Rupiah Hari Ini Berakhir Ambles ke Rp16.629 per Dolar AS, Intip Biang Keroknya
Kamis, 23 Oktober 2025 - 17:58 WIB
loading...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan, Kamis (23/10/2025) turun 44 poin atau sekitar 0,27% ke level Rp16.629. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan, Kamis (23/10/2025) turun 44 poin atau sekitar 0,27% ke level Rp16.629 per dolar AS. Pelemahan kurs rupiah juga terlihat pada data JISDOR BI, dimana hari ini menyusut ke Rp16.645/USD dibandingkan kemarin Rp16.617 per USD.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen pelemahan rupiah karena AS menyatakan siap mengambil tindakan lebih lanjut seiring mendesak Moskow untuk segera menyetujui gencatan senjata dalam perangnya di Ukraina.
“Sebuah laporan Reuters menyatakan bahwa pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan untuk membatasi berbagai ekspor berbasis perangkat lunak ke Tiongkok sebagai balasan atas pembatasan ekspor tanah jarang terbaru yang diberlakukan Beijing,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Baca Juga: Ungkap Kunci Utama Selamatkan Rupiah, Ekonom Sebut Bukan Kurang Instrumen
Adapun Inggris menjatuhkan sanksi kepada Rosneft dan Lukoil minggu lalu. Secara terpisah, negara-negara Uni Eropa juga menyetujui paket sanksi ke-19 terhadap Moskow, termasuk larangan impor gas alam cair Rusia dan pencantuman puluhan kapal tanker lainnya dalam "armada bayangan"-nya.
Kemudian, penutupan pemerintah AS memasuki hari ke-22 pada hari Rabu, menandai hari terpanjang kedua dalam sejarah, dengan negosiasi antara Gedung Putih dan Kongres masih menemui jalan buntu. Presiden Trump menegaskan kembali bahwa Partai Republik "tidak akan diperas," karena diskusi mengenai kesepakatan pendanaan masih mandek.
Sementara itu pasar saat ini memperkirakan penurunan suku bunga 25 basis point oleh The Fed sebagai sesuatu yang hampir pasti pada pertemuan kebijakan moneternya pada 29-30 Oktober, meskipun data inflasi masih dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan The Fed ke depannya.
Data ekonomi AS minggu ini cukup ringan, dengan fokus pada Indeks Harga Konsumen (IHK) hari dan pembacaan awal Indeks Manajer Pembelian (PMI) Global S&P untuk bulan Oktober yang akan dirilis hari Jumat.
Dari sentimen domestik, pasar merespon negatif terhadap pernyataan Bank Indonesia bahwa aliran modal asing yang terus keluar dari Indonesia membuat pihaknya terus mengandalkan cadangan devisa (cadev). Sebab tekanan terhadap aliran modal asing itu turut mengganggu stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Dimulai sejak bulan September 2025 hingga 20 Oktober 2025, investasi portofolio tercatat net outflows sebesar USD5,26 miliar yang mengharuskan Bank Indonesia untuk melakukan intervensi dalam rangka stabilisasi nilai tukar Rupiah.
Kondisi tekanan aliran modal asing itulah yang pada akhirnya membuat cadangan devisa Indonesia terus mengalami penurunan saat ini. Sebagaimana diketahui, posisi cadev Indonesia sempat ke level USD157 miliar pada Maret 2025, namun ambles ke level USD149 miliar per September 2025.
Baca Juga: Respons Purbaya Melihat Rupiah Ambruk Sentuh Rp16.700/USD: Minggu Depan Juga Udah Balik
Hal ini terjadi karena outlflow yang terlalu besar akibat adanya pembayaran untuk dividen, repatriasi, dan juga untuk pinjaman, sehingga BI harus menggunakan dana cadangan devisa untuk melakukan intervensi dipasar baik pasar DNDF maupun pasar NDF tujuannya untuk menstabilkan mata uang rupiah.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.620 - Rp16.680 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen pelemahan rupiah karena AS menyatakan siap mengambil tindakan lebih lanjut seiring mendesak Moskow untuk segera menyetujui gencatan senjata dalam perangnya di Ukraina.
“Sebuah laporan Reuters menyatakan bahwa pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan untuk membatasi berbagai ekspor berbasis perangkat lunak ke Tiongkok sebagai balasan atas pembatasan ekspor tanah jarang terbaru yang diberlakukan Beijing,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Baca Juga: Ungkap Kunci Utama Selamatkan Rupiah, Ekonom Sebut Bukan Kurang Instrumen
Adapun Inggris menjatuhkan sanksi kepada Rosneft dan Lukoil minggu lalu. Secara terpisah, negara-negara Uni Eropa juga menyetujui paket sanksi ke-19 terhadap Moskow, termasuk larangan impor gas alam cair Rusia dan pencantuman puluhan kapal tanker lainnya dalam "armada bayangan"-nya.
Kemudian, penutupan pemerintah AS memasuki hari ke-22 pada hari Rabu, menandai hari terpanjang kedua dalam sejarah, dengan negosiasi antara Gedung Putih dan Kongres masih menemui jalan buntu. Presiden Trump menegaskan kembali bahwa Partai Republik "tidak akan diperas," karena diskusi mengenai kesepakatan pendanaan masih mandek.
Sementara itu pasar saat ini memperkirakan penurunan suku bunga 25 basis point oleh The Fed sebagai sesuatu yang hampir pasti pada pertemuan kebijakan moneternya pada 29-30 Oktober, meskipun data inflasi masih dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan The Fed ke depannya.
Data ekonomi AS minggu ini cukup ringan, dengan fokus pada Indeks Harga Konsumen (IHK) hari dan pembacaan awal Indeks Manajer Pembelian (PMI) Global S&P untuk bulan Oktober yang akan dirilis hari Jumat.
Dari sentimen domestik, pasar merespon negatif terhadap pernyataan Bank Indonesia bahwa aliran modal asing yang terus keluar dari Indonesia membuat pihaknya terus mengandalkan cadangan devisa (cadev). Sebab tekanan terhadap aliran modal asing itu turut mengganggu stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Dimulai sejak bulan September 2025 hingga 20 Oktober 2025, investasi portofolio tercatat net outflows sebesar USD5,26 miliar yang mengharuskan Bank Indonesia untuk melakukan intervensi dalam rangka stabilisasi nilai tukar Rupiah.
Kondisi tekanan aliran modal asing itulah yang pada akhirnya membuat cadangan devisa Indonesia terus mengalami penurunan saat ini. Sebagaimana diketahui, posisi cadev Indonesia sempat ke level USD157 miliar pada Maret 2025, namun ambles ke level USD149 miliar per September 2025.
Baca Juga: Respons Purbaya Melihat Rupiah Ambruk Sentuh Rp16.700/USD: Minggu Depan Juga Udah Balik
Hal ini terjadi karena outlflow yang terlalu besar akibat adanya pembayaran untuk dividen, repatriasi, dan juga untuk pinjaman, sehingga BI harus menggunakan dana cadangan devisa untuk melakukan intervensi dipasar baik pasar DNDF maupun pasar NDF tujuannya untuk menstabilkan mata uang rupiah.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.620 - Rp16.680 per dolar AS.
(akr)
Lihat Juga :