Penguatan Bioenergi Didorong sebagai Pilar Transisi Energi Nasional

Sabtu, 29 November 2025 - 17:28 WIB
loading...
Penguatan Bioenergi...
Workshop Energi Terbarukan sebagai Sumber Energi Ramah Lingkungan: Potensi, Tantangan, dan Strategi Pengembangannya yang diselenggarakan di BA Center di Jakarta. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkuat pengembangan bioenergi sebagai bagian dari strategi transisi energi dan pengurangan emisi dari PLTU. Komitmen ini disampaikan dalam Workshop “Energi Terbarukan sebagai Sumber Energi Ramah Lingkungan: Potensi, Tantangan, dan Strategi Pengembangannya” yang diselenggarakan di BA Center di Jakarta belum lama ini.

Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Monitoring dan Evaluasi Infrastruktur Migas, Anggawira, menyatakan bahwa akselerasi bioenergi harus selaras dengan arah kebijakan energi Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam memperkuat ketahanan energi dan menyediakan listrik terjangkau bagi masyarakat. Ia menyoroti ketimpangan harga komoditas dan insentif yang belum cukup menarik untuk mendorong sektor biomassa maupun bioenergi.

‎“Kita melihat delapan tahun harga batu bara tidak naik, sementara biaya produksi terus meningkat. Ini menimbulkan kontradiksi bagi pelaku usaha di sektor pasokan energi,” ujarnya melalui keterangan pers, Sabtu (29/11/2025).

Baca Juga: Efisiensi Logistik Jadi Kunci Ketahanan dan Transisi Energi Nasional

D‎ia menambahkan, pengembangan bioenergi perlu mendapat perhatian lebih serius karena potensinya besar dan dapat memperkuat rantai pasok energi nasional. Ia juga menyoroti bahwa biomassa belum menjadi critical performance indicator (CPI) bagi seluruh subholding PLN Group, sehingga adopsinya masih terbatas.

“Jika biomassa menjadi CPI dan harga lebih kompetitif, ini bisa sangat membantu para pemasok khususnya UMKM, kalau tidak jadi CPI, otomatis tidak ada kewajiban untuk menyerap biomassa. Padahal kalau bioenergi diberi insentif harga, misalnya dinaikkan sedikit, ini bisa lebih solutif,” tuturnya.

‎‎Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menegaskan bahwa penggunaan biomassa melalui program co-firing menjadi langkah strategis untuk menurunkan emisi tanpa harus membangun pembangkit baru. Hingga 2025, PLN telah mengimplementasikan co-firing di 48 PLTU dan terus memperluas cakupan.

‎“Kami mencoba menghijaukan listrik yang dihasilkan PLTU dengan co-firing biomassa. Kontribusinya signifikan dalam mengurangi emisi karena menggantikan sebagian batu bara dengan bahan bakar terbarukan,” jelas Hokkop.

‎Ia memaparkan bahwa potensi biomassa Indonesia sangat besar, terutama dari limbah pertanian, lahan konsesi, hingga limbah perkebunan. Namun, distribusi bahan baku yang tersebar, musim hujan, standar kualitas yang belum seragam, serta infrastruktur logistik menjadi tantangan besar. Selain itu akses dari hulu ke pembangkit tidak selalu ideal dan dibutuhkan mekanisme handling dan mixing yang lebih detail agar tidak mengganggu operasional PLTU,” jelasnya .

Ia menekankan pentingnya penguatan kualitas biomassa agar tidak mengganggu stabilitas operasi PLTU, terutama pada rasio co-firing yang lebih tinggi. Tantangan transportasi darat, kebutuhan pengeringan, dan mekanisme mixing yang lebih rinci juga menjadi faktor pembatas.



‎‎Dalam jangka panjang, PLN EPI tengah menyiapkan pengembangan pasokan biomassa berbasis penanaman untuk menjaga keberlanjutan suplai. Kolaborasi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para pelaku usaha juga menjadi kunci penguatan ekosistem bioenergi nasional. “Untuk meng-unlock potensi bioenergi, kita memerlukan dukungan regulasi, penguatan supply chain, serta keterlibatan semua pemangku kepentingan,” kata Hokkop.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Penyaluran Biodiesel Tahun...
Penyaluran Biodiesel Tahun Ini Diproyeksikan Sebesar 10,15 Juta Kiloliter
Pengembangan Jenis Tanaman...
Pengembangan Jenis Tanaman Bioenergi Bisa Jadi Solusi Lahan Terdegradasi
Energi dari Kotoran...
Energi dari Kotoran Sapi Belum Maksimal Dieksplorasi
Penggunaan Energi Terbarukan...
Penggunaan Energi Terbarukan untuk Tekan Konsumsi Energi Fosil
RI Hadapi Tantangan...
RI Hadapi Tantangan Dalam Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca
Minyak Jelantah Mau...
Minyak Jelantah Mau Masuk Program Biodiesel? Ntar Dulu...!
Bahan Bakar Nabati Karya...
Bahan Bakar Nabati Karya Anak Bangsa Bakal Dipasarkan di Timor Leste, Bobibos Siap Produksi Massal
Bobibos Dapat Proteksi...
Bobibos Dapat Proteksi dan Regulasi dari Timor Leste: Kelola 25 Ribu Hektare Sawah
Mempercepat EBT, PPI...
Mempercepat EBT, PPI Hadirkan Inovasi Baru Pembangkit Listrik
Rekomendasi
Prabowo Resmi Lantik...
Prabowo Resmi Lantik Nanik S Deyang Jadi Kepala BGN, Agustina dan Trenggono Wakil
Mengapa Menaikkan HET...
Mengapa Menaikkan HET Minyakita Bukan Solusi
Keanu Agl Diperiksa...
Keanu Agl Diperiksa Terkait Kasus Hanania Group, Bantah Terima Uang Miliaran Rupiah
Berita Terkini
RupiahCepat dan Bank...
RupiahCepat dan Bank DBS Kolaborasi Perluas Akses Pembiayaan
Bahlil Beberkan soal...
Bahlil Beberkan soal Rencana Pembentukan Bursa Mineral Indonesia
Pakar Ingatkan Galon...
Pakar Ingatkan Galon Guna Ulang Jangan Dipakai Lebih dari Setahun
IHSG Terjun Bebas 4,52%...
IHSG Terjun Bebas 4,52% Sore Ini, Banyak Saham 'Berdarah-darah'
Satu Seperempat Abad...
Satu Seperempat Abad Menjaga Kepercayaan, Pegadaian Konsisten Hadirkan Layanan Terdepan untuk Negeri
MNC Sekuritas Bekali...
MNC Sekuritas Bekali Mahasiswa UPJ Edukasi Pasar Modal dalam Acara Jaya Investment Week 2026
Infografis
7 Universitas Islam...
7 Universitas Islam Negeri Terbaik Masuk Top 100 Nasional Webometrics 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved