Menjaga Maskapai Garuda Tetap Mengangkasa lewat Suntikan Modal Danantara
Jum'at, 17 Oktober 2025 - 23:21 WIB
loading...
A
A
A
“Ya memang ini berkaitan tentunya dengan ekspat yang kitatempatkan di dalam Garuda. Ya karena ini kita mau menunjukkanbahwa kita serius,” ungkap Rosan dalam pernyataan publik pada Kamis, 16 Oktober 2025.
Ia menjelaskan bahwa figur-figur tersebut memiliki rekam jejak panjang di maskapai global seperti Singapore Airlines dan Iberia Airlines.
Rosan juga membuka peluang bahwa pendekatan serupa akanditerapkan di sejumlah BUMN lain. “Kita akan analisa, kita juga tidak akan ‘oh ini perlu ekspat’. Tapi kita benar-benar analisa bahwaekspat yang kita bawa ini di BUMN-BUMN itu memang bisamemberikan transfer of technology, knowledge,” ujarnya.
Kebijakan ini sejatinya bukan inisiatif parsial hanya untuk Garuda. Presiden Prabowo Subianto sendiri telah menyatakan bahwa regulasi sudah diubah untuk memberi ruang legal bagi WNA menempati posisi direksi di BUMN.
Dalam pernyataannya, Prabowo menegaskan bahwa reformasi ini bertujuan untuk menghadirkan manajemen BUMN yang profesional, efisien, dan bertaraf internasional. Bahkan menginstruksikan pemangkasan jumlah BUMN secara drastis-dari sekitar 1.000 menjadi hanya 200-agar lebih fokus dan kompetitif di pasar global.
Baca Juga: Bukan Cuma Pemerintah, Ini Pemilik Asli Maskapai Garuda Indonesia
Pernyataan ini menandai terbukanya babak baru dalam profesionalisasi BUMN-yang tidak hanya dilihat dari sisi efisiensi atau laba semata, melainkan dari kemampuan untuk menciptakan standar baru dalam kepemimpinan, kultur kerja, dan tata kelola korporat. Garuda menjadi pionir dalam eksperimen berani ini-dan waktu akan membuktikan sejauh mana model ini dapat direplikasi secara efektif di sektor-sektor BUMN lainnya.
Lebih dari sekadar penyelamatan korporasi, inisiatif ini adalah pilihan strategis sebuah bangsa: apakah Indonesia akan menjaga Garuda tetap mengudara sebagai simbol kedaulatan, diplomasi, dan jembatan Nusantara-atau membiarkannya menjadi bagian dari daftar panjang maskapai legendaris yang hilang ditelan waktu.
Ia menjelaskan bahwa figur-figur tersebut memiliki rekam jejak panjang di maskapai global seperti Singapore Airlines dan Iberia Airlines.
Rosan juga membuka peluang bahwa pendekatan serupa akanditerapkan di sejumlah BUMN lain. “Kita akan analisa, kita juga tidak akan ‘oh ini perlu ekspat’. Tapi kita benar-benar analisa bahwaekspat yang kita bawa ini di BUMN-BUMN itu memang bisamemberikan transfer of technology, knowledge,” ujarnya.
Kebijakan ini sejatinya bukan inisiatif parsial hanya untuk Garuda. Presiden Prabowo Subianto sendiri telah menyatakan bahwa regulasi sudah diubah untuk memberi ruang legal bagi WNA menempati posisi direksi di BUMN.
Dalam pernyataannya, Prabowo menegaskan bahwa reformasi ini bertujuan untuk menghadirkan manajemen BUMN yang profesional, efisien, dan bertaraf internasional. Bahkan menginstruksikan pemangkasan jumlah BUMN secara drastis-dari sekitar 1.000 menjadi hanya 200-agar lebih fokus dan kompetitif di pasar global.
Baca Juga: Bukan Cuma Pemerintah, Ini Pemilik Asli Maskapai Garuda Indonesia
Pernyataan ini menandai terbukanya babak baru dalam profesionalisasi BUMN-yang tidak hanya dilihat dari sisi efisiensi atau laba semata, melainkan dari kemampuan untuk menciptakan standar baru dalam kepemimpinan, kultur kerja, dan tata kelola korporat. Garuda menjadi pionir dalam eksperimen berani ini-dan waktu akan membuktikan sejauh mana model ini dapat direplikasi secara efektif di sektor-sektor BUMN lainnya.
Lebih dari sekadar penyelamatan korporasi, inisiatif ini adalah pilihan strategis sebuah bangsa: apakah Indonesia akan menjaga Garuda tetap mengudara sebagai simbol kedaulatan, diplomasi, dan jembatan Nusantara-atau membiarkannya menjadi bagian dari daftar panjang maskapai legendaris yang hilang ditelan waktu.
(akr)
Lihat Juga :