AS-Iran di Ambang Perang, Harga Minyak Mentah Sentuh Level Tertinggi 4 Bulan
Kamis, 29 Januari 2026 - 21:57 WIB
loading...
A
A
A
Beberapa analis memprediksi harga minyak mentah bakal naik seiring kekhawatiran terkait Iran. "Potensi serangan ke Iran telah meningkatkan premi geopolitik harga minyak dengan kemungkinan sebesar USD3 hingga USD4 (per barel)," kata analis Citi dalam sebuah catatan pada Rabu.
Ditambahkan juga bahwa eskalasi geopolitik lebih lanjut dapat mendorong harga hingga setinggi USD72 per barel untuk Brent dalam tiga bulan ke depan. Di tempat lain, ladang minyak besar Tengiz di Kazakhstan sedang dimulai kembali secara bertahap setelah kebakaran listrik memotong produksi minggu lalu, dengan target mencapai produksi penuh dalam satu minggu.
Selanjutnya di AS, produsen minyak terbesar di dunia dan eksportir gas alam cair terbesar, produsen minyak dan gas sedang menghidupkan kembali sumur setelah terhentinya produksi akibat Badai Musim Dingin Fern selama akhir pekan.
"Gangguan di Kazakhstan (terminal CPC, force majeure di ladang Tengiz) telah mengurangi jumlah barel yang cukup signifikan dari pasar, ditambah cuaca dingin di AS yang mengganggu produksi minyak mentah AS -meskipun sifatnya sementara- dan tiba-tiba pasar minyak menjadi jauh lebih ketat dari yang diperkirakan," kata analis UBS, Giovanni Staunovo.
Ditambahkan juga bahwa eskalasi geopolitik lebih lanjut dapat mendorong harga hingga setinggi USD72 per barel untuk Brent dalam tiga bulan ke depan. Di tempat lain, ladang minyak besar Tengiz di Kazakhstan sedang dimulai kembali secara bertahap setelah kebakaran listrik memotong produksi minggu lalu, dengan target mencapai produksi penuh dalam satu minggu.
Selanjutnya di AS, produsen minyak terbesar di dunia dan eksportir gas alam cair terbesar, produsen minyak dan gas sedang menghidupkan kembali sumur setelah terhentinya produksi akibat Badai Musim Dingin Fern selama akhir pekan.
"Gangguan di Kazakhstan (terminal CPC, force majeure di ladang Tengiz) telah mengurangi jumlah barel yang cukup signifikan dari pasar, ditambah cuaca dingin di AS yang mengganggu produksi minyak mentah AS -meskipun sifatnya sementara- dan tiba-tiba pasar minyak menjadi jauh lebih ketat dari yang diperkirakan," kata analis UBS, Giovanni Staunovo.
(akr)
Lihat Juga :