Setahun Prabowo-Gibran, 37 Proyek Strategis Ketenagalistrikan Beroperasi
Senin, 20 Oktober 2025 - 17:27 WIB
loading...
Setahun pemerintahan Prabowo-Gibran sebanyak 37 proyek strategis ketenagalistrikan diresmikan. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Setahun pemerintahan Prabowo-Gibran sebanyak 37 proyek strategis ketenagalistrikan terdiri dari 26 pembangkit dan 11 transmisi/gardu induk dengan total kapasitas sekitar 3,22 GW yang tersebar di 18 provinsi beroperasi. Peresmian proyek tersebut dipusatkan di PLTA Jatigede dan diumumkan sebagai bagian dari upaya percepatan akses listrik, penguatan jaringan, dan percepatan transisi menuju energi bersih.
"PLN melaporkan bahwa proyek-proyek yang diresmikan mencakup hampir 740 km sirkuit transmisi dan gardu berkapasitas total sekitar 1.740 MVA elemen esensial agar listrik yang dihasilkan dapat tersalurkan merata," ujar Dewan Pakar Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) Bambang Praptono, Senin (20/10/2025).
Baca Juga: Catatan Setahun Prabowo-Gibran di Bidang Pangan
Dia menilai tambahan kapasitas dan transmisi untuk memperbaiki keandalan pasokan, menurunkan risiko pemadaman, dan membuka ruang bagi industri padat energi untuk berkembang. Menurut laporan Kementerian ESDM, sekitar 89% kapasitas baru berasal dari sumber energi bersih sehingga peresmian ini juga dibaca sebagai langkah awal transisi energi yang lebih besar.
Sementara, dari Institute for Essential Services Reform (IESR) menyambut inisiatif percepatan infrastruktur. Namun mengingatkan bahwa ambisi transisi harus diikuti perencanaan integrative mulai dari kesiapan jaringan, skema pasar listrik, hingga investasi storage agar pembangkit terbarukan tidak berakhir sebagai kapasitas yang under-utilized.
"IESR menekankan perlunya kebijakan dan regulasi yang memfasilitasi integrasi EBT dalam skala besar. Selain itu, pengamat internasional IEEFA menilai bahwa pernyataan pemerintah tentang target jangka panjang (fase-out batubara dan penambahan kapasitas terbarukan besar) menunjukkan arah yang ambisius, tetapi realisasi teknis dan pembiayaan akan menentukan
keberhasilan," ungkap Bambang.
Baca Juga: Satu Tahun Prabowo-Gibran, Menko Polkam Djamari: Kondisi Politik dan Keamanan Sangat Kondusif
Mantan Direktur Perencanaan PLN ini menilai dukungan nasional turut nyata dari sisi pelaku usaha dan operator. PLN menegaskan proyek ini merupakan fondasi untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan meningkatkan pemerataan pasokan listrik, khususnya ke daerah tertinggal yang selama ini mengalami defisit listrik.
Dalam sambutannya, pejabat PLN dan Menteri ESDM menekankan bahwa proyek tersebut juga menyerap tenaga kerja lokal dan melibatkan UMKM pada tahap konstruksi.
"Pencapaian lain yang melengkapi arah "hijau dan terhubung" adalah infrastruktur pendukung transisi. Misalnya pengembangan PLTS IKN dilengkapi BESS (Battery Energy Storage System), proyek panas bumi, dan bahkan upaya membangun ekosistem baterai kendaraan listrik," tuturnya.
Bambang mencontohkan inisiatif ekosistem baterai di Karawang yang diresmikan sebagai bagian dari hilirisasi industri baterai nasional. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintahan mencoba menyusun rantai nilai energi hijau dari pembangkitan hingga hilirisasi industri.
"Respons tokoh masyarakat dan organisasi lingkungan pun terlihat positif, meski penuh catatan teknis. Organisasi lingkungan dan akademisi menyambut baik penempatan proyek EBT dan jaringan transmisi sebagai langkah awal untuk menurunkan emisi dan mendorong investasi hijau dengan catatan perlunya transparansi, analisis dampak lingkungan, dan pelibatan masyarakat lokal dalam proses pengambilan keputusan," tandasnya.
Direktur Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, mengingatkan bahwa target ambisius tersebut memerlukan peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan untuk memastikan bahwa proyek tidak hanya “diresmikan” tetapi juga beroperasi optimal dan berkelanjutan.
"Tentu terdapat tantangan nyata diantaranya sinkronisasi antara pembangkit dan jaringan transmisi, pembiayaan berkelanjutan, manajemen sosial-lingkungan, serta kebutuhan regulasi pasar tenaga listrik yang mengakomodasi variabilitas EBT," paparnya.
Langkah Prabowo-Gibran menempatkan energi sebagai prioritas strategis dengan memperbesar pasokan, memperkuat jaringan, dan membuka ruang bagi EBT serta hilirisasi industri. Hal tersebut akan menjadi kesuksesan jangka panjang akan bergantung pada konsistensi implementasi, keterbukaan regulasi, dan kemampuan negara menjaga keseimbangan antara pembangunan cepat dan keberlanjutan lingkungan-sosial.
"PLN melaporkan bahwa proyek-proyek yang diresmikan mencakup hampir 740 km sirkuit transmisi dan gardu berkapasitas total sekitar 1.740 MVA elemen esensial agar listrik yang dihasilkan dapat tersalurkan merata," ujar Dewan Pakar Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) Bambang Praptono, Senin (20/10/2025).
Baca Juga: Catatan Setahun Prabowo-Gibran di Bidang Pangan
Dia menilai tambahan kapasitas dan transmisi untuk memperbaiki keandalan pasokan, menurunkan risiko pemadaman, dan membuka ruang bagi industri padat energi untuk berkembang. Menurut laporan Kementerian ESDM, sekitar 89% kapasitas baru berasal dari sumber energi bersih sehingga peresmian ini juga dibaca sebagai langkah awal transisi energi yang lebih besar.
Sementara, dari Institute for Essential Services Reform (IESR) menyambut inisiatif percepatan infrastruktur. Namun mengingatkan bahwa ambisi transisi harus diikuti perencanaan integrative mulai dari kesiapan jaringan, skema pasar listrik, hingga investasi storage agar pembangkit terbarukan tidak berakhir sebagai kapasitas yang under-utilized.
"IESR menekankan perlunya kebijakan dan regulasi yang memfasilitasi integrasi EBT dalam skala besar. Selain itu, pengamat internasional IEEFA menilai bahwa pernyataan pemerintah tentang target jangka panjang (fase-out batubara dan penambahan kapasitas terbarukan besar) menunjukkan arah yang ambisius, tetapi realisasi teknis dan pembiayaan akan menentukan
keberhasilan," ungkap Bambang.
Baca Juga: Satu Tahun Prabowo-Gibran, Menko Polkam Djamari: Kondisi Politik dan Keamanan Sangat Kondusif
Mantan Direktur Perencanaan PLN ini menilai dukungan nasional turut nyata dari sisi pelaku usaha dan operator. PLN menegaskan proyek ini merupakan fondasi untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan meningkatkan pemerataan pasokan listrik, khususnya ke daerah tertinggal yang selama ini mengalami defisit listrik.
Dalam sambutannya, pejabat PLN dan Menteri ESDM menekankan bahwa proyek tersebut juga menyerap tenaga kerja lokal dan melibatkan UMKM pada tahap konstruksi.
"Pencapaian lain yang melengkapi arah "hijau dan terhubung" adalah infrastruktur pendukung transisi. Misalnya pengembangan PLTS IKN dilengkapi BESS (Battery Energy Storage System), proyek panas bumi, dan bahkan upaya membangun ekosistem baterai kendaraan listrik," tuturnya.
Bambang mencontohkan inisiatif ekosistem baterai di Karawang yang diresmikan sebagai bagian dari hilirisasi industri baterai nasional. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintahan mencoba menyusun rantai nilai energi hijau dari pembangkitan hingga hilirisasi industri.
"Respons tokoh masyarakat dan organisasi lingkungan pun terlihat positif, meski penuh catatan teknis. Organisasi lingkungan dan akademisi menyambut baik penempatan proyek EBT dan jaringan transmisi sebagai langkah awal untuk menurunkan emisi dan mendorong investasi hijau dengan catatan perlunya transparansi, analisis dampak lingkungan, dan pelibatan masyarakat lokal dalam proses pengambilan keputusan," tandasnya.
Direktur Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, mengingatkan bahwa target ambisius tersebut memerlukan peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan untuk memastikan bahwa proyek tidak hanya “diresmikan” tetapi juga beroperasi optimal dan berkelanjutan.
"Tentu terdapat tantangan nyata diantaranya sinkronisasi antara pembangkit dan jaringan transmisi, pembiayaan berkelanjutan, manajemen sosial-lingkungan, serta kebutuhan regulasi pasar tenaga listrik yang mengakomodasi variabilitas EBT," paparnya.
Langkah Prabowo-Gibran menempatkan energi sebagai prioritas strategis dengan memperbesar pasokan, memperkuat jaringan, dan membuka ruang bagi EBT serta hilirisasi industri. Hal tersebut akan menjadi kesuksesan jangka panjang akan bergantung pada konsistensi implementasi, keterbukaan regulasi, dan kemampuan negara menjaga keseimbangan antara pembangunan cepat dan keberlanjutan lingkungan-sosial.
(nng)
Lihat Juga :