Awas! Kejatuhan Sritex Terulang, Ribuan Karyawan Industri Baja Terancam PHK Imbas Produk Impor

Jum'at, 12 September 2025 - 22:04 WIB
loading...
Awas! Kejatuhan Sritex...
Pelaku usaha di industri baja, baik kontraktor hingga fabrikator baja nasional, mengeluhkan industri manufaktur asing yang belakangan masuk ke Indonesia yang kurang menyerap produk-produk dalam negeri. Foto/Dok Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Pelaku usaha yang bergerak di industri baja , baik kontraktor hingga fabrikator baja nasional , mengeluhkan industri manufaktur asing yang belakangan masuk ke Indonesia yang kurang menyerap produk-produk dalam negeri, terutama penggunaan baja nasional.

Ketua Umum Indonesian Society of Steel Construction (ISSC), Budi Harta Winata menjelaskan, kondisi saat ini banyak perusahaan manufaktur asing yang masuk ke Indonesia sekaligus membawa material konstruksi dari luar. Baik untuk kebutuhan pembangunan pabrik, maupun material pokok produknya.

"Contohlah sekarang ada investasi dari BYD, dan pabrik-pabrik lain, itu kan semua konstruksi bajanya dari luar sana. Sebelum maraknya konstruksi baja asing masuk, kami ribuan menggunakan tengara kerja, di salah satu pabrik itu 500-1.000 tenaga kerja," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Jumat (12/9/2025).

Baca Juga: Kadin: Perlu Keberpihakan Pemerintah Agar Industri Baja Tak Mati Digerus Produk Impor

Ia justru mengkhawatirkan kondisi di industri baja nasional akan bernasib sama dengan raksasa tekstil Indonesia, Sritex, yang belum lama resmi dinyatakan pailit karena serbuan produk tekstil impor. Kondisi ini praktis mengikis pangsa pasar industri lewat kehadiran produk-produk dari luar.

"Sebelum industri baja ini seperti industri tekstil, mohon pemerintah turun tangan segera. Kami sudah mendesak, kami sudah mengirimkan surat ke Pimpinan DPR RI untuk kita adakan rapat, bagaimana sebenarnya cara menyetop konstruksi baja dari luar ini," sambungnya.

Budi Harta mengungkapkan saat ini sudah ada 1 pabrikan baja nasional yang telah tutup dan terpaksa melakukan PHK terhadap ribuan karyawan. Pabrik tersebut adalah PT Ispatindo, yang berlokasi di Surabaya, Jawa Timur, mulai tutup sejak tahun 2024 lalu.

"Ispatindo mulai tutup dari tahun lalu, ada ribuan karyawan yang terdampak. Belum lagi agen-agen yang menjual itu kan, itu baru pabriknya. Itu di Surabaya," lanjutnya.

Tidak hanya itu, 1 pabrikan baja lain milik PT Ispatindo yang berlokasi di Bekasi juga menyusul nasib serupa. Ada ribuan karyawan yang terancam PHK dari rencana penutupan pabrik ini karena sudah sepi order.

Baca Juga: Industri Baja Jadi Fokus Strategis, Pemerintah Dorong Transformasi Krakatau Steel

"Kita bilang juga, BKPM untuk dijadikan evaluasi. Karena banyak investasi masuk kita tidak kerja juga. Dulu kalau perusahaan Jepang masuk, katakanlah saat memperluas pabrikan Toyota, Mitsubishi, itu yang kerja kami semua, bikin pintu, bikin baut, itu dari dalam negeri," kata Budi Harta.

"Tapi kalau masuk kayak BYD ini, dan lain-lain manufaktur baru, tapi kalau komponen dari sana semua, siapa yang beli nanti (produk baja dalam negeri). Kalau dulu beda, orang bikin Pabrik Toyota, yang kerja orang kita semua, subkon, hingga mesin-mesinnya dari kita semua," pungkasnya.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Said Iqbal Blak-blakan...
Said Iqbal Blak-blakan 2.500 Buruh Pabrik Terancam PHK
Kena PHK Dapat Uang...
Kena PHK Dapat Uang Tunai 60% dari Gaji selama 6 Bulan, Ini Syaratnya
Siap-siap! Harga Rumah...
Siap-siap! Harga Rumah Subsidi Bakal Naik, Ini Penyebabnya
Dari Banten untuk Indonesia:...
Dari Banten untuk Indonesia: Krakatau Steel dan Hebei Perkuat Ekosistem Baja Nasional
Badai PHK Guncang Inggris...
Badai PHK Guncang Inggris di Tengah Perang AS-Iran, Tembus Rekor Tertinggi 5 Tahun
Biang Kerok PHK, Rupiah...
Biang Kerok PHK, Rupiah Loyo Bikin Ongkos Produksi Membengkak
Dasco Sebut Satgas Mulai...
Dasco Sebut Satgas Mulai Gelar Rapat Antisipasi Gelombang PHK Pekan Depan
Wanita Ini Dipecat karena...
Wanita Ini Dipecat karena Suaminya Kerja di Perusahaan Saingan, Urusannya sampai Pengadilan
Gelombang PHK di Tengah...
Gelombang PHK di Tengah Krisis Energi Ungkap Rapuhnya Fondasi Ekonomi China
Rekomendasi
Menteri Zionis: AS Akan...
Menteri Zionis: AS Akan Segera Berada di Jalur Bentrokan dengan Israel
Rusia Klaim Senjata...
Rusia Klaim Senjata Nuklir Jadi Satu-satunya Jaminan pada Perang Global, Ini 3 Alasannya
10 Tahun Brexit, Mayoritas...
10 Tahun Brexit, Mayoritas Rakyat Inggris Menyesal!
Berita Terkini
ONDA Bidik Kebutuhan...
ONDA Bidik Kebutuhan Renovasi Rumah dengan Sistem Terintegrasi
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Gandeng Mitra Global,...
Gandeng Mitra Global, PT WCS Dorong Ekosistem Pertanian Berbasis Digital
Telkom Catat Pendapatan...
Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun, DPR Minta Soliditas Dijaga
Kemenkop dan Rumah Energi...
Kemenkop dan Rumah Energi Dorong Koperasi Jadi Motor Transisi Energi
Plaza Seremoni IKN Karya...
Plaza Seremoni IKN Karya Brantas Abipraya Raih Penghargaan Lanskap Internasional MLAA 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved