Era Baru Keuangan Global, Mata Uang BRICS Siap Diluncurkan di 2026
Rabu, 13 Agustus 2025 - 07:41 WIB
loading...
Presiden Rusia Vladimir Putin memegang apa yang tampak seperti uang kertas untuk negara-negara BRICS dalam sebuah KTT di Kazan. FOTO/Stanislav Krasilnikov/Photohost
A
A
A
JAKARTA - Inisiatif mata uang bersama BRICS kini mendapatkan momentum dengan Brasil memimpin upaya menuju peluncuran pada 2026 mendatang. Perkembangan ini menandai era baru keuangan global, yang secara terang-terangan menantang dominasi panjang dolar Amerika Serikat (AS).
Kemajuan terbaru dalam pengembangan mata uang BRICS mencakup perancangan sistem pembayaran digital yang canggih serta perluasan skema penyelesaian transaksi menggunakan mata uang lokal antarnegara anggota. Kejelasan mengenai jadwal rilis mata uang baru ini semakin mengukuhkan komitmen blok ekonomi tersebut.
Inisiatif ini juga didorong tekanan eksternal, terutama tarif yang dikenakan AS terhadap ekspor negara-negara anggota BRICS. Kondisi ini semakin mempertegas kebutuhan akan alternatif mata uang internasional.
Baca Juga: Gelombang Baru BRICS, 32 Negara Berebut Kursi Keanggotaan
Mata uang BRICS memperoleh dukungan kuat selama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2024 di Kazan, Rusia. Pada KTT tersebut, kemajuan substansial dicapai dalam kerangka kerja sama moneter serta inisiatif strategis kunci lainnya.
Presiden Rusia Vladimir Putin sempat menunjukkan apa yang tampak seperti prototipe uang kertas BRICS, meskipun ia kemudian menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari pendekatan strategis blok dalam menetapkan kerangka pengembangan di masa depan.
"Kami tidak menolak, tidak melawan dolar, tetapi jika mereka tidak mengizinkan kami bekerja dengannya, apa yang bisa kami lakukan? Kami kemudian harus mencari alternatif lain, dan itu sedang terjadi," ujar Putin seperti dikutip dari Watcher Guru, Rabu (13/8).
Meskipun tanpa kehadiran beberapa pemimpin kunci di bidang diplomatik, KTT Brasil 2025 diharapkan dapat melanjutkan kemajuan mata uang BRICS. Para analis dari UltimaMarkets mengamati tanda-tanda positif menuju tanggal rilis yang ditargetkan pada tahun 2026, seiring dengan posisi strategis negara-negara anggota dalam memanfaatkan mekanisme penyelesaian digital melalui berbagai kerangka teknologi mutakhir.
Tarif AS terhadap ekspor Brasil secara signifikan mempercepat inisiatif mata uang baru BRICS di negara tersebut, sekaligus mengubah lanskap geopolitik. Koordinasi Presiden Luiz Inácio Lula da Silva dengan para pemimpin BRICS lainnya telah memicu resistensi terpadu terhadap tekanan ekonomi Amerika. Mata uang bersama BRICS berfungsi sebagai respons strategis terhadap situasi ini.
Presiden Brasil Lula da Silva dan Presiden China Xi Jinping telah memimpin respons terkoordinasi tersebut. Keduanya bertekad untuk menolak unilateralisme dan proteksionisme melalui kerja sama BRICS yang lebih mendalam di berbagai bidang kebijakan penting. Pembatalan pertemuan antara Menteri Keuangan Brasil dan Menteri Keuangan AS baru-baru ini semakin menunjukkan meningkatnya ketegangan bilateral.
Baca Juga: Gedung Putih Ungkap Trump dan Putin akan Bertemu di Anchorage Alaska
Dari sisi manfaat ekonomi, kemajuan mata uang BRICS diyakini dapat mengoptimalkan efisiensi transaksi dan mengurangi ketergantungan pada dolar dalam berbagai infrastruktur keuangan besar. Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalal, menekankan kepentingan strategis ini selama forum Rusia–Dunia Islam, menetapkan kerangka kerja sama yang lebih luas.
Jalal menegaksan bahwa Iran dan Rusia secara aktif bekerja sama untuk merealisasikan mata uang bersama BRICS, dengan tujuan mengurangi dampak ekonomi dari sanksi AS. "Linimasa perilisan mata uang BRICS juga memelopori pengembangan infrastruktur digital yang menjanjikan, didukung oleh teknologi blockchain dan integrasi mata uang digital bank sentral (CBDC) yang berkembang pesat di negara-negara anggota," tegas dia.
Kepemimpinan Brasil dalam inisiatif mata uang baru BRICS terus mendorong momentum menuju implementasi penuh pada tahun 2026 di berbagai sektor kebijakan utama. Koordinasi ekonomi antarnegara anggota terus dimaksimalkan, meskipun terdapat perbedaan tingkat inflasi dan kebijakan moneter yang berlaku.
Kemajuan terbaru dalam pengembangan mata uang BRICS mencakup perancangan sistem pembayaran digital yang canggih serta perluasan skema penyelesaian transaksi menggunakan mata uang lokal antarnegara anggota. Kejelasan mengenai jadwal rilis mata uang baru ini semakin mengukuhkan komitmen blok ekonomi tersebut.
Inisiatif ini juga didorong tekanan eksternal, terutama tarif yang dikenakan AS terhadap ekspor negara-negara anggota BRICS. Kondisi ini semakin mempertegas kebutuhan akan alternatif mata uang internasional.
Baca Juga: Gelombang Baru BRICS, 32 Negara Berebut Kursi Keanggotaan
Mata uang BRICS memperoleh dukungan kuat selama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2024 di Kazan, Rusia. Pada KTT tersebut, kemajuan substansial dicapai dalam kerangka kerja sama moneter serta inisiatif strategis kunci lainnya.
Presiden Rusia Vladimir Putin sempat menunjukkan apa yang tampak seperti prototipe uang kertas BRICS, meskipun ia kemudian menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari pendekatan strategis blok dalam menetapkan kerangka pengembangan di masa depan.
"Kami tidak menolak, tidak melawan dolar, tetapi jika mereka tidak mengizinkan kami bekerja dengannya, apa yang bisa kami lakukan? Kami kemudian harus mencari alternatif lain, dan itu sedang terjadi," ujar Putin seperti dikutip dari Watcher Guru, Rabu (13/8).
Meskipun tanpa kehadiran beberapa pemimpin kunci di bidang diplomatik, KTT Brasil 2025 diharapkan dapat melanjutkan kemajuan mata uang BRICS. Para analis dari UltimaMarkets mengamati tanda-tanda positif menuju tanggal rilis yang ditargetkan pada tahun 2026, seiring dengan posisi strategis negara-negara anggota dalam memanfaatkan mekanisme penyelesaian digital melalui berbagai kerangka teknologi mutakhir.
Tarif AS terhadap ekspor Brasil secara signifikan mempercepat inisiatif mata uang baru BRICS di negara tersebut, sekaligus mengubah lanskap geopolitik. Koordinasi Presiden Luiz Inácio Lula da Silva dengan para pemimpin BRICS lainnya telah memicu resistensi terpadu terhadap tekanan ekonomi Amerika. Mata uang bersama BRICS berfungsi sebagai respons strategis terhadap situasi ini.
Presiden Brasil Lula da Silva dan Presiden China Xi Jinping telah memimpin respons terkoordinasi tersebut. Keduanya bertekad untuk menolak unilateralisme dan proteksionisme melalui kerja sama BRICS yang lebih mendalam di berbagai bidang kebijakan penting. Pembatalan pertemuan antara Menteri Keuangan Brasil dan Menteri Keuangan AS baru-baru ini semakin menunjukkan meningkatnya ketegangan bilateral.
Baca Juga: Gedung Putih Ungkap Trump dan Putin akan Bertemu di Anchorage Alaska
Dari sisi manfaat ekonomi, kemajuan mata uang BRICS diyakini dapat mengoptimalkan efisiensi transaksi dan mengurangi ketergantungan pada dolar dalam berbagai infrastruktur keuangan besar. Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalal, menekankan kepentingan strategis ini selama forum Rusia–Dunia Islam, menetapkan kerangka kerja sama yang lebih luas.
Jalal menegaksan bahwa Iran dan Rusia secara aktif bekerja sama untuk merealisasikan mata uang bersama BRICS, dengan tujuan mengurangi dampak ekonomi dari sanksi AS. "Linimasa perilisan mata uang BRICS juga memelopori pengembangan infrastruktur digital yang menjanjikan, didukung oleh teknologi blockchain dan integrasi mata uang digital bank sentral (CBDC) yang berkembang pesat di negara-negara anggota," tegas dia.
Kepemimpinan Brasil dalam inisiatif mata uang baru BRICS terus mendorong momentum menuju implementasi penuh pada tahun 2026 di berbagai sektor kebijakan utama. Koordinasi ekonomi antarnegara anggota terus dimaksimalkan, meskipun terdapat perbedaan tingkat inflasi dan kebijakan moneter yang berlaku.
(nng)
Lihat Juga :