Dompet Warga RI Makin Tipis, Terimpit Biaya Sekolah dan Lonjakan Harga Sembako
Kamis, 02 Oktober 2025 - 21:21 WIB
loading...
Masyarakat terimpit kenaikan harga sembako hingga biaya sekolah. Pedagang memilah cabai rawit di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Kamis (19/12/2024). FOTO/Arif Julianto
A
A
A
JAKARTA - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melaporkan adanya pelemahan pada Indeks Menabung Konsumen (IMK) dan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) pada bulan September 2025. Penurunan ini dipicu oleh peningkatan pengeluaran rumah tangga untuk tahun ajaran baru sekolah serta tekanan kenaikan harga sembako dan kondisi lapangan kerja.
IMK pada September 2025 tercatat di level 77,3, sedikit menurun 1,6 poin dari bulan sebelumnya. Penurunan ini didorong oleh pelemahan Indeks Intensitas Menabung (IIM) sebesar 3,6 poin ke level 67,1.
Direktur Group Riset LPS, Seto Wardono menjelaskan, pelemahan ini mencerminkan intensitas menabung konsumen yang melandai seiring dengan meningkatnya pengeluaran rumah tangga untuk pendidikan pada tahun akademik baru.
"Meski demikian, niat menabung konsumen masih terjaga, baik untuk saat ini maupun tiga bulan ke depan," kata Seto dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (2/10/2025).
Baca Juga: Fenomena Makan Tabungan Masih Berlanjut, Kelas Menengah Makin Terjepit Biaya Hidup
Meskipun intensitas menabung menurun, niat konsumen untuk menabung masih terjaga. Hal ini tercermin dari komponen Indeks Waktu Menabung (IWM) yang sedikit meningkat 0,4 poin ke level 87,4.
Data LPS menunjukkan adanya pergeseran dalam kemampuan menabung seperti porsi responden yang menilai jumlah yang ditabung lebih kecil dari yang direncanakan meningkat dari 47,5 persen pada Agustus 2025 menjadi 54,4 persen pada September 2025.
Sementara, porsi responden yang menyatakan tidak pernah menabung justru turun dari 32,0 persen menjadi 30,3 persen. Niat menabung ke depan juga menunjukkan optimisme. Persentase responden yang menilai tiga bulan mendatang sebagai waktu yang tepat untuk menabung tercatat meningkat menjadi 35,8 persen dari 31,6 persen pada periode yang sama.
Secara rinci, penurunan IMK terdalam dialami kelompok rumah tangga (RT) berpendapatan di atas Rp1,5 juta–Rp3 juta/bulan (turun 6,1 poin). Sebaliknya, IMK pada kelompok RT berpendapatan kurang dari Rp1,5 juta/bulan justru mengalami peningkatan signifikan, yakni 21,8 poin (Month-over-Month/MoM).
Selain IMK, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) juga menurun 3,5 poin ke level 90,5 pada September 2025. Penurunan ini dipengaruhi oleh Indeks Situasi Saat Ini (ISSI) yang anjlok 5,4 poin ke level 65,8, mencerminkan pelemahan persepsi terhadap kondisi ekonomi lokal dan lapangan kerja saat ini.
Baca Juga: Si Kaya Makin Kaya, Kelas Menengah Makin Susah, Ini Buktinya
Seto menyebut ada beberapa faktor yang berkontribusi pada penurunan IKK. "Konsumen menghadapi kenaikan harga sembako dan kondisi lapangan kerja yang sulit, sehingga berkontribusi pada penurunan IKK pada bulan September lalu," katanya.
Faktor lain yang disebut adalah kegagalan panen dan harga pupuk yang mahal akibat cuaca ekstrem. Meskipun IKK secara keseluruhan menurun, konsumen masih menunjukkan sikap optimis dalam memandang prospek ekonomi ke depan. Ini tercermin dari Indeks Ekspektasi (IE) yang masih berada di atas 100, yakni di level 109,0, meskipun turun 2,0 poin dari bulan sebelumnya.
Sama seperti IMK, IKK di kelompok RT berpendapatan di atas Rp7 juta/bulan tetap berada di atas 100 atau masih di level optimis pada September 2025, meskipun mengalami penurunan 2,3 poin. Sementara IKK di tiga kelompok pendapatan lainnya turun berkisar antara 2,6 poin hingga 10,4 poin.
IMK pada September 2025 tercatat di level 77,3, sedikit menurun 1,6 poin dari bulan sebelumnya. Penurunan ini didorong oleh pelemahan Indeks Intensitas Menabung (IIM) sebesar 3,6 poin ke level 67,1.
Direktur Group Riset LPS, Seto Wardono menjelaskan, pelemahan ini mencerminkan intensitas menabung konsumen yang melandai seiring dengan meningkatnya pengeluaran rumah tangga untuk pendidikan pada tahun akademik baru.
"Meski demikian, niat menabung konsumen masih terjaga, baik untuk saat ini maupun tiga bulan ke depan," kata Seto dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (2/10/2025).
Baca Juga: Fenomena Makan Tabungan Masih Berlanjut, Kelas Menengah Makin Terjepit Biaya Hidup
Meskipun intensitas menabung menurun, niat konsumen untuk menabung masih terjaga. Hal ini tercermin dari komponen Indeks Waktu Menabung (IWM) yang sedikit meningkat 0,4 poin ke level 87,4.
Data LPS menunjukkan adanya pergeseran dalam kemampuan menabung seperti porsi responden yang menilai jumlah yang ditabung lebih kecil dari yang direncanakan meningkat dari 47,5 persen pada Agustus 2025 menjadi 54,4 persen pada September 2025.
Sementara, porsi responden yang menyatakan tidak pernah menabung justru turun dari 32,0 persen menjadi 30,3 persen. Niat menabung ke depan juga menunjukkan optimisme. Persentase responden yang menilai tiga bulan mendatang sebagai waktu yang tepat untuk menabung tercatat meningkat menjadi 35,8 persen dari 31,6 persen pada periode yang sama.
Secara rinci, penurunan IMK terdalam dialami kelompok rumah tangga (RT) berpendapatan di atas Rp1,5 juta–Rp3 juta/bulan (turun 6,1 poin). Sebaliknya, IMK pada kelompok RT berpendapatan kurang dari Rp1,5 juta/bulan justru mengalami peningkatan signifikan, yakni 21,8 poin (Month-over-Month/MoM).
Selain IMK, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) juga menurun 3,5 poin ke level 90,5 pada September 2025. Penurunan ini dipengaruhi oleh Indeks Situasi Saat Ini (ISSI) yang anjlok 5,4 poin ke level 65,8, mencerminkan pelemahan persepsi terhadap kondisi ekonomi lokal dan lapangan kerja saat ini.
Baca Juga: Si Kaya Makin Kaya, Kelas Menengah Makin Susah, Ini Buktinya
Seto menyebut ada beberapa faktor yang berkontribusi pada penurunan IKK. "Konsumen menghadapi kenaikan harga sembako dan kondisi lapangan kerja yang sulit, sehingga berkontribusi pada penurunan IKK pada bulan September lalu," katanya.
Faktor lain yang disebut adalah kegagalan panen dan harga pupuk yang mahal akibat cuaca ekstrem. Meskipun IKK secara keseluruhan menurun, konsumen masih menunjukkan sikap optimis dalam memandang prospek ekonomi ke depan. Ini tercermin dari Indeks Ekspektasi (IE) yang masih berada di atas 100, yakni di level 109,0, meskipun turun 2,0 poin dari bulan sebelumnya.
Sama seperti IMK, IKK di kelompok RT berpendapatan di atas Rp7 juta/bulan tetap berada di atas 100 atau masih di level optimis pada September 2025, meskipun mengalami penurunan 2,3 poin. Sementara IKK di tiga kelompok pendapatan lainnya turun berkisar antara 2,6 poin hingga 10,4 poin.
(nng)
Lihat Juga :