Pemerintah AS Shutdown, Wall Street Masih Menguat Dibayangi Pengurangan Suku Bunga The Fed
Kamis, 02 Oktober 2025 - 08:20 WIB
loading...
Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Rabu (1/10) waktu setempat di tengah penutupan sebagian pemerintah (government shutdown). Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Rabu (1/10) waktu setempat. Indeks S&P 500 berhasil menembus level tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya, ditopang oleh optimisme bahwa dampak ekonomi dari penutupan sebagian pemerintah AS (government shutdown) akan terbatas.
Ditambah serta meningkatnya harapan pemangkasan suku bunga lebih lanjut setelah data tenaga kerja menunjukkan pelemahan signifikan. Mengutip Investing, Dow Jones Industrial Average naik 43,21 poin atau 0,09%ke level 46.441,10, S&P 500 menguat 22,74 poin atau 0,34 persen menjadi 6.711,20 dan Nasdaq Composite bertambah 95,15 poin atau 0,42 persen ke posisi 22.755,16.
Shutdown pemerintah AS dimulai setelah rancangan undang-undang pendanaan yang didukung Partai Republik gagal mendapatkan mayoritas suara di Senat. Dalam pemungutan suara, sebanyak 55 anggota menolak dan 45 mendukung, sementara syarat persetujuan minimal adalah 60 suara setuju.
Baca Juga: Trump Ikut Campur Tangan Urusan The Fed: Beri Perintah Pecat Pejabat Bank Lisa Cook
Layanan publik mulai dari pengendalian lalu lintas udara hingga penanggulangan bencana diperkirakan akan terdampak, dan ribuan pegawai federal menghadapi risiko dirumahkan sementara. Meski demikian, pelaku pasar tetap optimistis bahwa shutdown ini tidak akan memberi tekanan besar terhadap perekonomian.
“Sejarah menunjukkan penutupan pemerintah yang berlangsung hingga beberapa pekan pada akhirnya hanya memberikan dampak terbatas bagi ekonomi dan pasar keuangan, setelah pemerintah kembali dibuka,” tulis Wells Fargo dalam riset terbarunya.
Namun sejumlah analis memperingatkan risiko lengah. “Berbahaya jika investor mengandalkan pola pergerakan aset pada shutdown sebelumnya. Kondisi pasar tenaga kerja yang melambat serta potensi PHK lebih luas bisa memicu pelemahan saham maupun imbal hasil obligasi,” ujar Peter Corey, Co-Founder sekaligus Chief Market Strategist Pave Finance.
Di sisi lain, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed (bank sentral AS) semakin meningkat setelah data tenaga kerja sektor swasta menunjukkan pelemahan tajam.
Perusahaan di AS tercatat memangkas 32.000 pekerjaan pada September, penurunan terbesar sejak Maret 2023. Data Agustus juga direvisi turun, dari awalnya bertambah 54.000 pekerjaan menjadi justru kehilangan 3.000 pekerjaan.
Baca Juga: 3 Sinyal Ekonomi Amerika Serikat di Ambang Resesi
Data ini menjadi sorotan karena penutupan pemerintah berpotensi menunda rilis laporan ketenagakerjaan nonfarm payroll (NFP) September yang seharusnya diumumkan Jumat ini. Laporan tersebut biasanya menjadi acuan utama bagi investor untuk melihat arah pasar tenaga kerja.
Corey menambahkan, jika rilis NFP tertunda, pasar bisa terhindar sementara dari potensi kekecewaan akibat data Agustus yang sudah mendekati negatif, sembari memberi waktu bagi data ekonomi lain yang lebih positif untuk muncul.
Ditambah serta meningkatnya harapan pemangkasan suku bunga lebih lanjut setelah data tenaga kerja menunjukkan pelemahan signifikan. Mengutip Investing, Dow Jones Industrial Average naik 43,21 poin atau 0,09%ke level 46.441,10, S&P 500 menguat 22,74 poin atau 0,34 persen menjadi 6.711,20 dan Nasdaq Composite bertambah 95,15 poin atau 0,42 persen ke posisi 22.755,16.
Shutdown pemerintah AS dimulai setelah rancangan undang-undang pendanaan yang didukung Partai Republik gagal mendapatkan mayoritas suara di Senat. Dalam pemungutan suara, sebanyak 55 anggota menolak dan 45 mendukung, sementara syarat persetujuan minimal adalah 60 suara setuju.
Baca Juga: Trump Ikut Campur Tangan Urusan The Fed: Beri Perintah Pecat Pejabat Bank Lisa Cook
Layanan publik mulai dari pengendalian lalu lintas udara hingga penanggulangan bencana diperkirakan akan terdampak, dan ribuan pegawai federal menghadapi risiko dirumahkan sementara. Meski demikian, pelaku pasar tetap optimistis bahwa shutdown ini tidak akan memberi tekanan besar terhadap perekonomian.
“Sejarah menunjukkan penutupan pemerintah yang berlangsung hingga beberapa pekan pada akhirnya hanya memberikan dampak terbatas bagi ekonomi dan pasar keuangan, setelah pemerintah kembali dibuka,” tulis Wells Fargo dalam riset terbarunya.
Namun sejumlah analis memperingatkan risiko lengah. “Berbahaya jika investor mengandalkan pola pergerakan aset pada shutdown sebelumnya. Kondisi pasar tenaga kerja yang melambat serta potensi PHK lebih luas bisa memicu pelemahan saham maupun imbal hasil obligasi,” ujar Peter Corey, Co-Founder sekaligus Chief Market Strategist Pave Finance.
Di sisi lain, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed (bank sentral AS) semakin meningkat setelah data tenaga kerja sektor swasta menunjukkan pelemahan tajam.
Perusahaan di AS tercatat memangkas 32.000 pekerjaan pada September, penurunan terbesar sejak Maret 2023. Data Agustus juga direvisi turun, dari awalnya bertambah 54.000 pekerjaan menjadi justru kehilangan 3.000 pekerjaan.
Baca Juga: 3 Sinyal Ekonomi Amerika Serikat di Ambang Resesi
Data ini menjadi sorotan karena penutupan pemerintah berpotensi menunda rilis laporan ketenagakerjaan nonfarm payroll (NFP) September yang seharusnya diumumkan Jumat ini. Laporan tersebut biasanya menjadi acuan utama bagi investor untuk melihat arah pasar tenaga kerja.
Corey menambahkan, jika rilis NFP tertunda, pasar bisa terhindar sementara dari potensi kekecewaan akibat data Agustus yang sudah mendekati negatif, sembari memberi waktu bagi data ekonomi lain yang lebih positif untuk muncul.
(akr)
Lihat Juga :