Membaca Kematian Dolar dan Tumpukan Utang AS Rp591.735 Triliun, Seberapa Gawat?

Minggu, 06 Juli 2025 - 01:05 WIB
loading...
Membaca Kematian Dolar...
Rancangan undang-undang (RUU) besar tentang pemotongan pajak dan belanja negara yang sudah diteken Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menambah kekhawatiran melonjaknya utang AS. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Rancangan undang-undang (RUU) besar tentang pemotongan pajak dan belanja negara yang sudah diteken Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menambah kekhawatiran melonjaknya utang AS. RUU pemotongan pajak Trump diperkirakan akan menambah setidaknya USD3 triliun (Rp47 ribu triliun) ke tumpukan utang AS yang sudah membengkak hingga USD37 triliun atau setara Rp591.735 triliun (dengan kurs Rp15.992 per USD).

Mantan sekutu Trump, yakni Elon Musk menyebutnya sebagai "kekejian yang menjijikkan". Tumpukan utang AS yang semakin besar membuat beberapa orang bertanya-tanya apakah ada batasan seberapa banyak sisa dunia akan meminjamkan uang kepada Paman Sam -julukan AS-.

Keraguan itu baru-baru ini terlihat dalam nilai dolar AS yang lebih lemah dan suku bunga tinggi yang diminta investor untuk meminjamkan uang kepada Amerika. Sementara itu Amerika perlu meminjam uang ini untuk menutupi selisih antara apa yang diperolehnya dan apa yang dibelanjakan setiap tahun atau defisit anggaran.

Baca Juga: Dolar AS Mengalami Tahun Terburuk Sejak 1973, Status Cadangan Utama Dunia Diragukan

Sejak awal tahun 2025, dolar AS sudah jatuh 10% terhadap pound dan 15% terhadap euro. Meskipun biaya pinjaman AS secara keseluruhan stabil, perbedaan antara suku bunga yang dibayarkan untuk pinjaman jangka panjang dibandingkan dengan pinjaman jangka pendek - yang dikenal sebagai kurva hasil - telah meningkat, atau menjadi curam. Hal itu menandakan meningkatnya keraguan tentang keberlanjutan jangka panjang dari pinjaman AS.

Sementara itu ada fakta bahwa AS telah menurunkan suku bunga lebih lambat dibandingkan dengan UE (Uni Eropa) dan Inggris, yang biasanya akan membuat dolar lebih kuat karena investor dapat memperoleh suku bunga lebih tinggi pada simpanan bank.

Pendiri hedge fund terbesar di dunia, Ray Dalio percaya bahwa pinjaman AS berada di persimpangan. Dengan jalur saat ini, ia memperkirakan AS akan segera mengeluarkan USD10 triliun per tahun untuk membayar utang dan bunga.

"Saya yakin bahwa kondisi keuangan (pemerintah AS) berada di titik balik karena, jika ini tidak ditangani sekarang, utang akan menumpuk hingga tingkat yang tidak dapat dikelola tanpa trauma besar," kata Ray Dalio.

Jadi seperti apa bentuk trauma itu?

Opsi pertama adalah pengurangan drastis dalam belanja pemerintah, peningkatan pajak, atau keduanya. Ray Dalio menyarankan, bahwa mengurangi defisit anggaran dari 6% saat ini menjadi 3% harus segera dilakukan untuk bisa mencegah masalah di masa depan.

Dilansir BBC, rancangan anggaran terbaru Trump memang memangkas beberapa pengeluaran, tetapi juga memangkas pajak lebih banyak, sehingga trajektori (jalur) politik saat ini berjalan ke arah yang berbeda. Baca Juga: Dibayangi Utang Jumbo AS Rp591.502 Triliun, Trump Mundur Bentuk Dana Kekayaan Negara

Kedua, seperti dalam krisis sebelumnya, bank sentral AS dapat mencetak lebih banyak uang dan menggunakannya untuk membeli utang pemerintah - seperti yang kita lihat setelah krisis keuangan besar tahun 2008. Namun hal itu bisa berujung pada inflasi dan ketidaksetaraan karena pemilik aset seperti rumah dan saham jauh lebih baik dibandingkan mereka yang mengandalkan nilai tenaga kerja.

Opsi ketiga adalah default AS langsung. Tidak bisa membayar, tidak mau membayar. Mengingat bahwa "kepercayaan dan kredit penuh dari Departemen Keuangan AS" menopang seluruh sistem keuangan global, itu akan membuat krisis keuangan besar tampak seperti piknik.

