Indonesian AID Jadi Pilar Diplomasi Ekonomi untuk Perkuat Ketahanan Nasional
Senin, 07 Juli 2025 - 15:01 WIB
loading...
Indonesian AID yang bertugas memberikan dukungan kerja sama pembangunan internasional pada berbagai negara sahabat, dinilai positif oleh kalangan akademisi.
A
A
A
JAKARTA - Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional atau Indonesian AID, merupakan BLU di bawah Kemenkeu yang bertugas memberikan dukungan kerja sama pembangunan internasional kepada berbagai negara sahabat, dinilai positif oleh kalangan akademisi. Langkah ini dianggap sebagai strategi diplomasi ekonomi yang penting untuk mendukung ketahanan nasional Indonesia.
Kepala Departemen Hubungan Internasional Universitas Andalas, Dr. Apriwan mengungkapkan, dukungan yang diberikan oleh Indonesian AID bukan sekadar tindakan filantropi, melainkan strategi pemerintah Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
"Langkah ini bukanlah sekedar aksi filantropi, melainkan bagian dari strategi besar diplomasi yang dijalankan pemerintahan Prabowo-Gibran," ungkap Apriwan dikutip MNC Portal, Senin (7/7/2025).
Diplomasi pembangunan ini selaras dengan Asta Cita yakni delapan misi utama pemerintahan baru. Salah satu misi yang paling relevan adalah memperkuat sistem pertahanan dan kemandirian bangsa, di mana penguatan pertahanan dan keamanan negara serta pemeliharaan hubungan internasional yang kondusif menjadi program prioritas.
Sejalan dengan itu, diplomasi kini menjadi bagian dari ekosistem strategis dalam membangun Indonesia maju. Di sisi lain, Indonesia juga memperkuat pengaruhnya sebagai negara emerging power yang berperan aktif di forum regional maupun internasional, seperti ASEAN, G20, dan yang terbaru adalah bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS.
Indonesian AID berperan penting dalam menjaga kepentingan nasional Indonesia di luar negeri melalui berbagai kerja sama pembangunan. Sebagai contoh, dukungan kerja sama pembangunan kepada sejumlah negara di kawasan Asia, Pasifik, dan Afrika, telah memperkuat pengaruh dan hubungan bilateral Indonesia dengan negara-negara tersebut.
Kerja sama yang dilakukan Indonesia meliputi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui berbagai pelatihan dan beasiswa, pembangunan infrastruktur, serta berbagai kerja sama di bidang kesehatan hingga ketahanan pangan.
Program-program ini tidak hanya memberikan manfaat bagi negara mitra, tetapi juga membuka jalan bagi diplomasi ekonomi dan perdagangan Indonesia.
“Menariknya, diplomasi pembangunan ini ternyata memiliki dampak positif ke dalam negeri. Ketika Indonesia memperkuat kerja sama teknologi, kesehatan, pangan, dan energi dengan negara mitra melalui Indonesian AID, secara tidak langsung kita juga membangun ketahanan nasional di sektor-sektor tersebut,” terang Apriwan.
Direktur Utama Indonesian AID Dalyono menjelaskan, upaya kerja sama pembangunan di berbagai sektor ini diharapkan dapat membantu pelaku usaha Indonesia melakukan penetrasi pasar potensial. Hal ini juga diharapkan dapat mendorong peningkatan ekspor dan meningkatkan penggunaan produk serta teknologi Indonesia untuk bisa masuk ke negara-negara berkembang seperti di Asia, Pasifik, dan Afrika.
“Sebagai contoh adalah pendanaan untuk dukungan hibah vaksin Pentavalent produksi Biofarma ke Nigeria. Program ini diharapkan membuka pasar dan jejaring Biofarma di Kawasan Afrika. Demikian juga dengan pendanaan kegiatan pelatihan dan hibah produk dan teknologi Inseminasi Buatan produksi Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari yang kini telah merambah ke berbagai negara di Afrika,” ungkap Dalyono.
Inisiasi program pengembangan SDM berupa pelatihan dan dan beasiswa The Indonesian AID Scholarship yang diberikan kepada calon pemimpin dari negara-negara sahabat juga diharapkan menciptakan jejaring global yang memiliki kedekatan emosional dan intelektual dengan Indonesia. Ini merupakan bentuk soft power yang kuat bagi Indonesia.
Bagi Indonesia sendiri, program ini tentu menambah lingkungan internasional, mendorong perguruan tinggi dan para ahli Indonesia dalam meningkatkan reputasinya serta bersaing di kancah global.
Melalui penguatan diplomasi politik, ekonomi, sosial budaya yang dilakukan oleh Indonesian AID, Indonesia menempatkan diri sebagai mitra strategis yang setara.
