Kilas Balik Hubungan AS-Rusia, Akankah Bisnis Kedua Negara Kembali Bersemi di Era Trump?
Minggu, 17 Agustus 2025 - 09:51 WIB
loading...
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin mengadakan konferensi pers setelah pertemuan mereka di Anchorage, Alaska. FOTO/AP
A
A
A
LONDON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan isyarat kuat kembali menjalin hubungan bisnis dengan Rusia. Namun, niatan ini dipandang sebagai jalan terjal yang penuh tantangan, mengingat beratnya sanksi yang dijatuhkan dan eksodus massal perusahaan-perusahaan Barat yang terjadi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump di atas pesawat Air Force One, menjelang pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska. Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk membuka jalan bagi kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina. Jika hubungan antara Moskow dan Washington membaik, peluang bagi perusahaan AS untuk kembali berbisnis di Rusia akan terbuka lebar.
"Saya perhatikan (Putin) membawa banyak pengusaha dari Rusia, dan itu bagus," ujar Trump, dikutip dari CNN, Minggu (17/8).
"Saya suka itu, karena mereka ingin berbisnis, tetapi mereka tidak akan melakukannya sampai kita menyelesaikan perang."
Baca Juga: Langka, Jet Tempur Siluman F-35 dan F-22 AS Mengawal Putin Pulang
Pernyataan Trump sejalan dengan harapan Rusia. Sebelumnya, Menteri Keuangan Anton Siluanov dan kepala dana kekayaan negara Rusia, Kirill Dmitriev, telah menyatakan minat mereka untuk kembali menjalin hubungan ekonomi.
"Jika kita membuat kemajuan, saya akan membahas peluang bisnis itu, karena itulah salah satu hal yang mereka inginkan; mereka ingin mendapatkan bagian dari apa yang telah saya bangun dalam hal ekonomi," tambah Trump.
Meskipun sinyal positif datang dari Gedung Putih, mengembalikan iklim bisnis yang kondusif di Rusia bukanlah perkara mudah. Sejak invasi pada Februari 2022, lebih dari 1.000 perusahaan global, termasuk nama-nama besar seperti Apple, Goldman Sachs, dan Mastercard, telah menghentikan atau mengurangi operasi mereka di Rusia sebagai bentuk protes, menurut data dari Yale School of Management.
Baca Juga: Gaungkan Selatan Global, China dan Brasil Bakal Umumkan Induk BRICS Baru
Selain itu, Rusia juga telah beradaptasi dengan kondisi baru. Sanksi ekonomi yang dipimpin negara-negara Barat menargetkan sektor energi Rusia. Namun, sebagai respons, Rusia telah berhasil mengalihkan ekspor minyak dan gasnya ke pasar alternatif. Negara-negara seperti India dan Tiongkok kini menjadi pembeli utama. Menurut perusahaan data energi Vortexa, Rusia saat ini memasok 36% dari total impor minyak mentah India.
Kebijakan luar biasa seperti batas harga minyak Rusia yang diberlakukan oleh Kelompok Tujuh (G7) pada 2022 juga akan sulit dicabut tanpa dukungan internasional. Batas harga ini dirancang untuk memangkas pendapatan Moskow sambil tetap memastikan pasokan minyak mengalir ke pasar global.
Menurut peneliti Janis Kluge dari German Institute for International and Security Affairs, AS tidak dapat mengizinkan kembali bank-bank Rusia ke jaringan SWIFT tanpa persetujuan Uni Eropa, karena SWIFT berbasis di Belgia.
Kondisi korupsi di Rusia juga menjadi hambatan serius. Organisasi nirlaba Transparency International menempatkan Rusia di peringkat 136 dari 180 negara dalam hal persepsi korupsi sektor publik pada 2021, setara dengan Liberia.
Gagasan Trump untuk berbisnis kembali dengan Rusia bisa menjadi sangat rumit. Langkah ini membutuhkan lebih dari sekadar kesepakatan diplomatik, tetapi juga perubahan besar dalam kebijakan sanksi, hubungan internasional, dan perbaikan fundamental dalam sistem ekonomi Rusia itu sendiri.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump di atas pesawat Air Force One, menjelang pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska. Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk membuka jalan bagi kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina. Jika hubungan antara Moskow dan Washington membaik, peluang bagi perusahaan AS untuk kembali berbisnis di Rusia akan terbuka lebar.
"Saya perhatikan (Putin) membawa banyak pengusaha dari Rusia, dan itu bagus," ujar Trump, dikutip dari CNN, Minggu (17/8).
"Saya suka itu, karena mereka ingin berbisnis, tetapi mereka tidak akan melakukannya sampai kita menyelesaikan perang."
Baca Juga: Langka, Jet Tempur Siluman F-35 dan F-22 AS Mengawal Putin Pulang
Pernyataan Trump sejalan dengan harapan Rusia. Sebelumnya, Menteri Keuangan Anton Siluanov dan kepala dana kekayaan negara Rusia, Kirill Dmitriev, telah menyatakan minat mereka untuk kembali menjalin hubungan ekonomi.
"Jika kita membuat kemajuan, saya akan membahas peluang bisnis itu, karena itulah salah satu hal yang mereka inginkan; mereka ingin mendapatkan bagian dari apa yang telah saya bangun dalam hal ekonomi," tambah Trump.
Meskipun sinyal positif datang dari Gedung Putih, mengembalikan iklim bisnis yang kondusif di Rusia bukanlah perkara mudah. Sejak invasi pada Februari 2022, lebih dari 1.000 perusahaan global, termasuk nama-nama besar seperti Apple, Goldman Sachs, dan Mastercard, telah menghentikan atau mengurangi operasi mereka di Rusia sebagai bentuk protes, menurut data dari Yale School of Management.
Baca Juga: Gaungkan Selatan Global, China dan Brasil Bakal Umumkan Induk BRICS Baru
Selain itu, Rusia juga telah beradaptasi dengan kondisi baru. Sanksi ekonomi yang dipimpin negara-negara Barat menargetkan sektor energi Rusia. Namun, sebagai respons, Rusia telah berhasil mengalihkan ekspor minyak dan gasnya ke pasar alternatif. Negara-negara seperti India dan Tiongkok kini menjadi pembeli utama. Menurut perusahaan data energi Vortexa, Rusia saat ini memasok 36% dari total impor minyak mentah India.
Kebijakan luar biasa seperti batas harga minyak Rusia yang diberlakukan oleh Kelompok Tujuh (G7) pada 2022 juga akan sulit dicabut tanpa dukungan internasional. Batas harga ini dirancang untuk memangkas pendapatan Moskow sambil tetap memastikan pasokan minyak mengalir ke pasar global.
Terhambat Uni Eropa
Selain sanksi energi, tantangan lain juga datang dari sektor perbankan. Sistem perbankan Rusia telah terputus dari jaringan global utama. Tak lama setelah invasi, AS, Uni Eropa, Inggris, dan Kanada secara kolektif melarang sejumlah bank Rusia dari layanan pesan SWIFT, jaringan yang menghubungkan ribuan lembaga keuangan di seluruh dunia.Menurut peneliti Janis Kluge dari German Institute for International and Security Affairs, AS tidak dapat mengizinkan kembali bank-bank Rusia ke jaringan SWIFT tanpa persetujuan Uni Eropa, karena SWIFT berbasis di Belgia.
Kondisi korupsi di Rusia juga menjadi hambatan serius. Organisasi nirlaba Transparency International menempatkan Rusia di peringkat 136 dari 180 negara dalam hal persepsi korupsi sektor publik pada 2021, setara dengan Liberia.
Gagasan Trump untuk berbisnis kembali dengan Rusia bisa menjadi sangat rumit. Langkah ini membutuhkan lebih dari sekadar kesepakatan diplomatik, tetapi juga perubahan besar dalam kebijakan sanksi, hubungan internasional, dan perbaikan fundamental dalam sistem ekonomi Rusia itu sendiri.
(nng)
Lihat Juga :