Sinar Hijau Ventures Lepas Ekspor Perdana 7 Ton Rempah ke Vietnam
Sabtu, 29 November 2025 - 16:20 WIB
loading...
PT Sinar Hijau Ventures (SHV) resmi melepas ekspor perdana sebanyak tujuh ton pala, fuli, dan cengkih dari Kabupaten Seram Bagian Barat ke Vietnam. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - PT Sinar Hijau Ventures (SHV) resmi melepas ekspor perdana sebanyak tujuh ton pala, fuli, dan cengkih dari Kabupaten Seram Bagian Barat ke Vietnam. Pengiriman ini menandai langkah penting dalam penguatan rantai pasok rempah Maluku sekaligus membuka akses pasar internasional bagi petani hutan. Keberhasilan tersebut juga menjadi bukti bahwa produk rempah yang dikelola kelompok perhutanan sosial telah memenuhi standar untuk bersaing di pasar global.
"Ekspor perdana ini memberi ruang lebih besar bagi petani rempah Maluku. Melalui pendampingan panen dan pascapanen, kami memastikan kualitas produk memenuhi standar internasional sehingga pendapatan petani meningkat dan peluang perdagangan jangka panjang dapat terbuka," ujar CEO SHV, Dessi Yuliana dalam keterangan pers, Sabtu (29/11/2025).
Baca Juga: Desa di Ngada NTT Ekspor 15 Ton Kopi ke Thailand Bernilai Rp1,65 Miliar
Menurut dia ekspor perdana ini didukung pasokan dari kawasan Perhutanan Sosial yang dikelola Kelompok Tani Hutan (KTH), Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), serta petani binaan SHV. Peningkatan mutu panen dan perbaikan pascapanen yang dilakukan selama dua tahun terakhir menghasilkan kualitas produk yang konsisten dan sesuai persyaratan pembeli internasional, memperkuat potensi rempah Maluku menembus pasar Asia.
Dia menyatakan, capaian tersebut mencerminkan meningkatnya kapasitas petani rempah di daerah. Kepala Balai Perhutanan Sosial Ambon, Ojom Somantri, menilai keberhasilan ekspor ini menunjukkan dampak nyata ketika petani mendapatkan pendampingan yang tepat. Ia menyebut cara panen dan pascapanen yang baik terbukti tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga menjaga kelestarian hutan dan memungkinkan komoditas lokal menembus pasar ekspor.
Sementara, Kepala UPTD KPH Seram Bagian Barat, Fence Purimahua, menegaskan keberhasilan pengiriman perdana ini merupakan hasil kerja bersama antara petani, pendamping, dan pemerintah. Ia berharap volume ekspor dapat meningkat pada pengiriman berikutnya dengan melibatkan lebih banyak kelompok perhutanan sosial di wilayah tersebut.
Sejak 2023, SHV sebagai social enterprise aktif mendampingi petani kecil dan kelompok perhutanan sosial di Maluku melalui pelatihan panen, perbaikan pascapanen, penyediaan peralatan, hingga penerapan standar kualitas. Melalui inisiatif “Rimbawan Market” kolaborasi SHV, Yayasan Solidaridad, UNEP, Pemerintah Kanada, Balai Perhutanan Sosial Ambon, Dinas Kehutanan Provinsi Maluku, serta UPTD KPH Seram Bagian Barat hambatan tata niaga desa berangsur teratasi sehingga petani memperoleh akses pemasaran langsung dengan nilai jual lebih tinggi.
Baca Juga: Kasus Pelanggaran Ekspor Produk Turunan CPO, Kerugian Negara Rp2,8 Triliun
Dukungan juga datang dari UNEP melalui proyek TLGF. UNEP–TLGF Project Manager, Riska Efriyanti, menilai Indonesia membutuhkan lebih banyak inisiatif usaha hijau seperti SHV yang mengedepankan keseimbangan antara bisnis, kelestarian lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan petani, termasuk pemberdayaan perempuan di Seram Bagian Barat. Ia berharap model rantai pasok berkelanjutan ini dapat menginspirasi lebih banyak pihak mengeksplorasi potensi agroforestri di Maluku.
Ekspor perdana ini menjadi titik awal penguatan posisi petani hutan dalam rantai nilai rempah Maluku. Dengan peningkatan mutu, perbaikan pascapanen, serta pengelolaan komoditas berbasis masyarakat, usaha rempah terbukti mampu mendorong ekonomi desa sekaligus menjaga keberlanjutan hutan. Ke depan, SHV menegaskan komitmennya memperkuat pemberdayaan desa melalui prinsip ESG dengan menempatkan Maluku sebagai sumber rempah berkualitas yang dikelola secara beretika dan berkelanjutan.
"Ekspor perdana ini memberi ruang lebih besar bagi petani rempah Maluku. Melalui pendampingan panen dan pascapanen, kami memastikan kualitas produk memenuhi standar internasional sehingga pendapatan petani meningkat dan peluang perdagangan jangka panjang dapat terbuka," ujar CEO SHV, Dessi Yuliana dalam keterangan pers, Sabtu (29/11/2025).
Baca Juga: Desa di Ngada NTT Ekspor 15 Ton Kopi ke Thailand Bernilai Rp1,65 Miliar
Menurut dia ekspor perdana ini didukung pasokan dari kawasan Perhutanan Sosial yang dikelola Kelompok Tani Hutan (KTH), Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), serta petani binaan SHV. Peningkatan mutu panen dan perbaikan pascapanen yang dilakukan selama dua tahun terakhir menghasilkan kualitas produk yang konsisten dan sesuai persyaratan pembeli internasional, memperkuat potensi rempah Maluku menembus pasar Asia.
Dia menyatakan, capaian tersebut mencerminkan meningkatnya kapasitas petani rempah di daerah. Kepala Balai Perhutanan Sosial Ambon, Ojom Somantri, menilai keberhasilan ekspor ini menunjukkan dampak nyata ketika petani mendapatkan pendampingan yang tepat. Ia menyebut cara panen dan pascapanen yang baik terbukti tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga menjaga kelestarian hutan dan memungkinkan komoditas lokal menembus pasar ekspor.
Sementara, Kepala UPTD KPH Seram Bagian Barat, Fence Purimahua, menegaskan keberhasilan pengiriman perdana ini merupakan hasil kerja bersama antara petani, pendamping, dan pemerintah. Ia berharap volume ekspor dapat meningkat pada pengiriman berikutnya dengan melibatkan lebih banyak kelompok perhutanan sosial di wilayah tersebut.
Sejak 2023, SHV sebagai social enterprise aktif mendampingi petani kecil dan kelompok perhutanan sosial di Maluku melalui pelatihan panen, perbaikan pascapanen, penyediaan peralatan, hingga penerapan standar kualitas. Melalui inisiatif “Rimbawan Market” kolaborasi SHV, Yayasan Solidaridad, UNEP, Pemerintah Kanada, Balai Perhutanan Sosial Ambon, Dinas Kehutanan Provinsi Maluku, serta UPTD KPH Seram Bagian Barat hambatan tata niaga desa berangsur teratasi sehingga petani memperoleh akses pemasaran langsung dengan nilai jual lebih tinggi.
Baca Juga: Kasus Pelanggaran Ekspor Produk Turunan CPO, Kerugian Negara Rp2,8 Triliun
Dukungan juga datang dari UNEP melalui proyek TLGF. UNEP–TLGF Project Manager, Riska Efriyanti, menilai Indonesia membutuhkan lebih banyak inisiatif usaha hijau seperti SHV yang mengedepankan keseimbangan antara bisnis, kelestarian lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan petani, termasuk pemberdayaan perempuan di Seram Bagian Barat. Ia berharap model rantai pasok berkelanjutan ini dapat menginspirasi lebih banyak pihak mengeksplorasi potensi agroforestri di Maluku.
Ekspor perdana ini menjadi titik awal penguatan posisi petani hutan dalam rantai nilai rempah Maluku. Dengan peningkatan mutu, perbaikan pascapanen, serta pengelolaan komoditas berbasis masyarakat, usaha rempah terbukti mampu mendorong ekonomi desa sekaligus menjaga keberlanjutan hutan. Ke depan, SHV menegaskan komitmennya memperkuat pemberdayaan desa melalui prinsip ESG dengan menempatkan Maluku sebagai sumber rempah berkualitas yang dikelola secara beretika dan berkelanjutan.
(nng)
Lihat Juga :