APP Group Perkuat Restorasi Lanskap, Pembiayaan Karbon, dan Kolaborasi Global dalam Agenda COP30
Rabu, 19 November 2025 - 17:51 WIB
loading...
A
A
A
Dalam forum COP30, para pemangku kepentingan menekankan bahwa efektivitas restorasi hutan tropis memerlukan perpaduan antara pendekatan ilmiah, legitimasi sosial, dan pendanaan jangka panjang. Aditya Bayunanda, Direktur WWF Indonesia, menegaskan bahwa sektor swasta perlu memilih area intervensi yang strategis secara ekologis dan sosial.
“Pilihlah area dengan habitat penting, keanekaragaman hayati tinggi, atau wilayah dengan jasa lingkungan yang beragam—bukan hanya karbon, tetapi juga air dan budaya yang perlu dilindungi. Area-area seperti itu memberikan nilai tambah dan membedakan posisi perusahaan di tingkat global,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan oleh Beria Leimona, Theme Leader CIFOR–ICRAF, yang menekankan bahwa keberhasilan kolaborasi bergantung pada relevansi sosial dan keterlibatan masyarakat.
“Selain solusi berbasis sains, kita perlu memperhatikan aspek legitimasi. Mendengarkan pengetahuan ekologi lokal dan melibatkan masyarakat dalam proses negosiasi adalah kunci keberlanjutan. Pada akhirnya, kolaborasi sejati bertumpu pada pemberdayaan,” jelasnya.
Semangat kolaboratif ini diperkuat melalui peluncuran Tropical Forests Forever Facility (TFFF) di Paviliun Indonesia. Inisiatif pembiayaan jangka panjang ini melibatkan Pemerintah Indonesia, Brasil, Uni Emirat Arab, sektor energi, lembaga internasional, dan sektor swasta untuk memperkuat konservasi dan restorasi hutan tropis dalam skala besar.
Dalam keynote-nya, Deputi Menteri Koordinator Bidang Aksesibilitas dan Keamanan Pangan, Nani Hendiarti menegaskan bahwa solusi berbasis masyarakat merupakan fondasi utama keberlanjutan. Ia menjelaskan bahwa Indonesia bersama Uni Emirat Arab tengah mengembangkan Nature and Climate Partnership yang mencakup konservasi keanekaragaman hayati, penguatan perhutanan sosial, tata kelola yurisdiksional, serta mekanisme pendanaan inovatif.
“Perlindungan hutan bukan hanya soal menanam pohon, tetapi memastikan masyarakat yang hidup di sekitar hutan memperoleh manfaat nyata,” ujarnya.
“Pilihlah area dengan habitat penting, keanekaragaman hayati tinggi, atau wilayah dengan jasa lingkungan yang beragam—bukan hanya karbon, tetapi juga air dan budaya yang perlu dilindungi. Area-area seperti itu memberikan nilai tambah dan membedakan posisi perusahaan di tingkat global,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan oleh Beria Leimona, Theme Leader CIFOR–ICRAF, yang menekankan bahwa keberhasilan kolaborasi bergantung pada relevansi sosial dan keterlibatan masyarakat.
“Selain solusi berbasis sains, kita perlu memperhatikan aspek legitimasi. Mendengarkan pengetahuan ekologi lokal dan melibatkan masyarakat dalam proses negosiasi adalah kunci keberlanjutan. Pada akhirnya, kolaborasi sejati bertumpu pada pemberdayaan,” jelasnya.
Semangat kolaboratif ini diperkuat melalui peluncuran Tropical Forests Forever Facility (TFFF) di Paviliun Indonesia. Inisiatif pembiayaan jangka panjang ini melibatkan Pemerintah Indonesia, Brasil, Uni Emirat Arab, sektor energi, lembaga internasional, dan sektor swasta untuk memperkuat konservasi dan restorasi hutan tropis dalam skala besar.
Dalam keynote-nya, Deputi Menteri Koordinator Bidang Aksesibilitas dan Keamanan Pangan, Nani Hendiarti menegaskan bahwa solusi berbasis masyarakat merupakan fondasi utama keberlanjutan. Ia menjelaskan bahwa Indonesia bersama Uni Emirat Arab tengah mengembangkan Nature and Climate Partnership yang mencakup konservasi keanekaragaman hayati, penguatan perhutanan sosial, tata kelola yurisdiksional, serta mekanisme pendanaan inovatif.
“Perlindungan hutan bukan hanya soal menanam pohon, tetapi memastikan masyarakat yang hidup di sekitar hutan memperoleh manfaat nyata,” ujarnya.
Lihat Juga :