Pupuk Kaltim Dorong Desa Mandiri lewat Program Kompos Terpadu
Sabtu, 18 Oktober 2025 - 22:08 WIB
loading...
Pupuk Kaltim dianugerahi Gold CSR dan Pembangunan Desa Berkelanjutan (CSR PDB) Award 2025. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) terus memperkuat kapasitas ekonomi masyarakat pedesaan melalui pengelolaan potensi lokal yang berkelanjutan. Komitmen tersebut diwujudkan lewat program Pertanian Kompos Terpadu untuk Babadan Inovatif dan Sejahtera (PKT BISA) yang dikembangkan sejak 2022 di Dusun Babadan, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Direktur Manajemen Risiko Pupuk Kaltim, Teguh Ismartono, mengatakan program ini menjadi inisiatif perusahaan untuk mendorong terbentuknya ekonomi sirkular di wilayah pedesaan. Melalui integrasi sektor pertanian, peternakan, perikanan, pengolahan kompos, hingga UMKM dan koperasi, masyarakat didorong mengelola sumber daya lokal secara optimal dan berkelanjutan.
Menurut Teguh, sistem ekonomi sirkular yang dijalankan PKT BISA memungkinkan setiap kegiatan saling terhubung dan mendukung. Limbah organik dari pertanian diolah menjadi kompos untuk meningkatkan kesuburan tanah, sementara kotoran ternak dijadikan pupuk organik yang kembali digunakan untuk budidaya tanaman.
“Begitu pula hasil perikanan dan kegiatan UMKM diintegrasikan dalam rantai nilai yang saling melengkapi, sehingga menciptakan siklus ekonomi lokal yang efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” ujar Teguh dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/10/2025).
Baca Juga: Kementan dan Pupuk Kaltim Jamin Ketersediaan Pupuk Bersubsidi
Program yang kini melibatkan 175 anggota itu telah memberikan hasil nyata bagi masyarakat Dusun Babadan. Produktivitas pertanian meningkat berkat penggunaan pupuk kompos olahan sendiri, biaya produksi menurun, dan kualitas tanah terjaga. Di sisi lain, sektor peternakan dan perikanan juga tumbuh dengan pengelolaan pakan mandiri berbasis limbah pertanian.
Selain meningkatkan produktivitas, program ini juga melahirkan kemandirian ekonomi melalui koperasi dan UMKM lokal. Produk olahan seperti kompos, hasil pertanian organik, serta produk turunan peternakan kini tidak hanya dipasarkan di Magetan, tetapi juga ke berbagai daerah lain. Sistem usaha kolektif yang diterapkan koperasi membuat masyarakat lebih tangguh secara finansial.
“Pupuk Kaltim melihat potensi besar di Babadan karena masyarakatnya memiliki semangat gotong royong tinggi. Kami hanya menjadi katalis yang memberikan pendampingan dan dukungan teknis agar mereka mampu mengelola potensi secara mandiri,” tambah Teguh.
Seiring keberhasilan tersebut, Pupuk Kaltim berkomitmen melanjutkan pendampingan masyarakat melalui penguatan kapasitas dan keberlanjutan program PKT BISA. Upaya ini menjadi bagian dari strategi Creating Shared Value (CSV) yang sejalan dengan prinsip Environment, Social, and Governance (ESG) dalam setiap kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan.
“Penghargaan yang kami terima menjadi penyemangat untuk memperluas model pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi sirkular. PKT BISA adalah bentuk nyata investasi sosial kami dalam membangun kemandirian dan produktivitas masyarakat desa,” tegas Teguh.
Baca Juga: Strategi Pupuk Kaltim Mendukung Pembangunan Berkelanjutan
Atas keberhasilan tersebut, Pupuk Kaltim dianugerahi Gold CSR dan Pembangunan Desa Berkelanjutan (CSR PDB) Award 2025 dari Indonesian Social Sustainability Forum (ISSF) dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDTT). Menteri Desa PDTT Yandri Susanto mengapresiasi komitmen Pupuk Kaltim yang dinilai berperan aktif membangun kemandirian ekonomi desa, serta menjadi teladan dalam upaya memperkuat fondasi pembangunan dari akar rumput.
Direktur Manajemen Risiko Pupuk Kaltim, Teguh Ismartono, mengatakan program ini menjadi inisiatif perusahaan untuk mendorong terbentuknya ekonomi sirkular di wilayah pedesaan. Melalui integrasi sektor pertanian, peternakan, perikanan, pengolahan kompos, hingga UMKM dan koperasi, masyarakat didorong mengelola sumber daya lokal secara optimal dan berkelanjutan.
Menurut Teguh, sistem ekonomi sirkular yang dijalankan PKT BISA memungkinkan setiap kegiatan saling terhubung dan mendukung. Limbah organik dari pertanian diolah menjadi kompos untuk meningkatkan kesuburan tanah, sementara kotoran ternak dijadikan pupuk organik yang kembali digunakan untuk budidaya tanaman.
“Begitu pula hasil perikanan dan kegiatan UMKM diintegrasikan dalam rantai nilai yang saling melengkapi, sehingga menciptakan siklus ekonomi lokal yang efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” ujar Teguh dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/10/2025).
Baca Juga: Kementan dan Pupuk Kaltim Jamin Ketersediaan Pupuk Bersubsidi
Program yang kini melibatkan 175 anggota itu telah memberikan hasil nyata bagi masyarakat Dusun Babadan. Produktivitas pertanian meningkat berkat penggunaan pupuk kompos olahan sendiri, biaya produksi menurun, dan kualitas tanah terjaga. Di sisi lain, sektor peternakan dan perikanan juga tumbuh dengan pengelolaan pakan mandiri berbasis limbah pertanian.
Selain meningkatkan produktivitas, program ini juga melahirkan kemandirian ekonomi melalui koperasi dan UMKM lokal. Produk olahan seperti kompos, hasil pertanian organik, serta produk turunan peternakan kini tidak hanya dipasarkan di Magetan, tetapi juga ke berbagai daerah lain. Sistem usaha kolektif yang diterapkan koperasi membuat masyarakat lebih tangguh secara finansial.
“Pupuk Kaltim melihat potensi besar di Babadan karena masyarakatnya memiliki semangat gotong royong tinggi. Kami hanya menjadi katalis yang memberikan pendampingan dan dukungan teknis agar mereka mampu mengelola potensi secara mandiri,” tambah Teguh.
Seiring keberhasilan tersebut, Pupuk Kaltim berkomitmen melanjutkan pendampingan masyarakat melalui penguatan kapasitas dan keberlanjutan program PKT BISA. Upaya ini menjadi bagian dari strategi Creating Shared Value (CSV) yang sejalan dengan prinsip Environment, Social, and Governance (ESG) dalam setiap kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan.
“Penghargaan yang kami terima menjadi penyemangat untuk memperluas model pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi sirkular. PKT BISA adalah bentuk nyata investasi sosial kami dalam membangun kemandirian dan produktivitas masyarakat desa,” tegas Teguh.
Baca Juga: Strategi Pupuk Kaltim Mendukung Pembangunan Berkelanjutan
Atas keberhasilan tersebut, Pupuk Kaltim dianugerahi Gold CSR dan Pembangunan Desa Berkelanjutan (CSR PDB) Award 2025 dari Indonesian Social Sustainability Forum (ISSF) dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDTT). Menteri Desa PDTT Yandri Susanto mengapresiasi komitmen Pupuk Kaltim yang dinilai berperan aktif membangun kemandirian ekonomi desa, serta menjadi teladan dalam upaya memperkuat fondasi pembangunan dari akar rumput.
(nng)
Lihat Juga :