Rupiah Ambruk tapi IHSG dan Emas Cetak Rekor, Ada Apa?
Selasa, 20 Januari 2026 - 20:45 WIB
loading...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah dan nyaris menembus level psikologis Rp17.000 pada perdagangan Selasa (20/1/2026). FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah dan nyaris menembus level psikologis Rp17.000 pada perdagangan Selasa (20/1/2026). Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menguat dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, diikuti lonjakan harga emas Antam.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat tertekan hingga Rp16.985 per dolar AS pada pagi hari sebelum ditutup melemah di level Rp16.956 per dolar AS pada sesi sore. Mengacu pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah tercatat di posisi Rp16.981, melemah 46 poin dari perdagangan sebelumnya dan menjadi level terendah sepanjang sejarah. "Jadi untuk spekulan, jangan ambil posisi yang terlalu panjang," ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kementerian Keuangan, menanggapi pelemahan rupiah.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Ambruk ke Rp16.956 per Dolar AS, Terburuk sejak 1998
Ia menilai nilai tukar rupiah saat ini sudah jauh dari fundamentalnya atau berada dalam kondisi undervalued dan meyakini penguatan akan terjadi seiring perbaikan ekonomi domestik. Sementara, Analis ekonomi dan pasar keuangan Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor internal dan eksternal. Dari dalam negeri, kekhawatiran pasar meningkat setelah defisit APBN tahun lalu mendekati batas legal 3 persen, sehingga memicu kehati-hatian investor terhadap kondisi fiskal.
Dari eksternal, sentimen global dibayangi ancaman tarif baru oleh Presiden AS Donald Trump. Rencana pengenaan tarif 10 persen mulai 1 Februari terhadap delapan negara Eropa, termasuk Jerman, Prancis, dan Inggris, dinilai menambah tekanan, dengan potensi kenaikan tarif hingga 25 persen pada pertengahan tahun jika negosiasi gagal.
Di tengah tekanan pada rupiah, IHSG justru menunjukkan kinerja berlawanan arah dengan menembus rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) secara intraday di level 9.174. Pada penutupan sesi pertama, IHSG menguat 0,24 persen ke posisi 9.155,41 dengan nilai transaksi mencapai Rp15,91 triliun.
Baca Juga: Ringgit Mata Uang Paling Kuat di Asia, Rupiah 3 Terlemah
Sejalan dengan itu, harga emas Antam turut mencetak rekor baru di level Rp2.705.000 per gram, naik Rp2.000 dibandingkan hari sebelumnya. Harga buyback emas juga meningkat menjadi Rp2.546.000 per gram, didorong meningkatnya minat terhadap aset lindung nilai di tengah ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif AS.
Pelaku pasar kini menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 20–21 Januari 2026. Sejumlah analis memperkirakan bank sentral akan menahan suku bunga acuan di level 4,75 persen sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang masih tinggi.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat tertekan hingga Rp16.985 per dolar AS pada pagi hari sebelum ditutup melemah di level Rp16.956 per dolar AS pada sesi sore. Mengacu pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah tercatat di posisi Rp16.981, melemah 46 poin dari perdagangan sebelumnya dan menjadi level terendah sepanjang sejarah. "Jadi untuk spekulan, jangan ambil posisi yang terlalu panjang," ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kementerian Keuangan, menanggapi pelemahan rupiah.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Ambruk ke Rp16.956 per Dolar AS, Terburuk sejak 1998
Ia menilai nilai tukar rupiah saat ini sudah jauh dari fundamentalnya atau berada dalam kondisi undervalued dan meyakini penguatan akan terjadi seiring perbaikan ekonomi domestik. Sementara, Analis ekonomi dan pasar keuangan Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor internal dan eksternal. Dari dalam negeri, kekhawatiran pasar meningkat setelah defisit APBN tahun lalu mendekati batas legal 3 persen, sehingga memicu kehati-hatian investor terhadap kondisi fiskal.
Dari eksternal, sentimen global dibayangi ancaman tarif baru oleh Presiden AS Donald Trump. Rencana pengenaan tarif 10 persen mulai 1 Februari terhadap delapan negara Eropa, termasuk Jerman, Prancis, dan Inggris, dinilai menambah tekanan, dengan potensi kenaikan tarif hingga 25 persen pada pertengahan tahun jika negosiasi gagal.
Di tengah tekanan pada rupiah, IHSG justru menunjukkan kinerja berlawanan arah dengan menembus rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) secara intraday di level 9.174. Pada penutupan sesi pertama, IHSG menguat 0,24 persen ke posisi 9.155,41 dengan nilai transaksi mencapai Rp15,91 triliun.
Baca Juga: Ringgit Mata Uang Paling Kuat di Asia, Rupiah 3 Terlemah
Sejalan dengan itu, harga emas Antam turut mencetak rekor baru di level Rp2.705.000 per gram, naik Rp2.000 dibandingkan hari sebelumnya. Harga buyback emas juga meningkat menjadi Rp2.546.000 per gram, didorong meningkatnya minat terhadap aset lindung nilai di tengah ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif AS.
Pelaku pasar kini menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 20–21 Januari 2026. Sejumlah analis memperkirakan bank sentral akan menahan suku bunga acuan di level 4,75 persen sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang masih tinggi.
(nng)
Lihat Juga :