Data Ekonomi Terbaru dari BPS: Neraca Dagang Surplus 63 Bulan, Nilai Tukar Petani Naik
Senin, 01 September 2025 - 20:32 WIB
loading...
A
A
A
”Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi sebesar 0,10 persen, dengan andil inflasi 0,01 persen. Kelompok pakaian dan alas kaki mengalami deflasi 0,10 persen, dan memiliki andil deflasi 0,01 persen,” tuturnya.
Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi adalah tomat (0,10%), cabai rawit (0,07%), tarif angkutan udara (0,03%), dan bensin (0,02%). Selain itu, terdapat pula komoditas yang masih memberikan andil inflasi yaitu bawang merah (0,05%), dan beras (0,03%).
Andil inflasi beras disebabkan oleh terjadinya inflasi beras sebesar 0,73% (m-to-m), lebih rendah dibandingkan inflasi pada bulan Juli 2025 yang mencapai 1,35%.
Berdasarkan komponen, deflasi bulan Agustus 2025 utamanya didorong oleh deflasi komponen harga bergejolak dengan andil deflasi sebesar 0,10%. Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi adalah tomat, cabai rawit, dan bawang putih. Selanjutnya, komponen harga diatur pemerintah juga mengalami deflasi, dengan andil deflasi sebesar 0,02%.
Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi pada kelompok ini adalah tarif angkutan udara dan bensin. Sedangkan komponen inti mengalami inflasi, dengan andil inflasi sebesar 0,04 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah biaya kuliah Akademi/PT, emas perhiasan dan biaya SD.
Menurut wilayah, secara bulanan tercatat 27 provinsi mengalami deflasi, dan 11 provinsi mengalami inflasi. Deflasi terdalam terjadi di Maluku Utara, yaitu sebesar 1,90%. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Sumatera Utara, yaitu sebesar 1,37 persen.
Secara tahunan (y-on-y), pada Agustus 2025 terjadi inflasi sebesar 2,31 persen, atau terjadi kenaikan IHK dari 106,06 pada Agustus 2024 menjadi 108,51 pada Agustus 2025. Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan ini utamanya didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 3,99% dan memberikan andil inflasi sebesar 1,14 persen.
Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok ini adalah bawang merah, beras, ikan segar, minyak goreng, tomat, kopi bubuk, dan sigaret kretek mesin (SKM).
Komoditas lain di luar kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang juga memberikan andil inflasi tahunan cukup dominan adalah emas perhiasan, tarif air minum PAM, bahan bakar rumah tangga, dan nasi dengan lauk.
Sementara itu, kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi secara tahunan pada Agustus 2025 adalah kelompok transportasi yang mengalami deflasi sebesar 0,29 persen dengan andil deflasi sebesar 0,04 persen. Serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang mengalami deflasi sebesar 0,33% dengan andil deflasi 0,02%. Deflasi kedua kelompok pengeluaran tersebut didorong oleh deflasi bensin, tarif angkutan udara, tarif kereta api dan telepon seluler.
Menurut wilayah, secara tahunan hampir seluruh provinsi mengalami inflasi. Deflasi terjadi hanya di Papua Barat. Inflasi tertinggi terjadi di Sumatera Utara, yaitu sebesar 4,42%, dan inflasi terendah terjadi di Maluku Utara, yaitu sebesar 0,43%. Sedangkan Papua Barat mengalami deflasi sebesar 0,87%.
Selain itu, BPS juga mencatat masih terjadinya kenaikan rata-rata harga beras (inflasi) baik di tingkat penggilingan, grosir maupun eceran, masing-masing 1,87%, 0,64 persen dan 0,73% (m-to-m). Meskipun masih terjadi inflasi di ketiga rantai pasok tersebut, namun tingkat inflasinya sudah lebih rendah dibandingkan yang terjadi pada bulan Juli 2025.
Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi adalah tomat (0,10%), cabai rawit (0,07%), tarif angkutan udara (0,03%), dan bensin (0,02%). Selain itu, terdapat pula komoditas yang masih memberikan andil inflasi yaitu bawang merah (0,05%), dan beras (0,03%).
Andil inflasi beras disebabkan oleh terjadinya inflasi beras sebesar 0,73% (m-to-m), lebih rendah dibandingkan inflasi pada bulan Juli 2025 yang mencapai 1,35%.
Berdasarkan komponen, deflasi bulan Agustus 2025 utamanya didorong oleh deflasi komponen harga bergejolak dengan andil deflasi sebesar 0,10%. Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi adalah tomat, cabai rawit, dan bawang putih. Selanjutnya, komponen harga diatur pemerintah juga mengalami deflasi, dengan andil deflasi sebesar 0,02%.
Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi pada kelompok ini adalah tarif angkutan udara dan bensin. Sedangkan komponen inti mengalami inflasi, dengan andil inflasi sebesar 0,04 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah biaya kuliah Akademi/PT, emas perhiasan dan biaya SD.
Menurut wilayah, secara bulanan tercatat 27 provinsi mengalami deflasi, dan 11 provinsi mengalami inflasi. Deflasi terdalam terjadi di Maluku Utara, yaitu sebesar 1,90%. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Sumatera Utara, yaitu sebesar 1,37 persen.
Secara tahunan (y-on-y), pada Agustus 2025 terjadi inflasi sebesar 2,31 persen, atau terjadi kenaikan IHK dari 106,06 pada Agustus 2024 menjadi 108,51 pada Agustus 2025. Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan ini utamanya didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 3,99% dan memberikan andil inflasi sebesar 1,14 persen.
Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok ini adalah bawang merah, beras, ikan segar, minyak goreng, tomat, kopi bubuk, dan sigaret kretek mesin (SKM).
Komoditas lain di luar kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang juga memberikan andil inflasi tahunan cukup dominan adalah emas perhiasan, tarif air minum PAM, bahan bakar rumah tangga, dan nasi dengan lauk.
Sementara itu, kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi secara tahunan pada Agustus 2025 adalah kelompok transportasi yang mengalami deflasi sebesar 0,29 persen dengan andil deflasi sebesar 0,04 persen. Serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang mengalami deflasi sebesar 0,33% dengan andil deflasi 0,02%. Deflasi kedua kelompok pengeluaran tersebut didorong oleh deflasi bensin, tarif angkutan udara, tarif kereta api dan telepon seluler.
Menurut wilayah, secara tahunan hampir seluruh provinsi mengalami inflasi. Deflasi terjadi hanya di Papua Barat. Inflasi tertinggi terjadi di Sumatera Utara, yaitu sebesar 4,42%, dan inflasi terendah terjadi di Maluku Utara, yaitu sebesar 0,43%. Sedangkan Papua Barat mengalami deflasi sebesar 0,87%.
Nilai Tukar Petani Naik
Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Agustus 2025 mencapai 123,57, atau naik 0,76% dibanding Juli 2025. Peningkatan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 0,84%, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) naik sebesar 0,08%.Selain itu, BPS juga mencatat masih terjadinya kenaikan rata-rata harga beras (inflasi) baik di tingkat penggilingan, grosir maupun eceran, masing-masing 1,87%, 0,64 persen dan 0,73% (m-to-m). Meskipun masih terjadi inflasi di ketiga rantai pasok tersebut, namun tingkat inflasinya sudah lebih rendah dibandingkan yang terjadi pada bulan Juli 2025.
Produksi Beras dan Jagung
Realisasi luas panen padi pada bulan Juli 2025 mencapai 0,94 juta hektare. Angka ini naik 33,20 persen dibanding Juli 2024 (0,70 juta hektare). Kenaikan luas panen ini diikuti oleh peningkatan produksi padi. Diperkirakan produksi padi pada Juli 2025 mencapai 4,81 juta ton GKG, atau naik 35,11 persen dibandingkan Juli tahun lalu.Lihat Juga :