Konflik Venezuela Tak Cukup Kuat Dongkrak Harga Minyak Dunia
Selasa, 06 Januari 2026 - 16:01 WIB
loading...
Konflik Venezuela dengan Amerika Serikat (AS) dinilai belum memiliki kekuatan yang cukup besar untuk mendorong kenaikan harga minyak dunia. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Konflik Venezuela dengan Amerika Serikat (AS) dinilai belum memiliki kekuatan yang cukup besar untuk mendorong kenaikan harga minyak dunia , baik dalam jangka pendek maupun menengah. Pengamat Energi sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menjelaskan, faktor utama penentu harga minyak global adalah keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Dalam konteks Venezuela, gangguan pasokan yang mungkin terjadi dinilai terlalu kecil dibandingkan kondisi pasar minyak global saat ini. Baca Juga: Dirjen Migas soal Imbas Kudeta AS ke Venezuela: Sumber Minyak Kita Bukan dari Sana!
"Produksi minyak Venezuela hanya sekitar 1 juta barel per hari, atau sekitar 1 persen dari produksi minyak dunia. Sementara itu, pasar minyak global masih mengalami surplus sekitar 3 juta barel per hari," ujarnya saat dihubungi MNC Portal, Selasa (6/1/2025).
Dengan kondisi tersebut, menurut Fabby, kalaupun nanti semisal konflik berujung pada pembatasan ekspor atau penurunan produksi minyak Venezuela, dampaknya terhadap harga minyak global akan sangat terbatas.
"Kalau pasokan turun 1 juta barel per hari tapi masih ada surplus 3 juta barel, secara teori harga tidak akan terdorong naik signifikan," jelasnya.
Baca Juga: Indonesia Monitor Dampak AS Serang Venezuela dan Penangkapan Maduro
Ia menambahkan, kenaikan harga minyak biasanya terjadi apabila gangguan pasokan berasal dari negara produsen besar dengan volume produksi yang dominan. Dalam kasus Venezuela, penurunan produksi tidak cukup besar untuk mengubah struktur pasar.
Fabby juga menilai sentimen risiko geopolitik memang bisa memicu volatilitas jangka pendek di pasar minyak. Namun, kenaikan harga akibat sentimen tersebut cenderung bersifat sementara dan akan kembali terkoreksi mengikuti fundamental pasar.
"Pasar minyak itu cepat merespons isu geopolitik, tapi selama fundamentalnya surplus, kenaikannya biasanya tidak bertahan lama," katanya.
Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, kondisi harga minyak yang relatif stabil atau cenderung rendah dinilai lebih menguntungkan. Namun demikian, Fabby mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap impor tetap menjadi risiko utama, sehingga strategi penguatan produksi dalam negeri dan pengendalian konsumsi BBM tetap harus menjadi prioritas pemerintah.
Dalam konteks Venezuela, gangguan pasokan yang mungkin terjadi dinilai terlalu kecil dibandingkan kondisi pasar minyak global saat ini. Baca Juga: Dirjen Migas soal Imbas Kudeta AS ke Venezuela: Sumber Minyak Kita Bukan dari Sana!
"Produksi minyak Venezuela hanya sekitar 1 juta barel per hari, atau sekitar 1 persen dari produksi minyak dunia. Sementara itu, pasar minyak global masih mengalami surplus sekitar 3 juta barel per hari," ujarnya saat dihubungi MNC Portal, Selasa (6/1/2025).
Dengan kondisi tersebut, menurut Fabby, kalaupun nanti semisal konflik berujung pada pembatasan ekspor atau penurunan produksi minyak Venezuela, dampaknya terhadap harga minyak global akan sangat terbatas.
"Kalau pasokan turun 1 juta barel per hari tapi masih ada surplus 3 juta barel, secara teori harga tidak akan terdorong naik signifikan," jelasnya.
Baca Juga: Indonesia Monitor Dampak AS Serang Venezuela dan Penangkapan Maduro
Ia menambahkan, kenaikan harga minyak biasanya terjadi apabila gangguan pasokan berasal dari negara produsen besar dengan volume produksi yang dominan. Dalam kasus Venezuela, penurunan produksi tidak cukup besar untuk mengubah struktur pasar.
Fabby juga menilai sentimen risiko geopolitik memang bisa memicu volatilitas jangka pendek di pasar minyak. Namun, kenaikan harga akibat sentimen tersebut cenderung bersifat sementara dan akan kembali terkoreksi mengikuti fundamental pasar.
"Pasar minyak itu cepat merespons isu geopolitik, tapi selama fundamentalnya surplus, kenaikannya biasanya tidak bertahan lama," katanya.
Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, kondisi harga minyak yang relatif stabil atau cenderung rendah dinilai lebih menguntungkan. Namun demikian, Fabby mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap impor tetap menjadi risiko utama, sehingga strategi penguatan produksi dalam negeri dan pengendalian konsumsi BBM tetap harus menjadi prioritas pemerintah.
(akr)
Lihat Juga :