Pertamina Patra Niaga Regional JBB Raih Rekor Muri Berkat Program Tukar Jerami
Minggu, 14 Desember 2025 - 17:38 WIB
loading...
A
A
A
Fuel Terminal Manager Cikampek, Muhammad Andika Gunawan, menyatakan bahwa capaian ini menunjukkan komitmen Pertamina terhadap keberlanjutan.
"Program ini hadir untuk mengatasi persoalan lingkungan dengan mengolah jerami menjadi sumber daya bernilai bagi petani. Kini jerami menjadi simbol transformasi, dan rekor ini milik seluruh masyarakat Karawang," ujar Andika.
Sebelum Program Prakarsa Bagja Juara berjalan, jerami pascapanen di Desa Pasirtanjung umumnya dibakar karena tidak memiliki nilai ekonomi. Tercatat sekitar kurang lebih 200 ton jerami dibakar setiap musim panen, yang berdampak pada pencemaran udara, peningkatan emisi karbon, risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), serta penurunan kualitas tanah. Di sisi lain, petani dan masyarakat juga menghadapi keterbatasan akses air bersih akibat tingginya biaya sambungan air PAMSIMAS yang mencapai sekitar Rp500.000 per rumah tangga.
Melalui program ini, rata-rata 2–3 ton jerami per musim panen yang sebelumnya menjadi limbah akhirnya kini dikelola secara produktif. Setelah program berjalan, tercatat pengurangan limbah jerami sebesar 673,9 ton per tahun, serta kontribusi terhadap penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Jerami dimanfaatkan menjadi media tanam kumbung jamur, pupuk, dan media tanam pertanian, sekaligus memiliki nilai baru yang dapat ditukar menjadi saluran pipa air PAMSIMAS, air Reverse Osmosis (RO), serta sarana pertanian lainnya.
Baca Juga: Pertamina Kirim BBM ke Bener Meriah Gunakan Pesawat Air Tractor dari Kualanamu
Program ini juga menjawab persoalan keterbatasan air bersih di Desa Pasirtanjung, di mana sumber air yang tersedia cenderung mengandung kapur dan belum terdistribusi merata. Melalui skema tukar jerami, petani dan masyarakat kini memperoleh akses air bersih yang lebih layak dan berkelanjutan, sekaligus mendorong perubahan perilaku dan peningkatan kesadaran lingkungan.
"Program ini hadir untuk mengatasi persoalan lingkungan dengan mengolah jerami menjadi sumber daya bernilai bagi petani. Kini jerami menjadi simbol transformasi, dan rekor ini milik seluruh masyarakat Karawang," ujar Andika.
Sebelum Program Prakarsa Bagja Juara berjalan, jerami pascapanen di Desa Pasirtanjung umumnya dibakar karena tidak memiliki nilai ekonomi. Tercatat sekitar kurang lebih 200 ton jerami dibakar setiap musim panen, yang berdampak pada pencemaran udara, peningkatan emisi karbon, risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), serta penurunan kualitas tanah. Di sisi lain, petani dan masyarakat juga menghadapi keterbatasan akses air bersih akibat tingginya biaya sambungan air PAMSIMAS yang mencapai sekitar Rp500.000 per rumah tangga.
Melalui program ini, rata-rata 2–3 ton jerami per musim panen yang sebelumnya menjadi limbah akhirnya kini dikelola secara produktif. Setelah program berjalan, tercatat pengurangan limbah jerami sebesar 673,9 ton per tahun, serta kontribusi terhadap penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Jerami dimanfaatkan menjadi media tanam kumbung jamur, pupuk, dan media tanam pertanian, sekaligus memiliki nilai baru yang dapat ditukar menjadi saluran pipa air PAMSIMAS, air Reverse Osmosis (RO), serta sarana pertanian lainnya.
Baca Juga: Pertamina Kirim BBM ke Bener Meriah Gunakan Pesawat Air Tractor dari Kualanamu
Program ini juga menjawab persoalan keterbatasan air bersih di Desa Pasirtanjung, di mana sumber air yang tersedia cenderung mengandung kapur dan belum terdistribusi merata. Melalui skema tukar jerami, petani dan masyarakat kini memperoleh akses air bersih yang lebih layak dan berkelanjutan, sekaligus mendorong perubahan perilaku dan peningkatan kesadaran lingkungan.
Lihat Juga :