Ekonomi Rusia Terpuruk, Akankah Putin Akhiri Perang Ukraina?
Kamis, 31 Juli 2025 - 09:45 WIB
loading...
Presiden Rusia Vladimir Putin memasuki sebuah ruangan di Istana Besar Kremlin di Moskow, Rusia, pada Sabtu, 10 Mei 2025, dalam rangka perayaan ulang tahun ke-80 kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman selama Perang Dunia II. FOTO/AP
A
A
A
JAKARTA - Ekonomi Rusia mulai menunjukkan tanda-tanda tekanan signifikan akibat invasi ke Ukraina. Sektor-sektor utama menghadapi tantangan berat, sementara lembaga keuangan bersiap menghadapi potensi lonjakan kredit macet.
Situasi ini diperparah oleh inflasi yang membayangi dan ancaman sanksi internasional yang lebih ketat, terutama jika Presiden Vladimir Putin enggan menyerukan gencatan senjata sebelum pertengahan Agustus.
Sejak invasi pada Februari 2022, perekonomian Rusia sempat menunjukkan ketahanan yang mengejutkan, didukung oleh peningkatan masif pengeluaran militer. Namun, kini retakan mulai terlihat. Bank Sentral Rusia memperkirakan inflasi, yang sempat mencapai 9,5 persen pada 2024, akan menurun menjadi 7-8 persen pada 2025, seiring dengan penurunan suku bunga secara bertahap sejak Juni.
Baca Juga: Kekuatan Ekonomi Global Berubah Arah, BRICS Bakal Ungguli G7 Tiga Kali Lipat di 2028
Berdasarkan laporan dari Bloomberg dan Reuters, sejumlah indikator ekonomi mengisyaratkan perlambatan nyata. Permintaan baja, misalnya, diproyeksikan turun 10 persen tahun ini. Sementara itu, kondisi sektor perbankan disebut-sebut lebih mengkhawatirkan dari data resmi, dengan ancaman gagal bayar yang terus meningkat.
Kinerja ekonomi Rusia yang semula tumbuh 4,3 persen pada 2024, melampaui Inggris 1,1 persen dan Amerika Serikat 2,8 persen kini menghadapi ujian ketahanan jangka panjang. Para analis global yang sebelumnya terkejut dengan daya tahannya, kini memantau dengan seksama dampak akumulatif dari konflik dan sanksi.
Salah satu sektor yang paling terpukul adalah industri batu bara. Harga komoditas yang terus anjlok membuat sektor ini berada di ambang kehancuran. Laporan The Moscow Times menyebutkan bahwa kombinasi sanksi dan keterbatasan pasar ekspor telah memukul daya saing industri ini secara signifikan.
Ekonom Sofia Donets mengamati bahwa pertumbuhan ekonomi Rusia saat ini hampir sepenuhnya ditopang oleh sektor-sektor yang terkait langsung dengan perang. Senada, analis geopolitik Bloomberg Economics, Alex Kokcharov, menilai bahwa keputusan Kremlin kini sepenuhnya berfokus pada keberlanjutan perang, mengesampingkan stabilitas ekonomi domestik.
Baca Juga: Berapa Jumlah Korban Gempa Bumi di Rusia?
Bahkan, Kokcharov berpendapat bahwa ambisi sejarah lebih mendorong Putin ketimbang urgensi ekonomi. "Tujuan Putin bukan menyelamatkan sektor dalam negeri, tapi masuk dalam sejarah seperti Catherine the Great," ujarnya dikutip dari The Daily Diggest, Kamis (31/7).
Meski demikian, tidak semua ekonom di Rusia sepakat dengan pandangan pesimistis tersebut. Yevgeny Nadorshin, seorang ekonom yang berbasis di Moskow, menyebut bahwa meskipun tekanan ekonomi terus meningkat, krisis besar kemungkinan tidak akan terjadi. "Penurunannya akan ringan," kata Nadorshin kepada BBC, seraya menyebut proyeksi krisis besar sebagai "kebohongan total".
Namun, ketahanan ekonomi Rusia dapat berubah drastis jika sanksi baru diberlakukan, khususnya dari Amerika Serikat. Di bawah pemerintahan potensial Donald Trump, ancaman sanksi tidak hanya ditujukan kepada Rusia, tetapi juga negara-negara pembeli utama ekspor Rusia seperti Tiongkok, India, dan Brasil.
Senator AS dari Partai Republik, Lindsey Graham, bahkan secara tegas menyatakan bahwa Washington akan "menghantam ekonomi negara-negara yang membeli minyak murah dari Rusia," yang sebelumnya dialihkan dari pasar Eropa. Langkah ini, menurut Graham, dapat menjadi pukulan telak terhadap rezim Putin.
Meskipun demikian, para pengamat menilai kecil kemungkinan Putin akan tunduk pada tekanan ekonomi tersebut. Ia diperkirakan lebih memilih untuk bertahan menghadapi resesi ekonomi jangka menengah dibandingkan menghentikan perang melalui gencatan senjata yang dipaksakan.
Situasi ini diperparah oleh inflasi yang membayangi dan ancaman sanksi internasional yang lebih ketat, terutama jika Presiden Vladimir Putin enggan menyerukan gencatan senjata sebelum pertengahan Agustus.
Sejak invasi pada Februari 2022, perekonomian Rusia sempat menunjukkan ketahanan yang mengejutkan, didukung oleh peningkatan masif pengeluaran militer. Namun, kini retakan mulai terlihat. Bank Sentral Rusia memperkirakan inflasi, yang sempat mencapai 9,5 persen pada 2024, akan menurun menjadi 7-8 persen pada 2025, seiring dengan penurunan suku bunga secara bertahap sejak Juni.
Baca Juga: Kekuatan Ekonomi Global Berubah Arah, BRICS Bakal Ungguli G7 Tiga Kali Lipat di 2028
Berdasarkan laporan dari Bloomberg dan Reuters, sejumlah indikator ekonomi mengisyaratkan perlambatan nyata. Permintaan baja, misalnya, diproyeksikan turun 10 persen tahun ini. Sementara itu, kondisi sektor perbankan disebut-sebut lebih mengkhawatirkan dari data resmi, dengan ancaman gagal bayar yang terus meningkat.
Kinerja ekonomi Rusia yang semula tumbuh 4,3 persen pada 2024, melampaui Inggris 1,1 persen dan Amerika Serikat 2,8 persen kini menghadapi ujian ketahanan jangka panjang. Para analis global yang sebelumnya terkejut dengan daya tahannya, kini memantau dengan seksama dampak akumulatif dari konflik dan sanksi.
Salah satu sektor yang paling terpukul adalah industri batu bara. Harga komoditas yang terus anjlok membuat sektor ini berada di ambang kehancuran. Laporan The Moscow Times menyebutkan bahwa kombinasi sanksi dan keterbatasan pasar ekspor telah memukul daya saing industri ini secara signifikan.
Ekonom Sofia Donets mengamati bahwa pertumbuhan ekonomi Rusia saat ini hampir sepenuhnya ditopang oleh sektor-sektor yang terkait langsung dengan perang. Senada, analis geopolitik Bloomberg Economics, Alex Kokcharov, menilai bahwa keputusan Kremlin kini sepenuhnya berfokus pada keberlanjutan perang, mengesampingkan stabilitas ekonomi domestik.
Baca Juga: Berapa Jumlah Korban Gempa Bumi di Rusia?
Bahkan, Kokcharov berpendapat bahwa ambisi sejarah lebih mendorong Putin ketimbang urgensi ekonomi. "Tujuan Putin bukan menyelamatkan sektor dalam negeri, tapi masuk dalam sejarah seperti Catherine the Great," ujarnya dikutip dari The Daily Diggest, Kamis (31/7).
Meski demikian, tidak semua ekonom di Rusia sepakat dengan pandangan pesimistis tersebut. Yevgeny Nadorshin, seorang ekonom yang berbasis di Moskow, menyebut bahwa meskipun tekanan ekonomi terus meningkat, krisis besar kemungkinan tidak akan terjadi. "Penurunannya akan ringan," kata Nadorshin kepada BBC, seraya menyebut proyeksi krisis besar sebagai "kebohongan total".
Namun, ketahanan ekonomi Rusia dapat berubah drastis jika sanksi baru diberlakukan, khususnya dari Amerika Serikat. Di bawah pemerintahan potensial Donald Trump, ancaman sanksi tidak hanya ditujukan kepada Rusia, tetapi juga negara-negara pembeli utama ekspor Rusia seperti Tiongkok, India, dan Brasil.
Senator AS dari Partai Republik, Lindsey Graham, bahkan secara tegas menyatakan bahwa Washington akan "menghantam ekonomi negara-negara yang membeli minyak murah dari Rusia," yang sebelumnya dialihkan dari pasar Eropa. Langkah ini, menurut Graham, dapat menjadi pukulan telak terhadap rezim Putin.
Meskipun demikian, para pengamat menilai kecil kemungkinan Putin akan tunduk pada tekanan ekonomi tersebut. Ia diperkirakan lebih memilih untuk bertahan menghadapi resesi ekonomi jangka menengah dibandingkan menghentikan perang melalui gencatan senjata yang dipaksakan.
(nng)
Lihat Juga :