Kadin: Gas Jadi Penopang Hilirisasi Industri Strategis
Sabtu, 06 Desember 2025 - 18:08 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Pengusaha Mamin Ingin Kepastian Pasokan Gas bagi Industri
Dari sisi tata kelola, Partner, Forensic & Integrity Services EY Indonesia Stevanus Alexander Sianturi mengangkat isu penting terkait risiko fraud dan kepatuhan korporasi di sektor energi. Dengan nilai transaksi yang besar, kompleksitas rantai pasokan, dan ketergantungan pada pihak ketiga, ia memaparkan bahwa gas merupakan salah satu sektor dengan eksposur risiko integritas yang tinggi.
Isu tersebut mendapat respons dari Wakil Ketua KPK periode 2003-2007 Amien Sunaryadi yang menekankan pentingnya keputusan korporasi yang akuntabel di tengah pemberlakuan KUHP baru yang memasukkan pidana korporasi. Ia mengingatkan agar perusahaan memiliki decision tree yang jelas, termasuk opsi “do nothing” yang sering diabaikan.
“Kadang yang mahal itu justru biaya tidak melakukan apa-apa,” katanya.
Ia menegaskan bahwa keputusan bisnis harus murni untuk kepentingan perusahaan, bukan kepentingan pribadi atau kelompok. Amien juga mencontohkan bagaimana perusahaan global seperti Siemens dan Goldman Sachs pernah terkena sanksi besar karena kelalaian sistem pencegahan fraud.
Senada, KADIN Bidang ESDM juga menekankan bahwa stagnasi adalah risiko terbesar. “Kerap kali, harga yang harus dibayar karena kita tak melakukan apa-apa justru lebih mahal,” kata Aryo Djojohadikusumo.
Oleh karena itu, KADIN mengajak seluruh pelaku usaha di sektor energi untuk berkolaborasi membantu pemerintah mencapai target pertumbuhan dan menciptakan lapangan kerja. “Tugas kita memastikan energi tersedia, industri jalan, dan negara maju. Itu bagian dari tanggung jawab kita,” imbuh Aryo.
Rangkaian paparan ini memperlihatkan bahwa ekosistem gas meliputi hulu, hilir, hingga tata kelola dan regulasi. Koordinasi lintas stakeholder memainkan peran strategis terhadap pelaksanaan di lapangan.
Dari sisi tata kelola, Partner, Forensic & Integrity Services EY Indonesia Stevanus Alexander Sianturi mengangkat isu penting terkait risiko fraud dan kepatuhan korporasi di sektor energi. Dengan nilai transaksi yang besar, kompleksitas rantai pasokan, dan ketergantungan pada pihak ketiga, ia memaparkan bahwa gas merupakan salah satu sektor dengan eksposur risiko integritas yang tinggi.
Isu tersebut mendapat respons dari Wakil Ketua KPK periode 2003-2007 Amien Sunaryadi yang menekankan pentingnya keputusan korporasi yang akuntabel di tengah pemberlakuan KUHP baru yang memasukkan pidana korporasi. Ia mengingatkan agar perusahaan memiliki decision tree yang jelas, termasuk opsi “do nothing” yang sering diabaikan.
“Kadang yang mahal itu justru biaya tidak melakukan apa-apa,” katanya.
Ia menegaskan bahwa keputusan bisnis harus murni untuk kepentingan perusahaan, bukan kepentingan pribadi atau kelompok. Amien juga mencontohkan bagaimana perusahaan global seperti Siemens dan Goldman Sachs pernah terkena sanksi besar karena kelalaian sistem pencegahan fraud.
Senada, KADIN Bidang ESDM juga menekankan bahwa stagnasi adalah risiko terbesar. “Kerap kali, harga yang harus dibayar karena kita tak melakukan apa-apa justru lebih mahal,” kata Aryo Djojohadikusumo.
Oleh karena itu, KADIN mengajak seluruh pelaku usaha di sektor energi untuk berkolaborasi membantu pemerintah mencapai target pertumbuhan dan menciptakan lapangan kerja. “Tugas kita memastikan energi tersedia, industri jalan, dan negara maju. Itu bagian dari tanggung jawab kita,” imbuh Aryo.
Rangkaian paparan ini memperlihatkan bahwa ekosistem gas meliputi hulu, hilir, hingga tata kelola dan regulasi. Koordinasi lintas stakeholder memainkan peran strategis terhadap pelaksanaan di lapangan.
(akr)
Lihat Juga :