Inalum Tunda Rencana IPO, Tunggu Restu dari Danantara
Senin, 29 September 2025 - 17:56 WIB
loading...
PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) menunda rencana penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). FOTO/Shutterstock
A
A
A
JAKARTA - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) menunda rencana penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) yang semula masuk dalam agenda strategis perusahaan. Penundaan ini dilakukan karena perseroan masih menunggu kesepakatan struktur investasi bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara).
"Saat ini kita masih parkir, karena kita masih diskusi strukturnya dengan Danantara, karena ada inisiasi dari Danantara untuk invest di beberapa proyek kita," ujar Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita, dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR, Senin (29/9).
Baca Juga: Beda dengan Danantara, Ini Kewenangan Badan Baru Pengganti Kementerian BUMN
Dia menjelaskan IPO awalnya diposisikan sebagai salah satu milestone penting perusahaan. Namun, setelah muncul inisiasi investasi dari Danantara, manajemen memutuskan untuk mengkaji ulang rencana tersebut.
Adapun pembahasan dengan Danantara meliputi berbagai skema pendanaan, mulai dari investasi langsung, pembiayaan perbankan, hingga opsi lain yang dinilai sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Dengan demikian, IPO yang semula disiapkan menjadi prioritas kini dipindahkan ke luar milestone perusahaan. "Kita diskusi dengan Danantara dulu, apakah akan masuk melalui direct investment, perbankan, dan lain-lain," tambahnya.
Selain itu, Inalum juga membuka peluang pemanfaatan Patriot Bond sebagai alternatif sumber pembiayaan untuk proyek-proyek strategis. Melati mengakui adanya wacana tersebut meski masih dalam tahap awal pembahasan. "Ada wacana seperti itu," katanya.
Dari sisi operasional, Inalum menilai prospek bisnis aluminium masih positif, seiring pertumbuhan ekonomi nasional. Melati menyebut pertumbuhan sektor aluminium tercatat sejalan dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) yang konsisten mengikuti tren ekonomi Indonesia.
Kinerja keuangan Inalum pada 2024 menunjukkan performa yang solid. Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar USD123,7 juta dari total pendapatan USD716,9 juta atau setara Rp11,68 triliun. Angka tersebut mencerminkan pengelolaan bisnis yang efisien di tengah dinamika pasar global.
Baca Juga: Bukan Danantara, Ini Badan Baru Pengganti Kementerian BUMN
Di sisi lain, EBITDA perusahaan tercatat mencapai USD179,2 juta dengan total aset senilai USD2,47 miliar. Hal ini memperkuat posisi Inalum sebagai salah satu BUMN strategis yang berperan dalam hilirisasi industri mineral nasional.
Kinerja produksi juga mencatat lonjakan signifikan. Produksi aluminium Inalum sepanjang 2024 meningkat 27,61 persen menjadi 274.230 ton, sementara volume penjualan naik 25,55 persen menjadi 276.381 ton. Pertumbuhan ini diyakini menjadi modal penting bagi Inalum dalam memperkuat daya saing sekaligus menarik minat investor di masa mendatang.
"Saat ini kita masih parkir, karena kita masih diskusi strukturnya dengan Danantara, karena ada inisiasi dari Danantara untuk invest di beberapa proyek kita," ujar Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita, dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR, Senin (29/9).
Baca Juga: Beda dengan Danantara, Ini Kewenangan Badan Baru Pengganti Kementerian BUMN
Dia menjelaskan IPO awalnya diposisikan sebagai salah satu milestone penting perusahaan. Namun, setelah muncul inisiasi investasi dari Danantara, manajemen memutuskan untuk mengkaji ulang rencana tersebut.
Adapun pembahasan dengan Danantara meliputi berbagai skema pendanaan, mulai dari investasi langsung, pembiayaan perbankan, hingga opsi lain yang dinilai sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Dengan demikian, IPO yang semula disiapkan menjadi prioritas kini dipindahkan ke luar milestone perusahaan. "Kita diskusi dengan Danantara dulu, apakah akan masuk melalui direct investment, perbankan, dan lain-lain," tambahnya.
Selain itu, Inalum juga membuka peluang pemanfaatan Patriot Bond sebagai alternatif sumber pembiayaan untuk proyek-proyek strategis. Melati mengakui adanya wacana tersebut meski masih dalam tahap awal pembahasan. "Ada wacana seperti itu," katanya.
Dari sisi operasional, Inalum menilai prospek bisnis aluminium masih positif, seiring pertumbuhan ekonomi nasional. Melati menyebut pertumbuhan sektor aluminium tercatat sejalan dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) yang konsisten mengikuti tren ekonomi Indonesia.
Kinerja keuangan Inalum pada 2024 menunjukkan performa yang solid. Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar USD123,7 juta dari total pendapatan USD716,9 juta atau setara Rp11,68 triliun. Angka tersebut mencerminkan pengelolaan bisnis yang efisien di tengah dinamika pasar global.
Baca Juga: Bukan Danantara, Ini Badan Baru Pengganti Kementerian BUMN
Di sisi lain, EBITDA perusahaan tercatat mencapai USD179,2 juta dengan total aset senilai USD2,47 miliar. Hal ini memperkuat posisi Inalum sebagai salah satu BUMN strategis yang berperan dalam hilirisasi industri mineral nasional.
Kinerja produksi juga mencatat lonjakan signifikan. Produksi aluminium Inalum sepanjang 2024 meningkat 27,61 persen menjadi 274.230 ton, sementara volume penjualan naik 25,55 persen menjadi 276.381 ton. Pertumbuhan ini diyakini menjadi modal penting bagi Inalum dalam memperkuat daya saing sekaligus menarik minat investor di masa mendatang.
(nng)
Lihat Juga :