Kematian Dolar AS

Jadi seberapa besar kemungkinan ini? Saat ini, syukurlah, tidak terlalu besar. Tetapi alasan mengapa sebenarnya tidak terlalu menghibur. Faktanya adalah, suka atau tidak, dunia memiliki sedikit alternatif untuk dolar.

Ekonom dan mantan kepala obligasi, Mohamed El-Erian mengatakan, bahwa banyak orang berusaha mengurangi kepemilikan dolar, "dolar terlalu berat dan dunia tahu itu, itulah sebabnya kami melihat kenaikan emas, euro, dan pound. Akan tetapi sulit untuk bergerak dengan skala yang sama, jadi sebenarnya sangat sedikit tempat untuk pergi."

"Dolar itu seperti kemeja kotor terbersih milikmu, kamu harus terus memakainya. Namun, masa depan dolar dan aset yang menjadi patokan dunia - obligasi pemerintah AS - sedang dibahas di tingkat tertinggi. Gubernur Bank of England baru-baru ini mengatakan kepada BBC bahwa tingkat utang AS dan status dolar berada 'di benak Menteri Keuangan AS, Bessent," ungkapnya.

"Saya tidak berpikir dolar dalam ancaman saat ini, tetapi dia sangat menyadari masalah ini dan saya rasa ini bukan sesuatu yang dia anggap remeh," bebernya.

Utang AS sebesar USD37 triliun adalah angka yang tidak terbayangkan. Jika Anda menghemat satu juta dolar setiap hari, maka bakal memakan waktu 100.000 tahun untuk mengumpulkan uang sebanyak itu.

Pandangan yang bijaksana terhadap utang adalah sebagai persentase dari pendapatan suatu negara. Ekonomi AS memproduksi pendapatan sekitar USD25 triliun per tahun. Meskipun tingkat utangnya terhadap pendapatan jauh lebih tinggi daripada banyak negara lainnya, tetapi tidak setinggi Jepang atau Italia, dan AS memiliki keuntungan sebagai ekonomi paling inovatif dan pencipta kekayaan di dunia di belakangnya.

Dalam sebuah buku yang berjudul Kematian Dollar karya William F Rickenbacker, di mana dia memperingatkan tentang risiko terhadap status dolar sebagai mata uang cadangan dunia. Buku ini ditulis pada tahun 1968. Rickenbacker sudah tidak bersama kita lagi - namun dolar masih ada. Tetapi itu tidak berarti bahwa status dan nilainya adalah hak mutlak.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
Rupiah Keok Meski BI...
Rupiah Keok Meski BI Rate Naik Lagi, Dolar AS Tembus Rp17.848
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Pembelian Dolar AS Diperketat,...
Pembelian Dolar AS Diperketat, BI Batasi Transaksi USD10 Ribu Mulai Juli 2026
Rupiah Hari Ini Ditutup...
Rupiah Hari Ini Ditutup Loyo ke Rp17.794 per Dolar AS, Intip Pemicunya
Wabah Flu Serang Pangkalan...
Wabah Flu Serang Pangkalan AS, 159 Tentara Jatuh Sakit
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG Indonesia
Marahnya Warga Israel...
Marahnya Warga Israel atas Kesepakatan AS-Iran: Kami Dikhianati Trump, Ini Kesalahan Besar
Rekomendasi
BMKG Deteksi Siklon...
BMKG Deteksi Siklon Tropis Mekkhala, Ingatkan Potensi Hujan Lebat
Kelab Pantai Favorit...
Kelab Pantai Favorit di Bali, Klive Beach Club Menjadi Ikon Baru Uluwatu
Pemerintah Paksa Daerah...
Pemerintah Paksa Daerah Hentikan Open Dumping Sampah dengan Skema Stick and Carrot
Berita Terkini
Industri Herbal Andalkan...
Industri Herbal Andalkan Figur Publik Perkuat Kepercayaan Konsumen
Tamaris Hidro Bidik...
Tamaris Hidro Bidik Dana Rp1 Triliun lewat Sukuk Ijarah
Dukung Pendanaan UMKM,...
Dukung Pendanaan UMKM, Easycash Perkuat Tata Kelola dan Manajemen Risiko
Harga Emas Antam Stagnan...
Harga Emas Antam Stagnan Hari Ini, Buyback Jadi Rp2,4 Juta per Gram
Transformasi Ekonomi...
Transformasi Ekonomi Progresif, Kepala BPS Canangkan Sensus Ekonomi di Maluku Utara
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung Literasi Pasar Modal melalui Seminar Nasional 'Lo Kheng Hong Investment Philosophy'
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved