Putin, Xi dan Modi Bertemu Pekan Ini, Bahas Pasokan Minyak di Tengah Tekanan AS

Jum'at, 29 Agustus 2025 - 07:43 WIB
loading...
Putin, Xi dan Modi Bertemu...
Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Perdana Menteri Narendra Modi memasuki sebuah ruangan untuk foto bersama saat KTT BRICS di Kazan, Rusia. FOTO/Reuters
A A A
JAKARTA - Presiden Rusia Vladimir Putin mendapat kesempatan langka untuk bertemu dua mitra energi terpentingnya, Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden China Xi Jinping, akhir pekan ini. Pertemuan ini berlangsung di tengah meningkatnya tekanan internasional dan kebutuhan Rusia untuk mengamankan pasar ekspor energi yang stabil.

Menurut laporan Bloomberg, pertemuan tersebut digelar di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Shanghai Cooperation Organization (SCO) yang dimulai Minggu di Kota Pelabuhan Tianjin, China. Forum ini mempertemukan para pemimpin lebih dari selusin negara dan menjadi ajang pertemuan tatap muka pertama Putin, Modi, dan Xi sejak KTT di Rusia tahun lalu.

Bagi Putin, pembicaraan dengan Modi dan Xi memiliki arti strategis. Kepada India, Moskow berharap New Delhi tetap mempertahankan tingkat pembelian minyak mentah Rusia meski mendapat tekanan keras dari Amerika Serikat. Sementara dengan Beijing, Kremlin berupaya mendorong persetujuan pembangunan jalur pipa gas Power of Siberia 2 yang telah lama dibicarakan, guna menggantikan sebagian ekspor gas ke Eropa yang terhenti akibat sanksi Barat.

Baca Juga: Lebih 50 Negara Antre Gabung BRICS, Ancam Kekuasaan AS di Panggung Global

Sejak invasi Rusia ke Ukraina, ketiga negara ini membentuk semacam "segitiga energi" yang menguntungkan. Menurut Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih, sepanjang 2023 lebih dari separuh ekspor energi Rusia dibeli China dan India. "Hubungan ini menjadi kunci bagi Kremlin karena industri minyak dan gas tetap menjadi sumber utama pendapatan ekspor Rusia," ujar Alexander Gabuev, Direktur Carnegie Russia Eurasia Center.

Namun, mempererat kerja sama itu bukan tanpa tantangan. India kerap mencurigai agenda China di kawasan, sementara Beijing sendiri berhati-hati agar tidak terlalu bergantung pada satu pemasok energi. “Beijing harus mencari cara untuk menarik Delhi, dan Moskow pun perlu memastikan kerja sama ini menguntungkan India,” kata Ja Ian Chong, akademisi dari Universitas Nasional Singapura.

Data Badan Energi Internasional menunjukkan, ekspor harian minyak Rusia ke China mencapai 2,1 juta barel, dan 1,9 juta barel ke India sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini. Namun, pembelian India kini berada dalam tekanan. Pemerintahan Amerika Serikat (AS) menaikkan tarif hingga 50 persen terhadap produk India sebagai sanksi atas pembelian minyak murah dari Rusia.

Meski demikian, India belum sepenuhnya menghentikan pembelian. Mulai Oktober, kilang-kilang India berencana mengimpor 1,4 hingga 1,6 juta barel per hari, turun dari rata-rata 1,8 juta barel pada semester pertama tahun ini. Penurunan ini dapat mengurangi keuntungan India yang selama ini menghemat hampir USD10 per barel dibandingkan membeli minyak Arab Saudi.

Di sisi lain, Rusia semakin gencar menawarkan gas alam cair (LNG) ke China, termasuk dari fasilitas Arctic LNG 2 yang terkena sanksi Amerika. Pekan lalu, kapal tanker pertama dari proyek itu berhasil merapat di pelabuhan China. Proyek tersebut menjadi kunci rencana Rusia untuk melipatgandakan ekspor LNG melalui jalur laut pada 2030, menggantikan penurunan ekspor pipa ke Eropa.

Baca Juga: Serangan Drone Laut Rusia Tenggelamkan Kapal Perang Ukraina

Sementara itu, rencana pembangunan jalur pipa Power of Siberia 2 masih terkatung-katung. Jalur sepanjang 2.600 kilometer ini digadang-gadang dapat mengalirkan 50 miliar meter kubik gas per tahun dari Semenanjung Yamal ke China, menggantikan sebagian pasar Eropa. Namun, Beijing masih enggan memberikan komitmen penuh karena kebutuhan gas yang melambat, meningkatnya produksi domestik, dan berkembangnya pasar LNG yang lebih fleksibel.

"China tidak ingin terlalu bergantung pada satu pemasok," kata Erica Downs, peneliti di Center on Global Energy Policy Universitas Columbia. Menurutnya, meski proyek itu belum mendapat lampu hijau, situasi global dapat mendorong Beijing mempertimbangkan kembali, terutama jika mendapat tawaran harga yang menguntungkan.

Pertemuan di Tianjin ini diperkirakan tidak akan menghasilkan terobosan besar, tetapi menjadi sinyal kuat bahwa ketiga negara tetap menjaga kerja sama energi di tengah dinamika geopolitik global.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
10 Presiden Terkaya...
10 Presiden Terkaya Sepanjang Sejarah AS, Trump Jauh Lebih Unggul dari Pendahulunya
24 Negara Pembeli Minyak...
24 Negara Pembeli Minyak Terbesar AS, Cek Posisi Indonesia
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
Prabowo Batal Hadiri...
Prabowo Batal Hadiri KTT ASEAN-Rusia, Istana Ungkap Alasannya
Iran Kecam Perlakuan...
Iran Kecam Perlakuan Buruk AS di Piala Dunia: Tim yang Paling Ditindas
Iran dan Oman Tegaskan...
Iran dan Oman Tegaskan Komitmen Navigasi Maritim Aman melalui Selat Hormuz setelah Kesepakatan dengan AS
Rekomendasi
Ini Teks Resmi 14 Poin...
Ini Teks Resmi 14 Poin Kesepakatan Damai AS dan Iran
Kesepakatan Iran Mencakup...
Kesepakatan Iran Mencakup Dana Rp5.327 Triliun, Setengahnya Sudah Jadi Komitmen
KPK Periksa Mantan Stafsus...
KPK Periksa Mantan Stafsus Menag Gus Yaqut terkait Kasus Kuota Haji
Berita Terkini
Dokumen Rahasia Bocor!...
Dokumen Rahasia Bocor! Qatar Diam-diam Tawarkan Kesepakatan Gelap ke Iran
Menhub Minta Tambahan...
Menhub Minta Tambahan Anggaran Rp20 Triliun, Buat Apa?
Purbaya Temui Menkeu...
Purbaya Temui Menkeu China, Perkuat Kerja Sama Pembiayaan dan Investasi
Harga Minyak Dunia Anjlok,...
Harga Minyak Dunia Anjlok, Kapan Pertamax Ikut Turun?
NHM Raih PROPER Biru...
NHM Raih PROPER Biru KLHK, Tegaskan Komitmen terhadap Pengelolaan Lingkungan yang Taat dan Berkelanjutan
Mau Bebas Iuran Tahunan...
Mau Bebas Iuran Tahunan Seumur Hidup? Yuk, Ajukan Kartu Kredit MNC Bank Sekarang
Infografis
Kapal Induk Kedua Tiba...
Kapal Induk Kedua Tiba di Timur Tengah, AS Serius Ancam Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved