Kesepakatan Tarif Trump Bikin AS Untung, Uni Eropa Buntung: Janjikan Rp18.629 Triliun

Minggu, 24 Agustus 2025 - 11:03 WIB
loading...
Kesepakatan Tarif Trump...
Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS) telah menetapkan rincian kerangka kesepakatan perdagangan dalam negosiasi tarif Donald Trump. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS) telah menetapkan rincian kerangka kesepakatan perdagangan dalam negosiasi tarif Donald Trump, dalam pernyataan bersama yang dirilis pada hari Kamis kemarin waktu setempat. Sementara Washington memuji perjanjian tersebut, sejumlah pemimpin UE mengkritiknya sebagai kesepakatan yang tidak seimbang.

Kesepakatan perdagangan UE dan AS mencakup tarif 15% untuk sebagian besar ekspor Uni Eropa ke AS. Sedangkan Brussel sepakat menghapus tarif pada barang-barang industri Amerika dan memberikan akses pasar preferensial untuk berbagai macam makanan laut dan barang pertanian.

Selain itu, UE juga setuju untuk membeli energi senilai USD750 miliar setara Rp12.012 triliun (kurs Rp16.016 per USD) dari AS dan berinvestasi USD600 miliar (senilai Rp9.609 triliun) di AS selama tiga tahun ke depan.

Baca Juga: 3 Sinyal Ekonomi Amerika Serikat di Ambang Resesi

"Agenda Perdagangan America First telah mengamankan mitra dagang yang paling penting, menciptakan kemenangan besar bagi pekerja, industri, dan keamanan nasional kita," kata Sekretaris Perdagangan AS Howard Lutnick dalam sebuah posting di X, mengomentari penutupan kesepakatan itu.

“Tarif seharusnya menjadi salah satu kata favorit Amerika,” tambah pejabat tersebut, yang menggambarkan kesepakatan itu sebagai “saling menguntungkan, adil, dan seimbang".

Sementara menurut Komisioner Perdagangan UE Maros Sefcovic, kesepakatan yang dicapai “setelah keterlibatan yang intensif dan konstruktif,” adalah “langkah pertama yang kuat dalam memberikan stabilitas, prediktabilitas, dan peluang.”“Bantuan akan datang untuk banyak sektor, termasuk industri mobil,” katanya dalam sebuah postingan di X.

Presiden AS, Donald Trump dan Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen menyelesaikan perjanjian perdagangan yang lebih luas pada bulan Juli, setelah berbulan-bulan negosiasi intens antara Washington dan Brussel.

Namun perjanjian tersebut mendapatkan kecaman keras dari beberapa pejabat Eropa saat ini dan sebelumnya, yang berpendapat bahwa perjanjian itu secara tidak proporsional menguntungkan Washington. Mantan kepala kebijakan luar negeri UE Josep Borrell mengatakan, bahwa kesepakatan itu merusak otonomi strategis blok tersebut.

Baca Juga: Tarif Trump Tak Akan Cukup Bayar Utang Rp603.174 Triliun, AS Bakal Krisis?

Ia memberikan catatan kontradiksi dalam memfinansialisasi industri pertahanan Eropa sambil berkomitmen untuk membeli senjata besar-besaran dari AS. Dia juga mempertanyakan praktisnya mengimpor dalam jumlah besar gas Amerika.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron juga menyuarakan kekecewaannya terhadap perjanjian tersebut, sementara Marine Le Pen menyebut kesepakatan itu sebagai "kekacauan." Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban menuduh von der Leyen melampaui wewenangnya dan mengklaim bahwa "Trump menghabisinya".

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Genderang Perang Dagang,...
Genderang Perang Dagang, Trump Ancam Tarif 100% yang Berani Pajaki Google, Meta, dan Apple!
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
Ekspor Minyak Venezuela...
Ekspor Minyak Venezuela Melesat jadi 1,25 Juta Barel per Hari, AS hingga Eropa Rebutan
Badai PHK Guncang Inggris...
Badai PHK Guncang Inggris di Tengah Perang AS-Iran, Tembus Rekor Tertinggi 5 Tahun
China Komitmen Borong...
China Komitmen Borong Produk Pertanian AS Senilai Rp301 Triliun hingga 2028
Bumi Eropa Membara,...
Bumi Eropa Membara, Dunia Memilih Bisu: Pelajaran dari Gelombang Panas yang Tak Lagi Anomali
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
3 Alasan Denmark Larang...
3 Alasan Denmark Larang Mengumandangkan Azan, Tidak Ingin Seperti Islamabad
Rekomendasi
Gerakan Pangan Murah...
Gerakan Pangan Murah Partai Perindo Ringankan Beban Warga Kendari
Ketika Gen Z Membawa...
Ketika Gen Z Membawa Orang Tua ke Ruang Interview
Kejari Jaksel Sebut...
Kejari Jaksel Sebut Praperadilan Roy Suryo Salah Alamat
Berita Terkini
MNC Sekuritas Bekali...
MNC Sekuritas Bekali Mahasiswa FEB UNIS Tangerang dengan Edukasi Investasi Syariah dan Pelindungan Konsumen
Fenomena Baru Investasi:...
Fenomena Baru Investasi: Tokenisasi Aset Buka Akses ke Saham AS, Minat Investor RI Melonjak
Pascaramai Diprotes,...
Pascaramai Diprotes, Menkeu Purbaya Klaim 95,45% Pencairan JHT Bebas Pajak
Tingkatkan Efisiensi...
Tingkatkan Efisiensi Layanan, ASABRI Digitalisasi 2.000 Klaim Peserta
Tiga Bank Asing Besar...
Tiga Bank Asing Besar Tarik Uang Rp11,5 Triliun dari Indonesia, Ada Apa?
RGI dan NNA Jalin Kemitraan,...
RGI dan NNA Jalin Kemitraan, Perluas Distribusi SKT ke Wilayah Baru
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved