Malaysia Larang Ekspor Logam Tanah Jarang ke AS
Rabu, 26 November 2025 - 09:54 WIB
loading...
Malaysia akan mempertahankan larangan ekspor logam tanah jarang mentah untuk melindungi sumber daya domestiknya, meskipun telah menandatangani kesepakatan mineral kritis dengan AS. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Malaysia akan mempertahankan larangan ekspor logam tanah jarang mentah untuk melindungi sumber daya domestiknya, meskipun telah menandatangani kesepakatan mineral kritis dengan Amerika Serikat (AS). Hal ini ditegaskan oleh Menteri Perdagangan beberapa waktu lalu.
Menteri Tengku Zafrul Aziz menepis tuduhan bahwa Malaysia akan membuka izin ekspor mineral kritis dan logam tanah jarang ke Amerika Serikat demi mengejar keuntungan instan atau tujuan strategis.
"Kami tidak lagi ingin menjadi negara yang hanya menambang dan mengirim bahan mentah murah seperti di masa lalu," kata Tengku Zafrul.
Baca Juga: China Masih Penguasa Mineral Langka Tanah Jarang, Barat Tertinggal Satu Dekade
Ia juga menekankan, bahwa Malaysia akan mendorong investasi asing dan berbagi teknologi untuk penambangan dan pengolahan logam tanah jarang mentah. "Kebijakan kami bukan untuk mencegah perdagangan selamanya," katanya.
"Kebijakan kami adalah untuk mencegah ekspor bahan mentah murah yang belum diolah agar nilai tambahnya tetap berada di Malaysia," bebernya.
Malaysia memiliki sekitar 16,1 juta ton metrik cadangan logam tanah jarang, menurut perkiraan pemerintah, akan tetapi negara tetangga Indonesia ini masih kekurangan teknologi untuk menambang dan memprosesnya. Seperti diketahui logam tanah jarang sangat penting untuk sektor manufaktur berteknologi tinggi, termasuk kendaraan listrik, semikonduktor, hingga misil.
Dilaporkan Reuters awal bulan ini bahwa Malaysia sedang melakukan pembicaraan dengan China mengenai pengolahan logam tanah jarang. Dikatakan bahwa dana kekayaan negara Malaysia, Khazanah Nasional, akan bermitra dengan sebuah perusahaan China untuk membangun sebuah kilang di Malaysia.
Baca Juga: 5 Negara Pemilik Mineral Paling Krusial di Dunia, Kunci Masa Depan Energi dan Teknologi
Sementara itu Amerika Serikat (AS) menandatangani kesepakatan terpisah dengan Malaysia dan Thailand selama kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Kuala Lumpur, dengan tujuan mencari kerja sama untuk mendiversifikasi rantai pasokan mineral penting di tengah upaya kompetitif dari China.
Menurut pernyataan bersama oleh Amerika Serikat dan Malaysia, negara Asia Tenggara itu setuju untuk menahan diri dari melarang atau memberlakukan kuota pada ekspor mineral penting atau unsur tanah jarang ke AS.
Menteri Tengku Zafrul Aziz menepis tuduhan bahwa Malaysia akan membuka izin ekspor mineral kritis dan logam tanah jarang ke Amerika Serikat demi mengejar keuntungan instan atau tujuan strategis.
"Kami tidak lagi ingin menjadi negara yang hanya menambang dan mengirim bahan mentah murah seperti di masa lalu," kata Tengku Zafrul.
Baca Juga: China Masih Penguasa Mineral Langka Tanah Jarang, Barat Tertinggal Satu Dekade
Ia juga menekankan, bahwa Malaysia akan mendorong investasi asing dan berbagi teknologi untuk penambangan dan pengolahan logam tanah jarang mentah. "Kebijakan kami bukan untuk mencegah perdagangan selamanya," katanya.
"Kebijakan kami adalah untuk mencegah ekspor bahan mentah murah yang belum diolah agar nilai tambahnya tetap berada di Malaysia," bebernya.
Malaysia memiliki sekitar 16,1 juta ton metrik cadangan logam tanah jarang, menurut perkiraan pemerintah, akan tetapi negara tetangga Indonesia ini masih kekurangan teknologi untuk menambang dan memprosesnya. Seperti diketahui logam tanah jarang sangat penting untuk sektor manufaktur berteknologi tinggi, termasuk kendaraan listrik, semikonduktor, hingga misil.
Dilaporkan Reuters awal bulan ini bahwa Malaysia sedang melakukan pembicaraan dengan China mengenai pengolahan logam tanah jarang. Dikatakan bahwa dana kekayaan negara Malaysia, Khazanah Nasional, akan bermitra dengan sebuah perusahaan China untuk membangun sebuah kilang di Malaysia.
Baca Juga: 5 Negara Pemilik Mineral Paling Krusial di Dunia, Kunci Masa Depan Energi dan Teknologi
Sementara itu Amerika Serikat (AS) menandatangani kesepakatan terpisah dengan Malaysia dan Thailand selama kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Kuala Lumpur, dengan tujuan mencari kerja sama untuk mendiversifikasi rantai pasokan mineral penting di tengah upaya kompetitif dari China.
Menurut pernyataan bersama oleh Amerika Serikat dan Malaysia, negara Asia Tenggara itu setuju untuk menahan diri dari melarang atau memberlakukan kuota pada ekspor mineral penting atau unsur tanah jarang ke AS.
(akr)
Lihat Juga :