Rusia Sendirian Melawan Seluruh Barat, Bagaimana Kondisi Ekonominya?
Rabu, 30 Juli 2025 - 17:44 WIB
loading...
Rusia saat ini sedang berjuang melawan Barat sendirian untuk pertama kalinya dalam sejarah dan harus mengandalkan kekuatannya sendiri. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Rusia saat ini sedang berjuang melawan Barat sendirian untuk pertama kalinya dalam sejarah dan harus mengandalkan kekuatannya sendiri. Pernyataan ini dilontarkan oleh Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov di forum bertajuk ‘Territory of Meanings’.
Saat ini Lavrov menyoroti lanskap geopolitik yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dihadapi Rusia setelah eskalasi konflik Ukraina pada tahun 2022, yang menyebabkan ketegangan dengan Barat.
”Tugas utama adalah mengalahkan musuh. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Rusia berjuang sendirian melawan seluruh Barat. Dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II, kami memiliki sekutu. Sekarang kami tidak memiliki sekutu di medan perang. Jadi kami harus mengandalkan diri kami sendiri dan tidak mengizinkan adanya kelemahan,” katanya.
Baca Juga: Cadangan Internasional Rusia Sentuh Rekor Tertinggi Sepanjang Masa Rp11.137 Triliun
Negara ini tidak memiliki pilihan lain selain mengandalkan dirinya sendiri, kata menteri luar negeri. Ditekankan juga oleh Lavrov bahwa Rusia tidak akan mundur dari tuntutan keamanan yang menyebabkan konflik Ukraina.
"Kami bersikeras pada apa yang merupakan tuntutan sah kami... tidak ada penarikan Ukraina ke dalam NATO, tidak ada perluasan NATO sama sekali. Itu sudah meluas hingga ke perbatasan kami, bertentangan dengan semua janji dan dokumen yang telah diadopsi," katanya.
Ia juga menambahkan bahwa penyelesaian konflik juga harus mengakui realitas teritorial baru di lapangan. Lavrov juga menyamakan perilaku Barat dengan perilaku pengganggu anak-anak.
"Ketika Anda masih anak-anak bermain dengan anak laki-laki lain di halaman, terkadang seorang anak besar, yang lebih tua tiga atau empat tahun, muncul dan mulai mengejar yang kecil," katanya.
"Itu kira-kira apa yang dilakukan Barat kepada semua orang saat ini. "Moskow telah menyatakan pada sejumlah kesempatan bahwa perluasan NATO dan aspirasi Ukraina untuk bergabung dengan blok militer yang dipimpin AS adalah salah satu alasan utama untuk konflik tersebut.
Ia juga memperingatkan bahwa pengiriman senjata Barat ke Ukraina hanya memperpanjang permusuhan tanpa mengubah hasilnya, sementara menjadikan NATO sebagai pihak langsung dalam konflik.
Ekonomi Berat
Sementara itu Seorang penasihat utama Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan bahwa perekonomian Rusia menunjukkan tanda-tanda ketegangan serius dan membutuhkan pelonggaran kebijakan moneter secara cepat untuk mencegah penurunan yang lebih dalam.
Peringatan ini disampaikan Boris Titov, utusan presiden untuk kerja sama dengan organisasi internasional dalam tujuan pembangunan berkelanjutan, menyusul hasil survei terbaru dari lembaga peramalan ekonomi di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia.
Survei tersebut menilai aktivitas investasi di sektor industri dan infrastruktur pada musim semi tahun ini, yang menunjukkan adanya penurunan signifikan. "Hasilnya, meskipun sudah diperkirakan, tetap mengecewakan," ujar Titov dalam pernyataannya di kanal Telegram.
Menurut laporan itu, hanya 48% perusahaan yang saat ini melakukan investasi, menurun tajam dari 64% pada tahun lalu. Sementara itu, hanya 35% yang tengah bersiap meluncurkan produk baru, turun dari 50% sebelumnya.
Di sisi lain ekonomi Rusia mengejutkan banyak orang dengan tetap tangguh di tengah sanksi internasional setelah invasi skala penuh Presiden Vladimir Putin ke Ukraina lebih dari tiga tahun lalu. Namun pada suatu titik, tampak berisiko overheating. Retakan dalam ekonomi senilai USD2 triliun dinilai sudah sangat jelas.
Baca Juga: Tangguhnya Ekonomi Rusia, Tetap Tak Goyah Dihantam Sanksi Barat
Pada bulan November 2025 diramalkan bakal menjadi tahun penghematan bagi konsumen saat Moskow terpaksa memilih senjata daripada pangan. Dinamika itu terlihat pekan ini: ketika Putin menghadiri upacara pengibaran bendera untuk kapal selam balistik bertenaga nuklir terbaru Rusia, yang kelima dari kelas Borei-A baru yang dibangun dalam enam tahun terakhir. Sedangkan penjualan mobil untuk bulan Juni mengalami penurunan sebesar 30%.
Perubahan ekonomi Rusia juga terlihat dalam langkah bank sentral Rusia pada hari Jumat yang memangkas suku bunga acuannya sebesar 2 poin persentase, setelah melakukan pengurangan 1 poin persentase bulan lalu. Kekhawatiran inflasi berubah menjadi kecemasan tentang pertumbuhan. Menteri Ekonomi Maxim Reshetnikov bahkan memperingatkan bulan lalu, "kami berada di ambang masuk ke dalam resesi."
Saat ini Lavrov menyoroti lanskap geopolitik yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dihadapi Rusia setelah eskalasi konflik Ukraina pada tahun 2022, yang menyebabkan ketegangan dengan Barat.
”Tugas utama adalah mengalahkan musuh. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Rusia berjuang sendirian melawan seluruh Barat. Dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II, kami memiliki sekutu. Sekarang kami tidak memiliki sekutu di medan perang. Jadi kami harus mengandalkan diri kami sendiri dan tidak mengizinkan adanya kelemahan,” katanya.
Baca Juga: Cadangan Internasional Rusia Sentuh Rekor Tertinggi Sepanjang Masa Rp11.137 Triliun
Negara ini tidak memiliki pilihan lain selain mengandalkan dirinya sendiri, kata menteri luar negeri. Ditekankan juga oleh Lavrov bahwa Rusia tidak akan mundur dari tuntutan keamanan yang menyebabkan konflik Ukraina.
"Kami bersikeras pada apa yang merupakan tuntutan sah kami... tidak ada penarikan Ukraina ke dalam NATO, tidak ada perluasan NATO sama sekali. Itu sudah meluas hingga ke perbatasan kami, bertentangan dengan semua janji dan dokumen yang telah diadopsi," katanya.
Ia juga menambahkan bahwa penyelesaian konflik juga harus mengakui realitas teritorial baru di lapangan. Lavrov juga menyamakan perilaku Barat dengan perilaku pengganggu anak-anak.
"Ketika Anda masih anak-anak bermain dengan anak laki-laki lain di halaman, terkadang seorang anak besar, yang lebih tua tiga atau empat tahun, muncul dan mulai mengejar yang kecil," katanya.
"Itu kira-kira apa yang dilakukan Barat kepada semua orang saat ini. "Moskow telah menyatakan pada sejumlah kesempatan bahwa perluasan NATO dan aspirasi Ukraina untuk bergabung dengan blok militer yang dipimpin AS adalah salah satu alasan utama untuk konflik tersebut.
Ia juga memperingatkan bahwa pengiriman senjata Barat ke Ukraina hanya memperpanjang permusuhan tanpa mengubah hasilnya, sementara menjadikan NATO sebagai pihak langsung dalam konflik.
Ekonomi Berat
Sementara itu Seorang penasihat utama Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan bahwa perekonomian Rusia menunjukkan tanda-tanda ketegangan serius dan membutuhkan pelonggaran kebijakan moneter secara cepat untuk mencegah penurunan yang lebih dalam.
Peringatan ini disampaikan Boris Titov, utusan presiden untuk kerja sama dengan organisasi internasional dalam tujuan pembangunan berkelanjutan, menyusul hasil survei terbaru dari lembaga peramalan ekonomi di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia.
Survei tersebut menilai aktivitas investasi di sektor industri dan infrastruktur pada musim semi tahun ini, yang menunjukkan adanya penurunan signifikan. "Hasilnya, meskipun sudah diperkirakan, tetap mengecewakan," ujar Titov dalam pernyataannya di kanal Telegram.
Menurut laporan itu, hanya 48% perusahaan yang saat ini melakukan investasi, menurun tajam dari 64% pada tahun lalu. Sementara itu, hanya 35% yang tengah bersiap meluncurkan produk baru, turun dari 50% sebelumnya.
Di sisi lain ekonomi Rusia mengejutkan banyak orang dengan tetap tangguh di tengah sanksi internasional setelah invasi skala penuh Presiden Vladimir Putin ke Ukraina lebih dari tiga tahun lalu. Namun pada suatu titik, tampak berisiko overheating. Retakan dalam ekonomi senilai USD2 triliun dinilai sudah sangat jelas.
Baca Juga: Tangguhnya Ekonomi Rusia, Tetap Tak Goyah Dihantam Sanksi Barat
Pada bulan November 2025 diramalkan bakal menjadi tahun penghematan bagi konsumen saat Moskow terpaksa memilih senjata daripada pangan. Dinamika itu terlihat pekan ini: ketika Putin menghadiri upacara pengibaran bendera untuk kapal selam balistik bertenaga nuklir terbaru Rusia, yang kelima dari kelas Borei-A baru yang dibangun dalam enam tahun terakhir. Sedangkan penjualan mobil untuk bulan Juni mengalami penurunan sebesar 30%.
Perubahan ekonomi Rusia juga terlihat dalam langkah bank sentral Rusia pada hari Jumat yang memangkas suku bunga acuannya sebesar 2 poin persentase, setelah melakukan pengurangan 1 poin persentase bulan lalu. Kekhawatiran inflasi berubah menjadi kecemasan tentang pertumbuhan. Menteri Ekonomi Maxim Reshetnikov bahkan memperingatkan bulan lalu, "kami berada di ambang masuk ke dalam resesi."
(akr)
Lihat Juga :