Bitcoin Melawan Kutukan Red September

Sabtu, 20 September 2025 - 14:12 WIB
loading...
Bitcoin Melawan Kutukan...
Foto: Doc. Istimewa
A A A
JAKARTA - Dalam sejarah pergerakan harga Bitcoin, terdapat mitos red September, dimana Bitcoin akan mengalami tekanan dan penurunan yang terjadi setiap bulan September. Namun beberapa analis ada yang optimis harga bisa mencapai US$115 ribu hingga US$ 120 ribu di akhir bulan.

Namun sebelum memutuskan untuk trading maka langkah awal yang harus kamu lakukan adalah memilih exchange futures crypto Indonesia yang terbaik. Tentunya hal ini membingungkan bagi investor pemula.

Untuk itu pilihlah aplikasi crypto yang menjual banyak aset crypto, sehingga kamu bisa mudah membeli BTC USDT atau crypto lainnya dan kamu bisa melakukan diversifikasi aset crypto dengan banyak pilihan atau alternatif.

Terdapat beberapa platform yang telah mendukung trading futures crypto di Indonesia yang menyediakan fitur leverage dan fitur charting yang lengkap serta cocok untuk trader profesional salah satunya Pintu Futures dan beberapa platform crypto lain. Pintu Futures adalah fitur trading derivatif di aplikasi Pintu yang memungkinkan pengguna untuk memperdagangkan kontrak berjangka aset crypto dengan leverage.

Dengan antarmuka yang simpel, dukungan leverage tinggi, stop order, limit order, serta biaya trading kompetitif, Pintu Futures cocok untuk trader pemula maupun professional.

Sementara itu, harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan kekuatannya dengan menembus angka US$112.000 atau sekitar Rp1,84 miliar (kurs dolar AS Rp16.442) pada perdagangan malam Rabu (3/9) lalu. Kenaikan ini terjadi saat pasar semakin optimis menjelang keputusan The Fed tentang suku bunga yang dijadwalkan pada 17 September, menegaskan bahwa target US$120.000 bukan sekadar harapan.

Menurut data dari Coinmarketcap, Bitcoin sempat mencapai US$112.500 setelah pembukaan Wall Street kemarin, kemudian stabil di sekitar US$112.067. Namun, data dari TradingView menunjukkan bahwa pada siang Kamis, harga crypto ini anjlok cepat ke angka US$110. 432.

Gerakan harga ini membuat BTC mempertahankan dukungannya yang optimis, menandakan US$112.000 sebagai area likuiditas yang signifikan. Kepercayaan akan pencapaian US$115.000 hingga US$120.000 semakin tumbuh.

Data dari CoinGlass menunjukkan bahwa sebagian besar likuiditas di level US$112.000 sudah terserap, dengan target selanjutnya di US$114.000. Ini memperlihatkan bahwa pasar sedang berusaha untuk mendapatkan kembali support utama setelah sempat menyentuh titik terendah mingguan di US$107.270.

Kutukan Red September

Walaupun pergerakan Bitcoin terlihat positif, bulan September biasanya dikenal sebagai bulan yang sulit bagi harga cryptocurrency terbesar di dunia ini. Sejak 2013, Bitcoin mengalami penurunan di delapan dari dua belas bulan September dengan rata-rata pengembalian negatif sebesar –3,8 persen. Fenomena ini dikenal sebagai “Red September. ”

Namun, pola yang terjadi sebelumnya tidak selalu terulang. Dalam dua tahun terakhir, Bitcoin mampu menutup bulan September dengan catatan positif, termasuk pencapaian terbaik di 2024 dengan kenaikan 7,29 persen.

Hal ini memberikan harapan bahwa tren negatif musiman dapat terputus pada tahun 2025, bahkan mungkin menutup bulan ini di dekat US$120.000.

Prospek Jangka Pendek, Menuju US$115 Ribu

Ia menambahkan bahwa kebijakan moneter yang lebih longgar biasanya akan melemahkan nilai dolar AS dan mendorong aliran dana global ke aset berisiko, termasuk cryptocurrency.

Level psikologis di US$100.000 memang menjadi perhatian banyak pelaku pasar. Namun, dukungan dari momentum makro dan meningkatnya aliran dana institusi melalui Bitcoin Spot ETF bisa mendukung optimisme bullish. Kami percaya bahwa target US$115. 000 hingga US$120. 000 di akhir September masih realistis.

Fyqieh menyatakan bahwa terdapat sejumlah elemen yang akan mempengaruhi pergerakan harga Bitcoin bulan ini. Pertama, keputusan dari The Fed mengenai suku bunga yang, jika dipangkas, bisa menjadi pemicu besar untuk membawa harga crypto mendekati US$120.000.

Kedua, peningkatan aliran modal karena melemahnya dolar AS berpotensi memberikan dukungan baru bagi pasar crypto melalui peningkatan likuiditas global.

Faktor signifikan lainnya adalah perkembangan yang terjadi di kalangan institusional, di mana meningkatnya transaksi ETF Bitcoin spot menunjukkan bahwa minat dari investor institusi semakin tumbuh.

Selain itu, meskipun ada tekanan musiman yang dikenal sebagai “September effect”, tren pemulihan setelah penurunan di bulan Agustus dapat menjadi dasar untuk pergerakan positif yang mengangkat BTC ke atas US$115.000.

Harapan pasar juga diperkuat oleh fakta bahwa harga emas telah mencapai rekor tertinggi, yang menegaskan peran Bitcoin sebagai aset yang melindungi nilai. Kini, BTC tidak hanya dipertimbangkan sebagai aset spekulatif, tetapi juga sebagai pilihan penyimpan nilai di situasi ketidakpastian ekonomi global.

Walaupun saat ini pasar bergerak mendatar dan penuh kehati-hatian, analis percaya bahwa prospek Bitcoin di bulan September 2025 tidak sepenuhnya negatif. Ada kemungkinan besar untuk mematahkan kutukan ‘Red September’ untuk ketiga kalinya berturut-turut, serta membuka jalan menuju target US$120. 000.

Kemiripan dengan September 2024

Menurut penelusuran analis, pada bulan September 2019, The Fed memangkas suku bunga acuan menjadi antara 1,75–2,00 persen. Inflasi yang rendah sekitar 1,7 persen, pertumbuhan global melambat akibat perang dagang antara AS dan Tiongkok, dan terjadi ketidakstabilan likuiditas di pasar repo.

Pemangkasan ini bersifat pencegahan, berfungsi sebagai asuransi untuk menghadapi kemungkinan resesi. Saham AS mengalami kenaikan moderat, emas mulai diminati sebagai pelindung nilai, dolar mengalami sedikit pelemahan, dan Bitcoin naik tipis karena investor mencari aset alternatif di tengah ketidakpastian di pasar tradisional.

Di bulan September 2024, situasi berbeda terjadi. Setelah periode pengetatan suku bunga agresif sejak tahun 2022, The Fed memotong sebesar 50 bps menjadi 4,75–5,00 persen, yang menandakan dimulainya siklus pelonggaran.

Inflasi mulai menurun dari puncaknya yang lebih dari 9 persen, meskipun masih bersifat fluktuatif. Saham AS bangkit, emas meroket, dolar melemah cukup signifikan, dan Bitcoin menunjukkan reaksi positif yang lebih tajam dibandingkan dengan 2019 saat minat investor crypto meningkat akibat sentimen pelonggaran.

Pemangkasan ini merupakan respons nyata terhadap perlambatan ekonomi, bukan hanya langkah pencegahan. Menghadapi September 2025, keadaannya lebih mirip dengan tahun 2024 daripada 2019. The Fed terus melakukan pemotongan suku bunga, inflasi berada di kisaran 3–3,5 persen, dan ekonomi mulai melambat.

Saham tetap menguat, permintaan terhadap emas meningkat, dolar melemah, dan Bitcoin juga menunjukkan lonjakan moderat mengikuti tren aset risiko yang menarik di tengah kondisi suku bunga yang lebih rendah.

Dengan demikian, tahun 2025 menguatkan arah pelonggaran yang dimulai pada September 2024, berbeda dengan kondisi di tahun 2019 yang bersifat pencegahan. Perlu diingat, semua aktivitas jual beli crypto memiliki resiko dan volatilitas yang tinggi karena sifat crypto dengan harga yang fluktuatif.

Maka dari itu, selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan gunakan dana yang tidak digunakan dalam waktu dekat (uang dingin) sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli bitcoin dan investasi aset crypto lainnya menjadi tanggung jawab para trader dan investor.
(unt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bitcoin Pizza Day 2026,...
Bitcoin Pizza Day 2026, Investor Mulai Rasional dan Tinggalkan Tren FOMO
Bitcoin Tembus USD80.000,...
Bitcoin Tembus USD80.000, Didorong Arus ETF dan Sentimen Global
Bitcoin Rebound Dekati...
Bitcoin Rebound Dekati USD79.500, Momentum Positif di Tengah Gejolak Geopolitik
Lewati Selat Hormuz...
Lewati Selat Hormuz Wajib Bayar Iran Pakai Bitcoin, Bagaimana Nasib Kapal Tanker RI?
Bitcoin Melaju di Tengah...
Bitcoin Melaju di Tengah Gejolak Timur Tengah, Ungguli Emas dan Saham
Bitcoin Melemah Usai...
Bitcoin Melemah Usai Pertemuan The Fed, Investor Waspadai Sinyal Hawkish
Upbit Indonesia Perkuat...
Upbit Indonesia Perkuat Literasi Blockchain Lewat Peresmian Web3 Education Center
Prediksi Harga Kripto...
Prediksi Harga Kripto Pakai AI Semakin Tren, Upbit: Investor Tetap Perlu Hati-Hati
Perang Berkecamuk, Harga...
Perang Berkecamuk, Harga Bitcoin Mengamuk Tembus Rp1,1 Miliar
Rekomendasi
Zelensky Tantang Putin...
Zelensky Tantang Putin Bertemu Tatap Muka, Kremlin: Datanglah ke Moskow!
CFD Rasuna Said Tetap...
CFD Rasuna Said Tetap Digelar Minggu 7 Juni, Catat Waktunya!
Perjalanan KRL Tanah...
Perjalanan KRL Tanah Abang-Duri Berangsur Normal setelah Kebakaran di Sekitar Rel Dipadamkan
Berita Terkini
Pertamina EP Bukukan...
Pertamina EP Bukukan Produksi Migas 205 Ribu MBOEPD Sepanjang 2025
Diganjar Rating Negatif...
Diganjar Rating Negatif dari Moody's, Danantara Bilang Begini
Harga Emas Antam Naik...
Harga Emas Antam Naik Rp11.000 per Gram, Ini Rincian Lengkapnya
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Hijau Sesaat, Lalu Ambruk Lebih dari 1%
Dirut BRI Hery Gunardi:...
Dirut BRI Hery Gunardi: Adopsi AI Jadi Kunci Perbankan Pertahankan Nasabah
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
Infografis
7 Perwira Tinggi Bareskrim...
7 Perwira Tinggi Bareskrim Dimutasi Kapolri pada September 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved