Habis Rugi Rp11 Triliun, Pertamina Ngebut Nyari Untung
Rabu, 09 September 2020 - 16:18 WIB
loading...
A
A
A
Kedua, menjaga produksi minyak dan gas untuk menekan impor. Ketiga, optimalisasi program Pertamina loyalty dan diskon untuk meningkatkan pendapatan. Keempat, Renegosiasi kontrak dengan mata uang asing untuk dibayar dengan rupiah juga dilakukan.
Kelima, efisiensi konsumsi energi dengan mengganti penggunaan refinery fuel dengan LNG. "Keenam, Menurunkan integrated port time untuk menurunkan beban pokok penjualan. Ketujuh, transformasi digital untuk SPBU dan centeralised procurement," ujar Emma.
Langkah kedelapan, inventory build up dengan manajemen time to buy pada saat harga minyak rendah. Adapun yang terakhir, alias nomor sembilan, Pertamina melakukan mitigasi risiko selisih kurs dan meningkatkan kinerja cash flow. Pada periode Februari hingga Mei 2020 memang menjadi masa-masa terberat Pertamina dengan volume demand yang menurun tajam akibat pandemi covid-19. Bahkan saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), penurunan demand di kota-kota besar mencapai lebih dari 50 persen.
Baca Juga: Nah Lo! Karyawan Gaji di Atas Rp5 Juta Tapi Dapat BLT Disuruh Balikin ke BPJS
Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman sebelumnya menyampaikan memasuki semester kedua 2020, kinerja operasional secara keseluruhan menunjukkan tren positif. Pada Juli 2020, Pertamina mencatat volume penjualan seluruh produk sebesar 6,9 juta kiloliter (kl) atau meningkat lima persen dibandingkan Juni 2020 yang 6,6 juta kl.
Adapun dari sisi nilai penjualan, pada Juli berada di kisaran USD3,2 miliar atau terjadi kenaikan sebesar sembilan persen dari bulan sebelumnya yang sebesar USD2,9 miliar. Seiring pemberlakuan adaptasi kebiasaan baru dan pergerakan perekonomian nasional, tren penjualan Pertamina pun mulai merangkak naik. Dengan memperhatikan tren positif yang ada, Pertamina optimistis kinerja akan terus membaik sampai akhir 2020.
Kelima, efisiensi konsumsi energi dengan mengganti penggunaan refinery fuel dengan LNG. "Keenam, Menurunkan integrated port time untuk menurunkan beban pokok penjualan. Ketujuh, transformasi digital untuk SPBU dan centeralised procurement," ujar Emma.
Langkah kedelapan, inventory build up dengan manajemen time to buy pada saat harga minyak rendah. Adapun yang terakhir, alias nomor sembilan, Pertamina melakukan mitigasi risiko selisih kurs dan meningkatkan kinerja cash flow. Pada periode Februari hingga Mei 2020 memang menjadi masa-masa terberat Pertamina dengan volume demand yang menurun tajam akibat pandemi covid-19. Bahkan saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), penurunan demand di kota-kota besar mencapai lebih dari 50 persen.
Baca Juga: Nah Lo! Karyawan Gaji di Atas Rp5 Juta Tapi Dapat BLT Disuruh Balikin ke BPJS
Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman sebelumnya menyampaikan memasuki semester kedua 2020, kinerja operasional secara keseluruhan menunjukkan tren positif. Pada Juli 2020, Pertamina mencatat volume penjualan seluruh produk sebesar 6,9 juta kiloliter (kl) atau meningkat lima persen dibandingkan Juni 2020 yang 6,6 juta kl.
Adapun dari sisi nilai penjualan, pada Juli berada di kisaran USD3,2 miliar atau terjadi kenaikan sebesar sembilan persen dari bulan sebelumnya yang sebesar USD2,9 miliar. Seiring pemberlakuan adaptasi kebiasaan baru dan pergerakan perekonomian nasional, tren penjualan Pertamina pun mulai merangkak naik. Dengan memperhatikan tren positif yang ada, Pertamina optimistis kinerja akan terus membaik sampai akhir 2020.
(nng)
Lihat Juga :