memastikan bahwa mereka bisa melakukannya jika dianggap perlu.
Di sisi lain pada tahun 2019, Iran menurut perkiraan Badan Intelijen Pertahanan AS pada saat itu memiliki lebih dari 5.000 ranjau laut, yang dapat dikerahkan dengan cepat lewat bantuan perahu kecil berkecepatan tinggi,
Angkatan Laut AS Kelima, yang berbasis di Bahrain, bertugas melindungi perdagangan di wilayah tersebut. Angkatan Laut AS biasanya menjaga empat kapal penanggulangan ranjau, atau kapal MCM, di Bahrain, meskipun kapal-kapal tersebut sedang digantikan oleh jenis kapal lain yang disebut kapal tempur litoral, atau LCS, yang juga memiliki kemampuan anti-ranjau.
Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah dan kemungkinan penutupan Selat Hormuz dapat mendorong harga minyak mentah hingga USD300 per barel. Lonjakan harga minyak mentah diperingatkan oleh Menteri Luar Negeri Irak, Fuad Hussein seiring pecahnya perang Iran vs Israel.
Menurut Hussein, harga minyak dunia dapat melonjak antara USD200 hingga USD300 per barel "jika operasi militer terjadi, yang secara signifikan akan meningkatkan tingkat inflasi di negara-negara Eropa dan mempersulit ekspor minyak bagi negara-negara penghasil seperti Irak."
Penutupan Selat Hormuz, sebagai sebuah jalur transportasi utama, bisa "mengakibatkan hilangnya sekitar lima juta barel per hari dari pasokan minyak Teluk dan Irak di pasar global," ucap menteri luar negeri Irak itu.
Baca Juga: Akankah Iran Menutup Selat Hormuz? Ini 3 Dampak Mengerikan bagi Dunia
Selat Hormuz menjadi jalur maritim paling krusial di mana sekitar 20% pasokan minyak dunia mengalir melewatinya. Pada akhir pekan kemarin, anggota parlemen Iran dan komandan Korps Penjaga Revolusi Islam Esmail Kousari menyatakan, bahwa Teheran sedang mempertimbangkan untuk menutup selat tersebut bagi pengiriman.
(akr)
Lihat Juga :