Di tengah arah baru diplomasi pemerintahan Prabowo-Gibran yang menjadikan Asta Cita sebagai acuan, peran Indonesian AID memberi makna baru bahwa kolaborasi dan kerja sama pembangunan internasional bisa menjadi strategi geopolitik yang kuat, dan bahwa kemandirian selain dibangun di dalam negeri juga dibangun melalui jejaring solidaritas global.
Kepala Departemen Hubungan Internasional Universitas Andalas, Dr. Apriwan mengungkapkan, dukungan yang diberikan oleh Indonesian AID bukan sekadar tindakan filantropi, melainkan strategi pemerintah Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
"Langkah ini bukanlah sekedar aksi filantropi, melainkan bagian dari strategi besar diplomasi yang dijalankan pemerintahan Prabowo-Gibran," ungkap Apriwan dikutip MNC Portal, Senin (7/7/2025).
Diplomasi pembangunan ini selaras dengan Asta Cita yakni delapan misi utama pemerintahan baru. Salah satu misi yang paling relevan adalah memperkuat sistem pertahanan dan kemandirian bangsa, di mana penguatan pertahanan dan keamanan negara serta pemeliharaan hubungan internasional yang kondusif menjadi program prioritas.
Sejalan dengan itu, diplomasi kini menjadi bagian dari ekosistem strategis dalam membangun Indonesia maju. Di sisi lain, Indonesia juga memperkuat pengaruhnya sebagai negara emerging power yang berperan aktif di forum regional maupun internasional, seperti ASEAN, G20, dan yang terbaru adalah bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS.
Indonesian AID berperan penting dalam menjaga kepentingan nasional Indonesia di luar negeri melalui berbagai kerja sama pembangunan. Sebagai contoh, dukungan kerja sama pembangunan kepada sejumlah negara di kawasan Asia, Pasifik, dan Afrika, telah memperkuat pengaruh dan hubungan bilateral Indonesia dengan negara-negara tersebut.
Kerja sama yang dilakukan Indonesia meliputi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui berbagai pelatihan dan beasiswa, pembangunan infrastruktur, serta berbagai kerja sama di bidang kesehatan hingga ketahanan pangan.
Program-program ini tidak hanya memberikan manfaat bagi negara mitra, tetapi juga membuka jalan bagi diplomasi ekonomi dan perdagangan Indonesia.
“Menariknya, diplomasi pembangunan ini ternyata memiliki dampak positif ke dalam negeri. Ketika Indonesia memperkuat kerja sama teknologi, kesehatan, pangan, dan energi dengan negara mitra melalui Indonesian AID, secara tidak langsung kita juga membangun ketahanan nasional di sektor-sektor tersebut,” terang Apriwan.
Direktur Utama Indonesian AID Dalyono menjelaskan, upaya kerja sama pembangunan di berbagai sektor ini diharapkan dapat membantu pelaku usaha Indonesia melakukan penetrasi pasar potensial. Hal ini juga diharapkan dapat mendorong peningkatan ekspor dan meningkatkan penggunaan produk serta teknologi Indonesia untuk bisa masuk ke negara-negara berkembang seperti di Asia, Pasifik, dan Afrika.
“Sebagai contoh adalah pendanaan untuk dukungan hibah vaksin Pentavalent produksi Biofarma ke Nigeria. Program ini diharapkan membuka pasar dan jejaring Biofarma di Kawasan Afrika. Demikian juga dengan pendanaan kegiatan pelatihan dan hibah produk dan teknologi Inseminasi Buatan produksi Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari yang kini telah merambah ke berbagai negara di Afrika,” ungkap Dalyono.
Inisiasi program pengembangan SDM berupa pelatihan dan dan beasiswa The Indonesian AID Scholarship yang diberikan kepada calon pemimpin dari negara-negara sahabat juga diharapkan menciptakan jejaring global yang memiliki kedekatan emosional dan intelektual dengan Indonesia. Ini merupakan bentuk soft power yang kuat bagi Indonesia.
Bagi Indonesia sendiri, program ini tentu menambah lingkungan internasional, mendorong perguruan tinggi dan para ahli Indonesia dalam meningkatkan reputasinya serta bersaing di kancah global.
Melalui penguatan diplomasi politik, ekonomi, sosial budaya yang dilakukan oleh Indonesian AID, Indonesia menempatkan diri sebagai mitra strategis yang setara.
Di tengah arah baru diplomasi pemerintahan Prabowo-Gibran yang menjadikan Asta Cita sebagai acuan, peran Indonesian AID memberi makna baru bahwa kolaborasi dan kerja sama pembangunan internasional bisa menjadi strategi geopolitik yang kuat, dan bahwa kemandirian selain dibangun di dalam negeri juga dibangun melalui jejaring solidaritas global.
(unt)
Lihat Juga :