Tarif AS ke Mitra Dagang Iran Rusak Perdagangan Global, India dan China Berang

Selasa, 20 Januari 2026 - 22:01 WIB
loading...
Tarif AS ke Mitra Dagang...
Seorang pria memegang bendera India dan AS saat orang-orang ikut serta dalam Parade Hari India di New York. FOTO/Reuters
A A A
JAKARTA - India mengecam keras kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang mengenakan tarif 25% pada negara-negara yang berbisnis dengan Iran. Kebijakan yang diumumkan pada 12 Januari 2026 ini dinilai sebagai langkah unilateral yang memperkeruh iklim perdagangan global.

Meski pengumuman Trump melalui platform Truth Social dinyatakan "final dan berlaku segera", pedoman pelaksanaannya belum dirilis oleh Gedung Putih. Kondisi ini menimbulkan kebingungan di kalangan pelaku usaha, termasuk karena belum adanya instruksi penegakan dari Bea Cukai AS terkait definisi operasional "berbisnis dengan Iran".

"Ini adalah penargetan selektif yang tidak adil dan tidak beralasan," ujar Menteri Luar Negeri India, S. Jaishankar dikutip dari Times Of India, Selasa (20/1/2026).

Baca Juga: Trump Ancam Tarif 25% ke Negara Mitra Iran, China Murka Beri Peringatan Keras

Dia secara tegas menolak kebijakan tersebut. Protes resmi disampaikan Jaishankar saat pertemuan dengan Wakil Perdana Menteri Polandia, Radosław Sikorski, di Warsaw, Senin (19/1).



Jaishankar mengeluhkan bahwa India telah terkena tarif 50% dari AS akibat pembelian minyak dari Rusia. Pemberlakuan tarif tambahan terkait Iran, menurutnya, hanya akan semakin memberatkan beban ekspor India. The Print melaporkan, kekhawatiran India tidak hanya pada tarif, tetapi juga tekanan Barat terkait pembelian energi. Penolakan juga datang dari China, yang merupakan pembeli 90% minyak Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menegaskan sikap negaranya. "Perang tarif tidak ada pemenang." Sementara itu, respons dari negara-negara target lainnya, seperti Turki dan Uni Emirat Arab (UEA), masih dinantikan.

Merusak Rantai Pasok Global

Kebijakan Trump ini diprediksi akan merusak rantai pasok global, khususnya di sektor manufaktur. Negara-negara target seperti China, India, Turki, dan UEA memiliki industri otomotif bernilai ratusan miliar dolar AS, yang tetap menjalin perdagangan dengan Iran.

Baca Juga: Murka Soal Greenland, Pejabat NATO Tolak Berbagi Intelijen dengan AS

Menteri Perdagangan UEA, Thani Al Zeyoudi, mengingatkan tarif ini berpotensi mengganggu pasokan pangan. Turki, yang memiliki nilai perdagangan dengan Iran mencapai USD5,7 miliar per tahun, hingga kini belum memberikan pernyataan resmi.

Di dalam negeri AS, kebijakan Trump ini sedang diuji konstitusionalitasnya di Mahkamah Agung berdasarkan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA). Jika dibatalkan, AS berpotensi mengalami kerugian hingga US$130 miliar berupa pengembalian tarif.

Merespons ancaman ini, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan kesiapan negaranya jika AS melakukan konfrontasi, namun tetap mengharapkan jalan dialog. Para ekonom mengkritik kebijakan tarif Trump yang dianggap "berubah-ubah harian", menyulitkan perusahaan dalam merencanakan produksi jangka panjang.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Keok Sentuh Rp18.080...
Rupiah Keok Sentuh Rp18.080 per Dolar AS, Catat Kinerja Terburuk di Asia
Selama Perang dengan...
Selama Perang dengan AS, Penjualan Minyak Iran Tembus Rp323 Triliun
Musk Peringatkan Bahaya...
Musk Peringatkan Bahaya Utang AS, Pajak Miliarder Tak Akan Cukup Hapus Defisit
Ini Daftar Lengkap 60...
Ini Daftar Lengkap 60 Negara Terdampak Tarif Baru AS: Indonesia Kena 10%, Siapa Digetok 12,5%?
Trump Getok Tarif Impor...
Trump Getok Tarif Impor Baru ke 60 Negara, Sekutu di Asia Protes Keras
Pasokan Minyak Global...
Pasokan Minyak Global Semakin Ketat, India dan China Berebut Diskon dari Rusia
Mertua Tak Tahu Kondisi...
Mertua Tak Tahu Kondisi Mojtaba Khamenei: Dia Tak Berkomunikasi dengan Orang Mana Pun
Dramatis, FSB Tangkap...
Dramatis, FSB Tangkap Pria Rusia atas Tuduhan Jadi Mata-mata Five Eyes
10 Stasiun Kereta Bawah...
10 Stasiun Kereta Bawah Tanah Terdalam di Dunia, Apa Dibangun untuk Perlindungan saat Perang Nuklir?
Rekomendasi
Penegasan sebagai Negara...
Penegasan sebagai Negara Yahudi, Bahasa Arab Dilarang Digunakan Warga Palestina di Israel
Akankah Strategi Houthi...
Akankah Strategi Houthi Meniru Kendali Iran atas Selat Hormuz di Laut Merah Bisa Berhasil?
Omoda O4 Punya 10 Otak...
Omoda O4 Punya 10 Otak AI Sekaligus, Indonesia Jadi Negara Pertama di Dunia
Berita Terkini
Tingkatkan Produktivitas...
Tingkatkan Produktivitas Petani, Mahindra-RMA Indonesia Luncurkan Mahindra OJA 3140
BBT Perkuat Ekosistem...
BBT Perkuat Ekosistem Industri Batam lewat Ekspansi Fiber dan 5G
Rupiah Keok Sentuh Rp18.080...
Rupiah Keok Sentuh Rp18.080 per Dolar AS, Catat Kinerja Terburuk di Asia
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp9.000, Kini Dibanderol Rp2,61 Juta per Gram
Rupiah Hari Ini Dibuka...
Rupiah Hari Ini Dibuka Melemah ke Rp18.068, Tersengat Kabar Independensi BI
OSL Indonesia Bidik...
OSL Indonesia Bidik Antusiasme Investor Melalui Kompetisi Trading
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved