Bunga The Fed Diramal Turun, Rupiah Sepekan Berotot di Hadapan Dolar AS
Minggu, 07 Desember 2025 - 09:15 WIB
loading...
A
A
A
Meskipun mencatat kinerja positif, apresiasi Rupiah berada di tengah jika dibandingkan dengan mata uang lainnya di kawasan Asia. Penguatan Rupiah tercatat sebesar 0,09 persen sepanjang pekan.
Dua mata uang negara tetangga memimpin laju penguatan Asia seperti Baht Thailand perkasa dengan apresiasi 0,78 persen dan Ringgit Malaysia mendominasi dengan kenaikan 0,56 persen. Diikuti oleh Yen Jepang (menguat 0,52 persen) dan Dolar Taiwan (menguat 0,33 persen). Di sisi lain, beberapa mata uang melemah, antara lain Rupee India (turun 0,65 persen), Peso Filipina (turun 0,53 persen), dan Won Korea (turun 0,4 persen).
Baca Juga: Kurs Rupiah Terkapar di Kisaran Rp16.736/USD Dihantam Faktor Eksternal
Pergerakan mata uang Asia, termasuk Rupiah, sangat dipengaruhi oleh dinamika dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS (DXY) turun 0,45 persen sepanjang pekan ini ke 98,992. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen penguatan Rupiah datang dari ekspektasi bahwa The Fed akan mulai melonggarkan kebijakan seiring melemahnya momentum ekonomi. "Investor telah beralih ke pandangan bahwa The Fed mungkin akan mulai melonggarkan kebijakan seiring melemahnya momentum ekonomi," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Di sisi domestik, penguatan Rupiah juga didukung oleh data Cadangan Devisa (Cadev) Indonesia yang meningkat pada akhir November 2025 menjadi USD150,1 miliar, naik dari USD149,9 miliar pada akhir Oktober 2025. Kenaikan Cadev ini bersumber antara lain dari penerimaan pajak dan jasa, serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. Ibrahim memprediksi bahwa pada perdagangan selanjutnya, Rupiah akan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.640 - Rp16.680 per dolar A
Dua mata uang negara tetangga memimpin laju penguatan Asia seperti Baht Thailand perkasa dengan apresiasi 0,78 persen dan Ringgit Malaysia mendominasi dengan kenaikan 0,56 persen. Diikuti oleh Yen Jepang (menguat 0,52 persen) dan Dolar Taiwan (menguat 0,33 persen). Di sisi lain, beberapa mata uang melemah, antara lain Rupee India (turun 0,65 persen), Peso Filipina (turun 0,53 persen), dan Won Korea (turun 0,4 persen).
Baca Juga: Kurs Rupiah Terkapar di Kisaran Rp16.736/USD Dihantam Faktor Eksternal
Pergerakan mata uang Asia, termasuk Rupiah, sangat dipengaruhi oleh dinamika dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS (DXY) turun 0,45 persen sepanjang pekan ini ke 98,992. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen penguatan Rupiah datang dari ekspektasi bahwa The Fed akan mulai melonggarkan kebijakan seiring melemahnya momentum ekonomi. "Investor telah beralih ke pandangan bahwa The Fed mungkin akan mulai melonggarkan kebijakan seiring melemahnya momentum ekonomi," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Di sisi domestik, penguatan Rupiah juga didukung oleh data Cadangan Devisa (Cadev) Indonesia yang meningkat pada akhir November 2025 menjadi USD150,1 miliar, naik dari USD149,9 miliar pada akhir Oktober 2025. Kenaikan Cadev ini bersumber antara lain dari penerimaan pajak dan jasa, serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. Ibrahim memprediksi bahwa pada perdagangan selanjutnya, Rupiah akan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.640 - Rp16.680 per dolar A
(nng)
Lihat Juga :