Mata Uang Rubel Mencatatkan Kenaikan Terkuat sejak 1994

Sabtu, 03 Januari 2026 - 19:02 WIB
loading...
A A A
Pemotongan suku bunga terbaru melanjutkan pergeseran dari pengetatan darurat yang terjadi setelah pembatasan, ketika suku bunga acuan melonjak dari 9,5% menjadi 20% untuk menstabilkan rubel. Setelah dilonggarkan dan kemudian diperketat kembali di tengah tekanan harga yang diperbarui, suku bunga mencapai puncaknya di 21% pada Oktober 2024 sebelum bank mulai melakukan pemotongan bertahap tahun 2025.

Baca Juga: Dedolarisasi Makin Gencar, Dominasi Rubel dalam Transaksi Dagang Rusia Tembus 50%

Dukungan terhadap mata uang rubel juga datang dari penjualan mata uang asing oleh Bank Rusia, yang mencerminkan pengelolaan Kementerian Keuangan terhadap yuan dan emas dari Dana Kekayaan Nasional untuk mengimbangi pendapatan energi yang hilang.

Pertumbuhan rubel tahun ini menempatkannya di antara lima aset global paling menguntungkan dalam hal pengembalian spot, setelah platinum, perak, palladium, dan emas.

Kurs resmi Rusia untuk dollar dan euro secara historis ditentukan oleh aktivitas perdagangan di Bursa Moskow. Namun, pada Juni 2024, perdagangan resmi berbasis bursa untuk mata uang ini dihentikan karena sanksi Barat yang menargetkan infrastruktur keuangan Rusia.

Sejak penghentian itu, Bank Rusia telah menetapkan kurs resmi rubel untuk dolar dan euro menggunakan data bank komersial. Metodologi bank sentral didasarkan pada hasil transaksi valuta asing antarbank over-the-counter.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
Italia Boncos, Bayar...
Italia Boncos, Bayar Rp500 Juta per Hari Cuma Buat Parkir Superyacht Sitaan Milik Miliarder Rusia
Warga India Gila Emas,...
Warga India 'Gila' Emas, Perusahaan Gadai Rusia Bidik Pasar Rp89.038 Triliun
Rupiah Semringah Sambut...
Rupiah Semringah Sambut Akhir Pekan, Menjauh dari Level Rp18 Ribu per Dolar AS
Rupiah Ditutup Menguat...
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.986 per Dolar AS, Apa Saja Penyebabnya?
Rupiah Belum Menjauh...
Rupiah Belum Menjauh dari Level Rp18.068 per USD, Intip 2 Sentimen Penyebabnya
AS Terlibat Langsung...
AS Terlibat Langsung dalam Serangan Drone Ukraina, Rusia: Washington Munafik!
Presiden Zelensky Pecat...
Presiden Zelensky Pecat Panglima Militer Ukraina, Rusia Untung Besar!
Zelensky Ditekan untuk...
Zelensky Ditekan untuk Pecat Jenderal Tertinggi Ukraina di Tengah Perang Melawan Rusia
Rekomendasi
Pimpin ASEAN Smart Cities,...
Pimpin ASEAN Smart Cities, Indonesia Paparkan Pengelolaan Sampah dari Hulu hingga Hilir
Cara Hapus Objek Mengganggu...
Cara Hapus Objek Mengganggu di Foto dengan Galaxy S26 Series
Koalisi Sipil Tolak...
Koalisi Sipil Tolak Pelibatan Babinsa dalam Pengawasan Pajak, Dinilai Ancam Supremasi Sipil
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved