Philippe Aghion Raih Nobel Ekonomi 2025 Berkat Teori 'Penghancuran Kreatif'
Selasa, 21 Oktober 2025 - 14:53 WIB
loading...
Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia resmi menganugerahkan Hadiah Nobel Ekonomi 2025 kepada ekonom asal Prancis, Philippe Aghion. FOTO/Instagram/@harvardpress
A
A
A
JAKARTA - Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia resmi menganugerahkan Hadiah Nobel Ekonomi 2025 kepada ekonom asal Prancis, Philippe Aghion atas kontribusinya dalam mengembangkan teori penghancuran kreatif (creative destruction). Teori tersebut menjelaskan bagaimana inovasi dan perubahan teknologi secara terus-menerus mendorong pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial.
Aghion, profesor di Collège de France, INSEAD, dan London School of Economics (LSE), berbagi penghargaan tersebut dengan dua kolaborator lamanya, Peter Howitt dari Brown University dan Joel Mokyr dari Northwestern University. Komite Nobel menilai karya ketiganya telah mengubah cara dunia memahami hubungan antara inovasi, pasar, dan kemakmuran jangka panjang suatu bangsa.
Baca Juga: Gedung Putih Murka Trump Gagal Raih Hadiah Nobel Perdamaian
Sejak awal 1990-an, Aghion dan Howitt mengembangkan model teoretis yang menggambarkan bagaimana inovasi baru secara berkala menggantikan teknologi lama yang usang. Proses "penghancuran" terhadap sistem lama untuk melahirkan pembaruan inilah yang menjadi motor penggerak ekonomi modern. Sementara, Mokyr menambahkan dimensi sejarah dan sosial dalam teori tersebut, menjelaskan bagaimana budaya dan institusi menentukan keberlangsungan inovasi dalam jangka panjang.
Karya monumental mereka, The Power of Creative Destruction, yang diterbitkan oleh Harvard University Press, kini menjadi referensi penting bagi para pembuat kebijakan global. Buku tersebut menekankan perlunya kebijakan publik yang tidak hanya menopang pertumbuhan ekonomi tetapi juga memastikan pemerataan manfaat dari inovasi agar tidak memperlebar kesenjangan sosial.
Dalam wawancara usai pengumuman penghargaan, Aghion mengungkapkan akar pemikirannya justru berawal dari dunia mode. Ia mengenang ibunya, Gaby Aghion, pendiri rumah mode Chloé dan pelopor konsep ready-to-wear di Paris, sebagai sumber inspirasi utama dalam memahami makna inovasi dan kebebasan berkreasi.
"Saya tumbuh di lingkungan para inovator," tutur Aghion seperti dikutip dari Associated Press, Selasa (21/10). "Saya melihat langsung bagaimana ide segar bisa mengubah seluruh industri."
![Philippe Aghion Raih Nobel Ekonomi 2025 Berkat Teori 'Penghancuran Kreatif']()
Ia pun mengenang masa kecilnya yang kerap dihabiskan bersama para desainer legendaris, termasuk Karl Lagerfeld. "Karl sering membantu saya mengerjakan PR bahasa Jerman," ujarnya.
Baca Juga: Pemimpin Oposisi Venezuela Maria Corina Machado Raih Hadiah Nobel Perdamaian
Menurut Aghion, visi ibunya dalam menciptakan busana yang praktis namun elegan mencerminkan esensi dari teori penghancuran kreatif, menggugat tradisi lama untuk melahirkan kebaruan.
"Sebelumnya hanya ada haute couture. Melalui Chloé, ibu saya menciptakan sesuatu yang baru, membebaskan perempuan dari batasan lama," kata dia.
Penghargaan Nobel kali ini dianggap sangat relevan dengan konteks ekonomi global saat ini. Pemikiran Aghion dan rekan-rekannya memberikan kerangka baru dalam menghadapi tantangan zaman, mulai dari kesenjangan ekonomi, disrupsi digital, hingga transisi menuju ekonomi hijau dengan menempatkan inovasi sebagai kunci menuju pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Aghion, profesor di Collège de France, INSEAD, dan London School of Economics (LSE), berbagi penghargaan tersebut dengan dua kolaborator lamanya, Peter Howitt dari Brown University dan Joel Mokyr dari Northwestern University. Komite Nobel menilai karya ketiganya telah mengubah cara dunia memahami hubungan antara inovasi, pasar, dan kemakmuran jangka panjang suatu bangsa.
Baca Juga: Gedung Putih Murka Trump Gagal Raih Hadiah Nobel Perdamaian
Sejak awal 1990-an, Aghion dan Howitt mengembangkan model teoretis yang menggambarkan bagaimana inovasi baru secara berkala menggantikan teknologi lama yang usang. Proses "penghancuran" terhadap sistem lama untuk melahirkan pembaruan inilah yang menjadi motor penggerak ekonomi modern. Sementara, Mokyr menambahkan dimensi sejarah dan sosial dalam teori tersebut, menjelaskan bagaimana budaya dan institusi menentukan keberlangsungan inovasi dalam jangka panjang.
Karya monumental mereka, The Power of Creative Destruction, yang diterbitkan oleh Harvard University Press, kini menjadi referensi penting bagi para pembuat kebijakan global. Buku tersebut menekankan perlunya kebijakan publik yang tidak hanya menopang pertumbuhan ekonomi tetapi juga memastikan pemerataan manfaat dari inovasi agar tidak memperlebar kesenjangan sosial.
Dalam wawancara usai pengumuman penghargaan, Aghion mengungkapkan akar pemikirannya justru berawal dari dunia mode. Ia mengenang ibunya, Gaby Aghion, pendiri rumah mode Chloé dan pelopor konsep ready-to-wear di Paris, sebagai sumber inspirasi utama dalam memahami makna inovasi dan kebebasan berkreasi.
"Saya tumbuh di lingkungan para inovator," tutur Aghion seperti dikutip dari Associated Press, Selasa (21/10). "Saya melihat langsung bagaimana ide segar bisa mengubah seluruh industri."

Ia pun mengenang masa kecilnya yang kerap dihabiskan bersama para desainer legendaris, termasuk Karl Lagerfeld. "Karl sering membantu saya mengerjakan PR bahasa Jerman," ujarnya.
Baca Juga: Pemimpin Oposisi Venezuela Maria Corina Machado Raih Hadiah Nobel Perdamaian
Menurut Aghion, visi ibunya dalam menciptakan busana yang praktis namun elegan mencerminkan esensi dari teori penghancuran kreatif, menggugat tradisi lama untuk melahirkan kebaruan.
"Sebelumnya hanya ada haute couture. Melalui Chloé, ibu saya menciptakan sesuatu yang baru, membebaskan perempuan dari batasan lama," kata dia.
Penghargaan Nobel kali ini dianggap sangat relevan dengan konteks ekonomi global saat ini. Pemikiran Aghion dan rekan-rekannya memberikan kerangka baru dalam menghadapi tantangan zaman, mulai dari kesenjangan ekonomi, disrupsi digital, hingga transisi menuju ekonomi hijau dengan menempatkan inovasi sebagai kunci menuju pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
(nng)
Lihat Juga :