Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Guncangan Global
Minggu, 09 November 2025 - 14:30 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: BPS Ajak Masyarakat dan Dunia Usaha Sukseskan Sensus Ekonomi 2026
Nilai ekspor Indonesia pada periode Januari–September 2025 tercatat naik 8,14%, didorong oleh sektor industri pengolahan yang mencapai USD167,85 miliar atau meningkat 17,02%. Adapun tiga negara tujuan ekspor utama adalah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India dengan kontribusi mencapai 41,81% dari total ekspor nonmigas.
Ekspor ke China didominasi besi dan baja, bahan bakar mineral, serta produk nikel. Sementara ekspor ke Amerika Serikat mencakup mesin elektrik, pakaian rajut, dan alas kaki. Di sisi lain, nilai impor nasional tercatat USD176,32 miliar, naik 2,62% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor nonmigas mencapai USD152,58 miliar atau naik 5,17%, sedangkan impor migas justru turun 11,21% menjadi USD23,75 miliar.
Peningkatan impor didorong oleh kenaikan barang modal yang mencapai USD35,90 miliar, naik 19,13% secara tahunan. Kondisi ini menunjukkan aktivitas investasi dan produksi domestik masih tinggi.
China tetap menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai USD62,07 miliar (40,68%), diikuti Jepang USD11,01 miliar (7,22%), dan Amerika Serikat USD7,33 miliar (4,81%). Impor dari China didominasi oleh mesin, perlengkapan elektrik, dan kendaraan bermotor.
BPS mencatat, surplus perdagangan nonmigas terutama disumbang oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak nabati (USD25,14 miliar), bahan bakar mineral (USD20,15 miliar), besi dan baja (USD14,11 miliar), produk nikel (USD6,50 miliar), serta logam mulia dan perhiasan (USD5,41 miliar). Kinerja positif tersebut menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah perlambatan global, dengan struktur ekspor yang semakin beragam dan daya saing industri nasional yang terus meningkat.
Nilai ekspor Indonesia pada periode Januari–September 2025 tercatat naik 8,14%, didorong oleh sektor industri pengolahan yang mencapai USD167,85 miliar atau meningkat 17,02%. Adapun tiga negara tujuan ekspor utama adalah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India dengan kontribusi mencapai 41,81% dari total ekspor nonmigas.
Ekspor ke China didominasi besi dan baja, bahan bakar mineral, serta produk nikel. Sementara ekspor ke Amerika Serikat mencakup mesin elektrik, pakaian rajut, dan alas kaki. Di sisi lain, nilai impor nasional tercatat USD176,32 miliar, naik 2,62% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor nonmigas mencapai USD152,58 miliar atau naik 5,17%, sedangkan impor migas justru turun 11,21% menjadi USD23,75 miliar.
Peningkatan impor didorong oleh kenaikan barang modal yang mencapai USD35,90 miliar, naik 19,13% secara tahunan. Kondisi ini menunjukkan aktivitas investasi dan produksi domestik masih tinggi.
China tetap menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai USD62,07 miliar (40,68%), diikuti Jepang USD11,01 miliar (7,22%), dan Amerika Serikat USD7,33 miliar (4,81%). Impor dari China didominasi oleh mesin, perlengkapan elektrik, dan kendaraan bermotor.
BPS mencatat, surplus perdagangan nonmigas terutama disumbang oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak nabati (USD25,14 miliar), bahan bakar mineral (USD20,15 miliar), besi dan baja (USD14,11 miliar), produk nikel (USD6,50 miliar), serta logam mulia dan perhiasan (USD5,41 miliar). Kinerja positif tersebut menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah perlambatan global, dengan struktur ekspor yang semakin beragam dan daya saing industri nasional yang terus meningkat.
(nng)
Lihat Juga :