Data Ekonomi Terbaru dari BPS: Neraca Dagang Surplus 63 Bulan, Nilai Tukar Petani Naik

Senin, 01 September 2025 - 20:32 WIB
loading...
Data Ekonomi Terbaru...
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan beberapa data ekonomi terbaru di tengah panasnya kondisi domestik yang diwarnai aksi demo hingga berujung ricuh. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan beberapa data ekonomi terbaru di tengah panasnya kondisi domestik yang diwarnai aksi demo hingga berujung ricuh. Demonstrasi menuntut pembubaran DPR karena dinilai gagal menjalankan fungsi legislatif, berujung kemarahan dan membesar ketika polisi yang menangani para pendemo hingga menewaskan seorang pengemudi ojek online.

Kini di awal pekan setelah kondisi yang memanas, BPS mengumumkan Neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus USD23,65 miliar sepanjang periode Januari hingga Juli 2025, atau naik USD7,40 miliar dibanding dengan periode yang sama tahun lalu.

”Dengan demikian, Indonesia telah mencatatkan surplus selama 63 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus sepanjang Januari-Juli 2025 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar USD34,06 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit USD10,41 miliar," ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini di Jakarta, Senin (1/9/2025).

Baca Juga: BPS Minta Tambahan Anggaran Jumbo Rp1,65 Triliun, Buat Apa?

Menurutnya, nilai ekspor Januari-Juli 2025 naik 8,03% dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, yang mencatat nilai ekspor sebesar USD128,13 miliar, atau naik 17,40 persen.

Tiga besar negara tujuan ekspor Indonesia adalah China, Amerika Serikat, dan India. Kontribusi ketiga negara ini sekitar 41,53% dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-Juli 2025. China tetap menjadi pasar ekspor utama komoditas nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai USD34,46 miliar (22,64%), disusul Amerika Serikat sebesar USD17,89 miliar (11,75%) dan India sebesar USD10,87 miliar (7,14%).

Ekspor ke China didominasi oleh besi dan baja, bahan bakar mineral, serta produk nikel. Sementara ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik, pakaian dan aksesorisnya (rajutan), serta alas kaki.

Nilai impor Indonesia pada Januari-Juli 2025 mencapai USD136,51 miliar atau meningkat 3,41% dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Penyumbang utama masih berasal dari sektor nonmigas, dengan nilai impor USD118,13 miliar, naik 6,97%. Sedangkan impor sektor migas mengalami penurunan sebesar 14,79% menjadi USD18,38 miliar.

Dilihat dari sisi penggunaan, peningkatan impor terjadi pada bahan baku atau penolong, serta barang modal. Nilai impor barang modal, sebagai andil utama peningkatan impor, mencapai USD27,38 miliar atau naik 20,56% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sepanjang periode Januari-Juli 2025, Chinamenjadi negara utama asal impor nonmigas Indonesia dengan nilai USD47,67 miliar (40,35%), diikuti Jepang sebesar USD8,77 miliar (7,43%), dan Amerika Serikat sebesar USD5,75 miliar (4,87%). Impor dari China didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, serta kendaraan dan bagiannya.

Surplus perdagangan nonmigas sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini sebagian besar ditopang oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewani/nabati (USD19,24 miliar), bahan bakar mineral (USD15,41 miliar), besi dan baja (USD10,70 miliar), produk nikel (USD4,77 miliar), serta alas kaki (USD3,77 miliar).

Deflasi Agustus 2025

BPS mencatat pada bulan Agustus 2025 terjadi deflasi sebesar 0,08% (m-to-m). Secara tahunan, terjadi inflasi sebesar 2,31%, dan secara tahun kalender terjadi inflasi sebesar 1,60%.

Pudji menambahkan, bila merunut data historis, terjadi deflasi setiap bulan Agustus dalam empat tahun terakhir. Kelompok pengeluaran penyumbang deflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman dan tembakau yang mengalami deflasi sebesar 0,29%, dengan andil deflasi sebesar 0,08%. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi sebesar 0,18%, dengan andil inflasi sebesar 0,01%.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Sensus Ekonomi Tak Hanya...
Sensus Ekonomi Tak Hanya Dilakukan Indonesia: Gerakan Global yang Diikuti Malaysia hingga Zimbabwe
Kepala BPS Ungkap Progres...
Kepala BPS Ungkap Progres Sensus Ekonomi 2026 DKI Jakarta: Capai 45,17%
Orang Super Kaya Indonesia...
Orang Super Kaya Indonesia Diramal Melonjak Tercepat di Dunia, tapi Kelas Menengah Menyusut
Sektor Industri Bermasalah,...
Sektor Industri Bermasalah, RI Rawan Disalip Vietnam Jadi Negara Berpenghasilan Tinggi
Mengapa Sensus Ekonomi...
Mengapa Sensus Ekonomi Masih Dilakukan dari Pintu ke Pintu?
Gelombang PHK Ancam...
Gelombang PHK Ancam Industri Strategis, Regulasi yang Menggerus Daya Saing Harus Ditinjau Ulang
Mega Korupsi Penegak...
Mega Korupsi Penegak Hukum Merusak Ekonomi Negara
FSP BUMN Bersatu Sebut...
FSP BUMN Bersatu Sebut Gelombang PHK Cerminkan Persoalan Struktural Ekonomi Nasional
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Rekomendasi
Profil Irjen Totok Suharyanto,...
Profil Irjen Totok Suharyanto, Kakortastipidkor Polri yang Ungkap Megakorupsi Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah
Tindak Lanjut Perpres...
Tindak Lanjut Perpres 111/2025, Kemenag Siapkan Materi Pendidikan Cegah Penyebaran LGBTQ
BMW Umumkan M3 Elektrik...
BMW Umumkan M3 Elektrik Tetap Gunakan Nama M3, Bukan iM3
Berita Terkini
Resmi, Pertamina Turunkan...
Resmi, Pertamina Turunkan Harga LPG Bright Gas Mulai 14 Juli
Trump Minta Tarif 20%...
Trump Minta Tarif 20% Kargo di Selat Hormuz, Bisa Kantongi Rp541 Miliar per Supertanker
PT KCN Perkuat Peran...
PT KCN Perkuat Peran Pelabuhan Penyangga Saat Aktivitas Logistik di Tanjung Priok Meningkat
Mengintegrasikan AI...
Mengintegrasikan AI Demi Mewujudkan Ekosistem Investasi Mass Market
UE Putar Haluan Kembali...
UE Putar Haluan Kembali ke Pelukan Rusia, Rogoh Dana Raksasa Rp123 Triliun demi LNG
Harga MinyaKita Tembus...
Harga MinyaKita Tembus Rp16.000 per Liter di Atas HET, Apa Sebabnya?
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Peringkat Timnas Indonesia Naik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved