Permintaan Lesu, Kredit Nganggur Perbankan Tembus Rp2.372 Triliun
Rabu, 17 September 2025 - 19:12 WIB
loading...
Bank Indonesia (BI) melaporkan nilai kredit yang belum dicairkan atau undisbursed loan perbankan. FOTO/Antara/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat nilai kredit yang belum dicairkan atau undisbursed loan perbankan mencapai Rp2.372,11 triliun pada Agustus 2025. Angka ini setara 22,71 persen dari total plafon kredit yang tersedia. Rasio ini juga meningkat dibandingkan posisi akhir 2024 yang sebesar 22,35 persen.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan tingginya undisbursed loan ini sejalan dengan sikap pelaku usaha yang masih wait and see terhadap kondisi ekonomi saat ini.
"Dari sisi permintaan, belum kuatnya perkembangan kredit dipengaruhi oleh sikap menunggu pelaku usaha, wait and see," kata Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (17/9).
Baca Juga: Bank Indonesia Ungkap Alasan Kredit Perbankan Masih Seret
Tak hanya itu, suku bunga kredit yang masih tinggi juga dinilai menjadi faktor mengapa uang di bank belum segera dicairkan oleh masyarakat. "Juga lebih besarnya pemanfaatan dana internal untuk pembiayaan usaha," ujarnya.
Sebagai catatan, undisbursed loan dikenal juga sebagai kredit menganggur atau fasilitas kredit yang belum ditarik. Ini merupakan fasilitas kredit yang sudah disetujui oleh bank kepada nasabah, tetapi belum ditarik oleh nasabah tersebut sama sekali atau baru sebagian.
Undisbursed loan terbesar tercatat pada jenis kredit modal kerja dengan rasio 34,00 persen terhadap plafon. Dari sisi sektoral, nilai kredit menganggur paling banyak terdapat di industri, pertambangan, perdagangan, serta jasa dunia usaha. Dari sisi kelompok bank, kredit menganggur tertinggi ada di kelompok bank asing (KCBA) dengan rasio mencapai 61,17 persen.
Sementara pada bank BUMN dan swasta, rasionya berada di kisaran 30 persen. Bank Indonesia juga menyoroti lemahnya permintaan kredit dari UMKM dan rumah tangga.
“Kinerja usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan rumah tangga (RT) juga belum kuat sebagaimana terindikasi dari penurunan keyakinan konsumen atas penghasilan saat ini,” tulis BI dalam asesmen kredit perbankan.
Baca Juga: Bank BUMN Diguyur Rp200 Triliun, Ekonom: Masalahnya Nggak Ada Permintaan Kredit
Selain itu, meski suku bunga kredit turun tipis, levelnya masih relatif tinggi. Rata-rata suku bunga kredit pada Agustus 2025 tercatat 9,13 persen, sementara suku bunga kredit baru sebesar 9,76 persen.
Penurunan yang terbatas ini, tulis BI, dipengaruhi margin bank, persepsi risiko, biaya overhead, serta harga pokok dana yang masih tinggi. Sepanjang Agustus 2025, pertumbuhan kredit tercatat 7,56 persen secara tahunan, naik tipis dari Juli 2025 sebesar 7,03 persen yoy, namun masih lebih rendah dibandingkan Agustus 2024 yang mencapai 11,40 persen yoy.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan tingginya undisbursed loan ini sejalan dengan sikap pelaku usaha yang masih wait and see terhadap kondisi ekonomi saat ini.
"Dari sisi permintaan, belum kuatnya perkembangan kredit dipengaruhi oleh sikap menunggu pelaku usaha, wait and see," kata Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (17/9).
Baca Juga: Bank Indonesia Ungkap Alasan Kredit Perbankan Masih Seret
Tak hanya itu, suku bunga kredit yang masih tinggi juga dinilai menjadi faktor mengapa uang di bank belum segera dicairkan oleh masyarakat. "Juga lebih besarnya pemanfaatan dana internal untuk pembiayaan usaha," ujarnya.
Sebagai catatan, undisbursed loan dikenal juga sebagai kredit menganggur atau fasilitas kredit yang belum ditarik. Ini merupakan fasilitas kredit yang sudah disetujui oleh bank kepada nasabah, tetapi belum ditarik oleh nasabah tersebut sama sekali atau baru sebagian.
Undisbursed loan terbesar tercatat pada jenis kredit modal kerja dengan rasio 34,00 persen terhadap plafon. Dari sisi sektoral, nilai kredit menganggur paling banyak terdapat di industri, pertambangan, perdagangan, serta jasa dunia usaha. Dari sisi kelompok bank, kredit menganggur tertinggi ada di kelompok bank asing (KCBA) dengan rasio mencapai 61,17 persen.
Sementara pada bank BUMN dan swasta, rasionya berada di kisaran 30 persen. Bank Indonesia juga menyoroti lemahnya permintaan kredit dari UMKM dan rumah tangga.
“Kinerja usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan rumah tangga (RT) juga belum kuat sebagaimana terindikasi dari penurunan keyakinan konsumen atas penghasilan saat ini,” tulis BI dalam asesmen kredit perbankan.
Baca Juga: Bank BUMN Diguyur Rp200 Triliun, Ekonom: Masalahnya Nggak Ada Permintaan Kredit
Selain itu, meski suku bunga kredit turun tipis, levelnya masih relatif tinggi. Rata-rata suku bunga kredit pada Agustus 2025 tercatat 9,13 persen, sementara suku bunga kredit baru sebesar 9,76 persen.
Penurunan yang terbatas ini, tulis BI, dipengaruhi margin bank, persepsi risiko, biaya overhead, serta harga pokok dana yang masih tinggi. Sepanjang Agustus 2025, pertumbuhan kredit tercatat 7,56 persen secara tahunan, naik tipis dari Juli 2025 sebesar 7,03 persen yoy, namun masih lebih rendah dibandingkan Agustus 2024 yang mencapai 11,40 persen yoy.
(nng)
Lihat Juga :