Defisit APBN 2025 Melebar Tembus Rp695,1 Triliun, Dekati Batas 3% dari PDB
Kamis, 08 Januari 2026 - 15:33 WIB
loading...
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Konferensi Pers APBN KiTa edisi Januari 2026, di Jakarta, Kamis (8/1/2026). FOTO/Aldhi Chandra
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 melebar hingga Rp695,1 triliun atau setara 2,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Posisi tersebut meningkat dari rencana awal 2,53% dan mendekati ambang batas defisit 3%.
Purbaya menjelaskan pelebaran defisit ditempuh sebagai langkah stimulus untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global dan domestik yang masih tinggi. Pemerintah, menurut dia, memilih kebijakan fiskal yang lebih ekspansif guna menopang aktivitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
"Defisitnya memang naik ke 2,92% dari rencana awal 2,53%. Ini dilakukan dengan misi menjaga ekonomi tetap bisa berekspansi di tengah tekanan global yang tinggi," kata Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTa edisi Januari 2026, Kamis (8/1/2026).
Baca Juga: Defisit APBN Membengkak, Purbaya Jamin Tak Langgar Batas UU
Ia menegaskan kebijakan tersebut merupakan strategi counter-cyclical. Pemerintah sebenarnya dapat menekan defisit dengan memangkas belanja, namun langkah itu berisiko mengorbankan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah, lanjutnya, tetap berkomitmen menjaga defisit berada di bawah batas 3%.
Dari sisi pendapatan, realisasi penerimaan negara pada 2025 tercatat Rp2.756,3 triliun atau 91,7% dari target APBN. Capaian ini dipengaruhi oleh penerimaan perpajakan yang belum optimal seiring perlambatan ekonomi, dengan realisasi pajak sebesar Rp1.917,6 triliun atau 87,6% dari target.
Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp300,3 triliun atau 99,6% dari target, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp534,1 triliun atau 104,0% dari target, serta hibah Rp4,3 triliun atau 733,3% dari target.
Di sisi belanja, realisasi belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3% dari pagu. Belanja Pemerintah Pusat tercatat Rp2.602,3 triliun atau 96,3% dari target, dengan belanja kementerian/lembaga (K/L) mencapai Rp1.500,4 triliun atau 129,3%, sedangkan belanja non-K/L Rp1.102,0 triliun atau 71,5%.
Baca Juga: IHSG Tembus Rekor Tertinggi Baru 9.000, Purbaya Sebut Baru Awal
Adapun transfer ke daerah terealisasi sebesar Rp849,0 triliun atau 92,3% dari target. Secara keseluruhan, selisih antara pendapatan dan belanja tersebut mendorong defisit anggaran melebar menjadi Rp695,1 triliun.
Purbaya optimistis fondasi ekonomi yang dijaga melalui stimulus fiskal sepanjang 2025 akan memperkuat momentum pertumbuhan pada 2026. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 5,4% dan berupaya menekan defisit ke level yang lebih rendah seiring membaiknya penerimaan negara.
Purbaya menjelaskan pelebaran defisit ditempuh sebagai langkah stimulus untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global dan domestik yang masih tinggi. Pemerintah, menurut dia, memilih kebijakan fiskal yang lebih ekspansif guna menopang aktivitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
"Defisitnya memang naik ke 2,92% dari rencana awal 2,53%. Ini dilakukan dengan misi menjaga ekonomi tetap bisa berekspansi di tengah tekanan global yang tinggi," kata Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTa edisi Januari 2026, Kamis (8/1/2026).
Baca Juga: Defisit APBN Membengkak, Purbaya Jamin Tak Langgar Batas UU
Ia menegaskan kebijakan tersebut merupakan strategi counter-cyclical. Pemerintah sebenarnya dapat menekan defisit dengan memangkas belanja, namun langkah itu berisiko mengorbankan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah, lanjutnya, tetap berkomitmen menjaga defisit berada di bawah batas 3%.
Dari sisi pendapatan, realisasi penerimaan negara pada 2025 tercatat Rp2.756,3 triliun atau 91,7% dari target APBN. Capaian ini dipengaruhi oleh penerimaan perpajakan yang belum optimal seiring perlambatan ekonomi, dengan realisasi pajak sebesar Rp1.917,6 triliun atau 87,6% dari target.
Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp300,3 triliun atau 99,6% dari target, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp534,1 triliun atau 104,0% dari target, serta hibah Rp4,3 triliun atau 733,3% dari target.
Di sisi belanja, realisasi belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3% dari pagu. Belanja Pemerintah Pusat tercatat Rp2.602,3 triliun atau 96,3% dari target, dengan belanja kementerian/lembaga (K/L) mencapai Rp1.500,4 triliun atau 129,3%, sedangkan belanja non-K/L Rp1.102,0 triliun atau 71,5%.
Baca Juga: IHSG Tembus Rekor Tertinggi Baru 9.000, Purbaya Sebut Baru Awal
Adapun transfer ke daerah terealisasi sebesar Rp849,0 triliun atau 92,3% dari target. Secara keseluruhan, selisih antara pendapatan dan belanja tersebut mendorong defisit anggaran melebar menjadi Rp695,1 triliun.
Purbaya optimistis fondasi ekonomi yang dijaga melalui stimulus fiskal sepanjang 2025 akan memperkuat momentum pertumbuhan pada 2026. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 5,4% dan berupaya menekan defisit ke level yang lebih rendah seiring membaiknya penerimaan negara.
(nng)
Lihat Juga :