Pengamat Kehutanan: Isu Negatif LSM Rugikan Ekspor Produk Kayu ke AS
Kamis, 11 September 2025 - 10:32 WIB
loading...
A
A
A
"Setiap aturan itu hampir pasti menimbulkan cost. Kalau manfaatnya lebih besar, tentu tidak masalah. Tapi umumnya aturan justru lebih banyak biayanya daripada keuntungan yang didapat," katanya.
Ia mencontohkan penerapan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) yang menurutnya tidak dirasakan manfaatnya oleh petani. "Kalau ditanya sertifikat SVLK ke petani, rata-rata mereka tidak tahu di mana sertifikatnya. Tidak ada manfaat nyata bagi petani,” ujarnya.
Prof. Sudarsono menegaskan, pengusahaan hutan alam tidak serta merta menyebabkan deforestasi. "Hutan alam itu renewable secara biologis, tapi belum tentu secara finansial. Pengusaha juga tidak mungkin menebang semua karena biaya investasi tinggi. Asal tidak diganggu, hutan bisa pulih sendiri," jelasnya.
Menurutnya, tren industri kehutanan sejak 1990 terus menurun. Dari jumlah perusahaan hingga luas areal, semuanya menyusut tajam. "Belum pernah ada bukti di dunia ini pengusahaan hutan alam yang benar-benar berhasil. Tanpa investasi baru, industri kehutanan jelas akan berakhir," ujarnya.
Ia mencontohkan penerapan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) yang menurutnya tidak dirasakan manfaatnya oleh petani. "Kalau ditanya sertifikat SVLK ke petani, rata-rata mereka tidak tahu di mana sertifikatnya. Tidak ada manfaat nyata bagi petani,” ujarnya.
Prof. Sudarsono menegaskan, pengusahaan hutan alam tidak serta merta menyebabkan deforestasi. "Hutan alam itu renewable secara biologis, tapi belum tentu secara finansial. Pengusaha juga tidak mungkin menebang semua karena biaya investasi tinggi. Asal tidak diganggu, hutan bisa pulih sendiri," jelasnya.
Menurutnya, tren industri kehutanan sejak 1990 terus menurun. Dari jumlah perusahaan hingga luas areal, semuanya menyusut tajam. "Belum pernah ada bukti di dunia ini pengusahaan hutan alam yang benar-benar berhasil. Tanpa investasi baru, industri kehutanan jelas akan berakhir," ujarnya.
(nng)
Lihat Juga :