Dolar AS Terbebani Senjata Ekonomi Trump, Rupiah Membaik di Rp16.722/USD

Rabu, 28 Januari 2026 - 18:36 WIB
loading...
Dolar AS Terbebani Senjata...
Retorika perdagangan agresif Trump dan penggunaan tarif berulang sebagai senjata ekonomi membebani Dolar AS (USD). Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (28/1/2026) dengan kenaikan 46 poin atau sekitar 0,27% ke level Rp16.722 per USD. Penguatan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu ketegangan perdagangan tetap menjadi perhatian utama, dengan agenda tarif Presiden AS Donald Trump sekali lagi mengganggu pasar.

Pengamat pasar uang , Ibrahim Assuaibi mengatakan, retorika perdagangan agresif Trump dan penggunaan tarif berulang sebagai senjata ekonomi membebani Dolar AS (USD). Baca Juga: IMF Panik, Dolar AS Terancam Kolaps

"Eskalasi perang dagang, yang sekarang terjadi antara AS dan Korea Selatan, meluas ke pasar keuangan. Ancaman Presiden AS Donald Trump untuk memberlakukan tarif 25% pada barang-barang dari Seoul mendorong nilai tukar Dolar AS melemah," tulis Ibrahim dalam risetnya.

Di saat yang sama, kekhawatiran akan penutupan pemerintahan AS lainnya semakin meningkat, dengan para anggota parlemen menghadapi tenggat waktu pendanaan pada 30 Januari. Dengan latar belakang ini, logam mulia terus menarik aliran safe haven.



Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa ia hampir menunjuk pilihannya untuk ketua Fed berikutnya setelah Jerome Powell, dan bahwa suku bunga akan turun dengan kepemimpinan baru di bank sentral. Perselisihan Trump dengan Fed juga memberikan dukungan kepada emas, terutama karena investor khawatir tentang independensi bank sentral di tengah tekanan politik yang terus berlanjut.

Di sisi geopolitik, Ketegangan AS-Iran muncul kembali setelah laporan bahwa kapal induk Angkatan Laut AS USS Abraham Lincoln dan kapal perang yang menyertainya telah tiba di Timur Tengah, memicu kekhawatiran tentang kemungkinan peningkatan ketegangan dengan Iran. Pejabat Iran telah memperingatkan akan adanya pembalasan jika AS mengambil tindakan militer.

Baca Juga: Rupiah Balik Pukul Dolar AS, Hari Ini Sentuh Rp16.782

Fokus pasar hari ini adalah keputusan suku bunga Federal Reserve (Fed) yang akan diumumkan pada Kamis dini hari pukul 02.00 WIB. Pasar sepenuhnya telah memperkirakan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada kisaran 3,50-3,75 persen pada pertemuannya bulan Januari ini.

Perhatian selanjutnya akan beralih ke konferensi pers Ketua Jerome Powell pasca-pertemuan pada pukul 02.30 WIB untuk panduan baru tentang jalur kebijakan moneter, dengan para pedagang saat ini memperkirakan sekitar dua kali pemotongan suku bunga hingga akhir tahun ini.

Dari sentimen domestik, pasar merespon positif terhadap kebijakan Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan, empat program stimulus tahun 2025 akan dilanjutkan pada tahun 2026, yang meliputi PPh Final 0,5% bagi UMKM hingga tahun 2029, PPh 21 DTP (Ditanggung Pemerintah) untuk pekerja sektor pariwisata, PPh 21 DTP untuk pekerja industri padat karya dan Diskon iuran JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja) dan JKM (Jaminan Kematian) bagi peserta Bukan Penerima Upah (BPU).

Di tengah tekanan harga komoditas dan gejolak global, Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) menjalankan peran strategis sebagai peredam guncangan (shock absorber). Sepanjang tahun 2025, realisasi belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun (95,3% dari APBN), sementara pendapatan negara tercatat sebesar Rp2.756,3 triliun (91,7% dari APBN).

Defisit anggaran hingga akhir 2025 tercatat sebesar Rp695,1 triliun atau 2,92 persen terhadap PDB. Dana tersebut dialokasikan untuk program pembangunan nasional yang berdampak langsung ke masyarakat. Realisasi belanja negara di antaranya untuk pelaksanaan program pembangunan nasional seperti Makanan Bergizi Gratis (MBG), pembinaan program Koperasi Desa (KUD), paket stimulus 1 sampai dengan 4 selama tahun 2025 yang bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat dan dunia usaha.

Pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencatatkan perbaikan kinerja dengan penurunan yield SBN 10 tahun ke level 6,41%. Angka ini turun signifikan dibandingkan posisi akhir tahun 2024 yang sempat berada di atas 7%, mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap tata kelola fiskal Indonesia.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp16.670 - Rp16.730 per dolar AS.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Rupiah Menguat dalam...
Rupiah Menguat dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
Bank Dunia Beri Peringatan...
Bank Dunia Beri Peringatan Keras usai Rupiah Terpuruk ke Rp18.000
Rupiah Bergejolak, Saatnya...
Rupiah Bergejolak, Saatnya Lirik Aset Global?
Rupiah Hari Ini Ditutup...
Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat, Kurs Dolar AS Kini di Rp17.860
Aliran Modal Asing Mulai...
Aliran Modal Asing Mulai Masuk, Rupiah Membaik Tinggalkan Rp18.000 per Dolar AS
Rupiah dan IHSG Menguat,...
Rupiah dan IHSG Menguat, SBY: Ada Good News untuk Kita Semua
Gapasdap Dorong Pemerintah...
Gapasdap Dorong Pemerintah Perhatikan Nasib Angkutan Pelayaran Imbas Kenaikan Dolar AS
Istana Terima Tuntutan...
Istana Terima Tuntutan BEM SI Jateng Soal Kuatkan Rupiah, tapi...
Rekomendasi
Pejuang Hizbullah Sergap...
Pejuang Hizbullah Sergap Pasukan Israel di Lebanon
Digitalisasi Data, Penerima...
Digitalisasi Data, Penerima Bansos Diverifikasi lewat Pengenalan Wajah
Ratusan Kepsek di Sulsel...
Ratusan Kepsek di Sulsel Mundur Buntut Temuan BPK Terkait Dana BOS, DPR Dorong Evaluasi
Berita Terkini
Mengulik Alasan di Balik...
Mengulik Alasan di Balik Kenaikan Harga Pertamax: Demi Jaga Investor dan Keuangan
Tren Paylater Makin...
Tren Paylater Makin Menjangkit, Literasi Keuangan Dinilai Jadi Faktor Penting
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Bocoran Isi Kesepakatan...
Bocoran Isi Kesepakatan AS-Iran: Barter Minyak, Aset Triliunan, hingga Senjata Nuklir
Pendaftaran Program...
Pendaftaran Program Magang ke Jepang Dibuka Kemnaker, Begini Caranya
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Infografis
Iran Paksa AS Terima...
Iran Paksa AS Terima Kekalahan setelah 40 Hari Berperang, Ini 10 Poin Gencatan Senjata
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved