Harga CPO Diprediksi Terangkat pada 2026, Begini Penjelasannya
Kamis, 11 Desember 2025 - 11:24 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu Malaysia, produsen terbesar kedua, mencatat kenaikan produksi 4,2% menjadi 19 juta ton. Adit menyebut pertumbuhan tersebut tidak cukup untuk mengimbangi kontraksi di Indonesia.
Secara kumulatif, produksi global CPO mencapai 79 juta ton pada 2024, turun 3 persen secara tahunan. Tren perlambatan ini juga terlihat dari pertumbuhan rata-rata 3,2 persen dalam periode 2010–2024.
Di sisi permintaan, konsumsi domestik Indonesia diperkirakan meningkat seiring implementasi program biodiesel B50 pada 2026. Kebutuhan FAME diproyeksikan mencapai lebih dari 19 juta kiloliter atau setara 21–22 juta ton CPO.
"Peningkatan konsumsi CPO untuk kebutuhan biodiesel berpotensi menekan ketersediaan pasokan untuk ekspor global dan mendorong kenaikan harga CPO secara berlebihan, yang pada akhirnya dapat melemahkan daya saing Indonesia di pasar global," jelas Aditya.
Phintraco mencatat harga CPO dapat bergerak lebih tinggi apabila terjadi gangguan produksi akibat faktor cuaca. Proyeksi BMKG dan NOAA menunjukkan potensi pergeseran menuju kondisi La Niña pada akhir 2025 hingga awal 2026, sehingga curah hujan meningkat di sejumlah wilayah perkebunan.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi menekan aktivitas panen dan menghambat distribusi hasil, meskipun dampaknya masih bergantung pada intensitas curah hujan.
Secara kumulatif, produksi global CPO mencapai 79 juta ton pada 2024, turun 3 persen secara tahunan. Tren perlambatan ini juga terlihat dari pertumbuhan rata-rata 3,2 persen dalam periode 2010–2024.
Di sisi permintaan, konsumsi domestik Indonesia diperkirakan meningkat seiring implementasi program biodiesel B50 pada 2026. Kebutuhan FAME diproyeksikan mencapai lebih dari 19 juta kiloliter atau setara 21–22 juta ton CPO.
"Peningkatan konsumsi CPO untuk kebutuhan biodiesel berpotensi menekan ketersediaan pasokan untuk ekspor global dan mendorong kenaikan harga CPO secara berlebihan, yang pada akhirnya dapat melemahkan daya saing Indonesia di pasar global," jelas Aditya.
Phintraco mencatat harga CPO dapat bergerak lebih tinggi apabila terjadi gangguan produksi akibat faktor cuaca. Proyeksi BMKG dan NOAA menunjukkan potensi pergeseran menuju kondisi La Niña pada akhir 2025 hingga awal 2026, sehingga curah hujan meningkat di sejumlah wilayah perkebunan.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi menekan aktivitas panen dan menghambat distribusi hasil, meskipun dampaknya masih bergantung pada intensitas curah hujan.
Lihat Juga :