CEO Nestle Dipecat Gara-gara Ketahuan Selingkuh dengan Bawahan
Jum'at, 05 September 2025 - 18:57 WIB
loading...
Nestle, perusahaan makanan dan minuman asal Swiss, pada Senin (1/9) resmi memecat Chief Executive Officer (CEO) Laurent Freixe. FOTO/AP
A
A
A
JAKARTA - Nestle, perusahaan makanan dan minuman asal Swiss, pada Senin (1/9) resmi memecat Chief Executive Officer (CEO) Laurent Freixe. Keputusan mendadak ini diambil setelah penyelidikan internal mengungkap adanya hubungan asmara dengan seorang bawahan langsung yang dinilai melanggar kode etik perusahaan.
Nestle dalam pernyataan resminya menegaskan pemecatan dilakukan usai dewan direksi menuntaskan investigasi dengan pengawasan langsung dari Ketua Nestle Paul Bulcke dan Direktur Independen Utama Pablo Isla. Proses penyelidikan turut melibatkan penasihat hukum eksternal.
"Keputusan ini perlu diambil demi menjaga nilai dan tata kelola perusahaan. Kami berterima kasih atas pengabdian Laurent selama puluhan tahun," ujar Bulcke dalam keterangan tertulis dikutip dari AFP, Jumat (5/9).
Baca Juga: Jejak Karier Kristin Cabot, Kepala HRD yang 'Kegep' Dipeluk Mesra CEO Astronomer
Sebagai langkah cepat, dewan direksi menunjuk CEO Nespresso, Philipp Navratil, untuk menggantikan posisi Freixe. Navratil, yang baru tahun lalu memimpin Nespresso, diyakini mampu menjaga stabilitas strategi dan kinerja perusahaan.
Freixe sendiri telah bergabung dengan Nestle sejak 1986 di Prancis. Ia dikenal sebagai sosok penting yang pernah memimpin operasi Nestle di Eropa hingga 2014, serta mengarahkan divisi Amerika Latin sebelum akhirnya dipercaya sebagai CEO pada September 2024. Namun, masa jabatannya tergolong singkat karena tersandung kasus etika ini.
Pemecatan Freixe terjadi di tengah tantangan bisnis Nestle. Tahun lalu, harga saham perusahaan sempat merosot hampir seperempat, menimbulkan kekhawatiran di Swiss yang banyak menempatkan dana pensiun pada saham Nestle. Perusahaan ini menaungi berbagai merek global, mulai dari Nespresso, KitKat, Purina, Maggi, Gerber, hingga Nesquik.
Meski demikian, pada penutupan perdagangan terakhir, saham Nestle justru naik tipis 0,13 persen menjadi 75,49 franc Swiss. Kenaikan kecil ini terjadi setelah pengumuman pergantian pucuk pimpinan.
Di sisi keuangan, Nestle sebelumnya melaporkan penurunan laba bersih sebesar 10,3 persen pada paruh pertama 2025. Lesunya konsumsi di China serta tingginya harga kakao dan kopi menjadi beban tambahan bagi perusahaan.
Navratil, yang memulai karier di Nestle sejak 2001, berpengalaman memimpin bisnis kopi dan minuman di Meksiko serta merancang strategi global untuk merek Nescafe dan Starbucks. Ia berjanji akan melanjutkan strategi yang sudah ditetapkan dewan untuk meningkatkan efisiensi dan pertumbuhan.
"Saya sepenuhnya mendukung arah strategis perusahaan dan berkomitmen mendorong rencana penciptaan nilai dengan intensitas tinggi," ujar Navratil.
Baca Juga: Harta Kekayaan CEO Astronomer yang Ketahuan Selingkuh di Konser Coldplay, Tembus Rp800 Miliar
Kasus yang menimpa Freixe menambah daftar eksekutif global yang terjerat masalah hubungan pribadi di tempat kerja. Sebelumnya, Bernard Looney mundur dari kursi CEO British Petroleum (BP) pada 2023 karena gagal mengungkap hubungan dengan rekan kerja.
Kasus serupa juga menimpa Steve Easterbrook, mantan CEO McDonald’s, yang diberhentikan pada 2019 karena hubungan pribadi dengan pegawai. Setahun sebelumnya, Brian Krzanich juga dipaksa mundur sebagai CEO Intel karena melanggar kebijakan perusahaan terkait hubungan dengan karyawan.
Nestle dalam pernyataan resminya menegaskan pemecatan dilakukan usai dewan direksi menuntaskan investigasi dengan pengawasan langsung dari Ketua Nestle Paul Bulcke dan Direktur Independen Utama Pablo Isla. Proses penyelidikan turut melibatkan penasihat hukum eksternal.
"Keputusan ini perlu diambil demi menjaga nilai dan tata kelola perusahaan. Kami berterima kasih atas pengabdian Laurent selama puluhan tahun," ujar Bulcke dalam keterangan tertulis dikutip dari AFP, Jumat (5/9).
Baca Juga: Jejak Karier Kristin Cabot, Kepala HRD yang 'Kegep' Dipeluk Mesra CEO Astronomer
Sebagai langkah cepat, dewan direksi menunjuk CEO Nespresso, Philipp Navratil, untuk menggantikan posisi Freixe. Navratil, yang baru tahun lalu memimpin Nespresso, diyakini mampu menjaga stabilitas strategi dan kinerja perusahaan.
Freixe sendiri telah bergabung dengan Nestle sejak 1986 di Prancis. Ia dikenal sebagai sosok penting yang pernah memimpin operasi Nestle di Eropa hingga 2014, serta mengarahkan divisi Amerika Latin sebelum akhirnya dipercaya sebagai CEO pada September 2024. Namun, masa jabatannya tergolong singkat karena tersandung kasus etika ini.
Pemecatan Freixe terjadi di tengah tantangan bisnis Nestle. Tahun lalu, harga saham perusahaan sempat merosot hampir seperempat, menimbulkan kekhawatiran di Swiss yang banyak menempatkan dana pensiun pada saham Nestle. Perusahaan ini menaungi berbagai merek global, mulai dari Nespresso, KitKat, Purina, Maggi, Gerber, hingga Nesquik.
Meski demikian, pada penutupan perdagangan terakhir, saham Nestle justru naik tipis 0,13 persen menjadi 75,49 franc Swiss. Kenaikan kecil ini terjadi setelah pengumuman pergantian pucuk pimpinan.
Di sisi keuangan, Nestle sebelumnya melaporkan penurunan laba bersih sebesar 10,3 persen pada paruh pertama 2025. Lesunya konsumsi di China serta tingginya harga kakao dan kopi menjadi beban tambahan bagi perusahaan.
Navratil, yang memulai karier di Nestle sejak 2001, berpengalaman memimpin bisnis kopi dan minuman di Meksiko serta merancang strategi global untuk merek Nescafe dan Starbucks. Ia berjanji akan melanjutkan strategi yang sudah ditetapkan dewan untuk meningkatkan efisiensi dan pertumbuhan.
"Saya sepenuhnya mendukung arah strategis perusahaan dan berkomitmen mendorong rencana penciptaan nilai dengan intensitas tinggi," ujar Navratil.
Baca Juga: Harta Kekayaan CEO Astronomer yang Ketahuan Selingkuh di Konser Coldplay, Tembus Rp800 Miliar
Kasus yang menimpa Freixe menambah daftar eksekutif global yang terjerat masalah hubungan pribadi di tempat kerja. Sebelumnya, Bernard Looney mundur dari kursi CEO British Petroleum (BP) pada 2023 karena gagal mengungkap hubungan dengan rekan kerja.
Kasus serupa juga menimpa Steve Easterbrook, mantan CEO McDonald’s, yang diberhentikan pada 2019 karena hubungan pribadi dengan pegawai. Setahun sebelumnya, Brian Krzanich juga dipaksa mundur sebagai CEO Intel karena melanggar kebijakan perusahaan terkait hubungan dengan karyawan.
(nng)
Lihat Juga :